NERAKA, SUARA BERSAMA UNTUK KORBAN KEKERASAN SEKSUAL

Novel ini dibangun dari antologi puisi dengan judul dari penulis yang sama. 

Bercerita tentang korban kekerasan seksual yang menganggap apa yang menimpa pada dirinya bagai neraka.

Kisah Lasmi memotret realita kasus pemerkosaan yang menunjukkan begitu kuatnya relasi kuasa antara pelaku dengan korban. 

Pada mayoritas kasus kekerasan seksual, para monster selalu punya kuasa entah uang atau pengaruh yang membuat dirinya untouchable , imun terhadap apapun. 

Sedikit banyak, ini membuat korban takut untuk bersuara dan membela diri.

Ditambah dengan masyarakat yang abai pada korban dan malah cenderung membela pelaku juga menyalahkan korban.

"Pantas aja diperkosa, kan pakaiannya selalu terbuka"

"Nggak bisa jaga sikap sih"

Dan masih banyak lagi ujaran-ujaran yang cenderung menyalahkan korban.

Victim blaming juga menjadi faktor bagi para korban tidak mampu bangkit melawan. 

Ada sikap warga sekitar yang karena dekat secara teritori lalu merasa berhak mengadili korban sehingga pantas mendapat neraka itu. 

Tapi jarang ada masyarakat yang justru menyalahkan pelaku.

Diakui atau tidak, kenyataannya budaya patriarki yang kuat turut menjadi faktor pendukung diabaikannya hak-hak korban. 

Masyarakat yang memandang laki-laki sebagai sosok superior malah bersikap permisif terhadap pelaku dan justru menyalahkan korban.

Tidak semua orang mampu dan mau memahami trauma luar biasa yang dialami korban. 

Ups and downs , marah, menutup diri, kesal, jijik dengan diri sendiri, tidak mampu berpikir jernih, dan banyak lagi, membuat korban menjadi pribadi yang dianggap aneh lagi mengesalkan. 

Masyarakat menjadi semacam punya pembenaran untuk tak perlu berkomunikasi dengan korban apalagi menolong. 

Menghidupi diri sendiri saja sulit, lalu ngapain pula nolong orang ruwet? 

Barangkali itu pemikiran masyarakat yang pragmatis & bersikap masa bodo. 

Padahal kekerasan seksual bisa menimpa siapapun baik perempuan maupun laki-laki, juga tidak kenal usia.

Tak hanya merekam sikap masyarakat, novel ini juga menunjukkan bagaimana sistem hukum malah tidak berpihak pada korban. 

Aparat hukum yang culas, tentu akan bekerja dan menurut pada bohir. 

Siapa yang memodali, pastinya akan mendapat layanan VIP. 

Bukannya menangkap pelaku, malahan mendukung si iblis mengkriminalisasi korban dengan tuduhan yang dibuat-buat atau memelintir keadaan dengan permufakatan yang dirancang bersama.

Selain tema utama kekerasan seksual, kasus perburuhan dengan campur tangan aparat hukum yang kotor, menjadi side bar story yang turut membangun nestapa yang dialami Lasmi. 

Tapi tenang saja, kisah Lasmi ini cuma fiktif kok. Tidak terjadi di Indonesia.

Anda perlu berhati-hati sebelum memutuskan untuk membaca materi ini. 

Ada peringatan trigger warning pada sampul depan, yang menunjukkan tersuratnya adegan kekerasan, dan perlakuan keji dari pelaku kepada korban yang bisa membuat Anda terpicu untuk kembali trauma. 

Meski begitu, penulis tentu tidak serta merta menceritakan detil perlakuan itu.

Novel ini semoga bisa menjadi suara bersama bagi kita untuk berhenti menyalahkan korban.

#RilisPers
#Foto dokumentasi 

Tidak ada komentar