BARATA, PDI PERJUANGAN DAN BANTENG DALAM KEHIDUPAN SAYA


Entah mengapa, peluncuran maskot Barata, dalam perayaan Ulang Tahun PDI Perjuangan di Ancol, Jakarta, 10 Januari ini melempar ingatan saya dalam Konggres PDI Perjuangan di Bali tahun 1998 lampau.

Saya beruntung, sebagai wartawan muda, saya diberi kesempatan untuk datang ke Bali, dan menjadi saksi sejarah itu.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDI Perjuangan adalah satu-satunya partai politik yang cukup sering berinteraksi dengan kehidupan saya.

Tidak cukup intim, tapi partai itu ada dalam sejarah penting hidup saya.

PDI DAN BAKORTANASDA

Tahun 1996. Dalam kenangan 23 Tahun Penculikanku yang saya tulis di Iddaily.net, saya kenal salah satu aktivis PDI (saat itu belum ada kata "perjuangan" di belakangnya).

Ketika saya ditangkap aparat Badan Koordinasi Ketahanan Nasional Daerah Surabaya atau Bakortanasda Jawa Timur, saya mengenal kawan muda bertubuh cungkring ini.

Bersamanya, saya dimasukkan ke satu sel, dalam keadaan bugil. Kami tidur dengan saling membelakangi.

11 hari kemudian, ketika saya dibebaskan, kawan ini pun bebas di hari yang sama.

SOAL KONGGRES BALI 1998

Meneruskan cita-cita saya sebagai wartawan, di awal-awal kuliah jurusan jurnalistik di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Massa Almamater Wartawan Surabaya- STIKOSA-AWS, meneguhkan semangat mendaftar ke tabloid Kompetitor, Surabaya.

Almarhum Djoko Su'ud Sukahar, menjadi salah satu orang yang saya dengar nasehatnya, soal bagaimana nulis dengan bercerita.

Para senior lain, seperti mas Oki Lukito, mas Reza Topani, mas Widi Kamidi,  mas S Jai dan lain-lain, menjadi teman diskusi tentang banyak hal.

Termasuk memahami isu-isu politik di Indonesia, yang terjadi, hanya berselang bulan Presiden Soeharto berhenti dari jabatannya, karena desakan reformasi.

Dan puncaknya, saya ditugaskan meliput Kongres PDI Perjuangan pertama di Denpasar, Bali, bersama Mas Heru. 

Ketika itu saya tidak menyadari, momentum Konggres Bali ini akan menjadi dasar terbentuknya partai politik besar di Indonesia.

Saya datang, bertemu dengan tokoh-tokoh nasional, melakukan wawancara, dan melihat Megawati Soekarnoputri memukul gong tanda pembukaan konggres di lapangan Kapten Japa Padanggalak, Denpasar. 

Bali benar-benar memerah, ketika itu.

Tapi yang paling unik dari semuanya, ketika meliput di Bali, ternyata Tabloid Kompetitor, tempat saya bekerja, sedang berproses berubah menjadi Tabloid Oposisi, grup Jawa Pos.

Dan saya tidak tahu.

Pulang-pulang, liputan PDI Perjuangan di Bali, dimuat di media, yang sudah berubah nama.

Hahaha,..

LOGO BARATA

Lalu, muncullah Barata, maskot PDI Perjuangan.

Tentu saya tidak bisa menilai maskot ini dari sudut pandang seni grafis. Tapi bagi saya, ini fresh dan kekinian.

Pemilihan penggunaan sweater hoodie semacam simbol, PDI Perjuangan ingin, dan selalu ada di antara anak-anak muda.

Barata juga tidak mengusung lambang kedaerahan, yang sering dilekatkan pada partai ini.

Dalam poin ini, PDI Perjuangan terkesan lebih maju, dalam memaknai kenusantaraan.

Berbeda dengan maskot partai Gerindra, Mas Garuda. Sayap pewayangan masih ada di sana. 

Apakah Barata akan memunculkan efek positif bagi PDI Perjuangan? Kita tunggu saja.

#Iman D. Nugroho
#Foto-foto dokumentasi

Tidak ada komentar