SEPASANG LINGGA YONI, UJUNG PANGKAL KEDATUAN SRIWIJAYA


Buku "Lingga Yoni Sriwijaya" karya Wenri Wanhar yang baru rilis pada Februari 2026 menawarkan sudut pandang lain  dalam melihat keagungan sejarah Sriwijaya. 

‎‎Jika selama ini Sriwijaya dipandang sebagai sebuah kerajaan, berdasarkan pada apa yang tertulis di prasasti batu bersurat, menurut Wenri, Sriwijaya adalah Kedatuan. 

‎‎"Kedatuan berasal dari kata Datu. Ini sanskrit. Da artinya yang mulia. Tu artinya orang. Datu ialah orang yang mulia. Dalam sloka adat dibunyikan begini: Datu ialah orang yang beralam luas berpadang lebar. Pergi tempat bertanya, pulang tempat berberita. Laksana batang kayu gedang di tengah padang. Akarnya tempat bersila, batangnya tempat bersandar, daunnya yang rimbun tempat berteduh, buahnya untuk dipetik. Datu, bila dikonversi pada kesadaran hari ini semacam gelar akademik setara doktor, profesor. Ilmuwan lah kira-kira," papar Wenri. 

‎‎Dalam buku ini, Wenri menyampaikan, para pendiri Kedatuan Sriwijaya tahu benar bahwa isi dunia ini hanya tiga: yang berpucuk, yang bertelur, yang di dalam rahim bakal menjadi anak. (hal. 5)

‎‎Ketiga-tiganya diseloka-kan pada batu-batu Prasasti Sriwijaya. 

‎‎Yang bentuknya serupa telur kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta dengan nomor inventaris D. 146. 

Ia dinamai Prasasti Kedukan Bukit karena ditemukan (lagi) di daerah Kedukan Bukit,  Palembang. 

‎‎Yang berpucuk bentuknya serupa Lingga. 

Dikoleksi Museum Nasional dengan nomor inventaris D.90. 

Diberi nama Prasasti Kota Kapur karena ditemukan di daerah Kota Kapur, Pulau Bangka. 

‎‎Perlambang yang di dalam rahim bakal menjadi anak bentuknya serupa Yoni. 

Dinamai Prasasti Karang Brahi karena ditemukan di daerah Karang Brahi. 

Ia masih berada di kampung tempatnya ditemukan lagi, tempo hari. 

‎‎Perlu diketahui, Prasasti Karang Brahi dulu ditemukan lagi di Bangko tak jauh dari tempatnya semula tegak. 

Begitu pula dengan Prasasti Kota Kapur di Bangka. 

Sedangkan Prasasti Kedukan Bukit sebelum ditemukan lagi oleh orangnya Westenenk di Palembang telah berpindah-pindah, bergerak kian kemari karena ia digunakan untuk jimat lomba balap perahu.

‎‎Uniknya, batu bertulis yang di Bangka dengan yang di Bangko isinya seroman. 

Sama-sama mengingatkan bahwa setinggi-tingginya ilmu bukan untuk diadu-adu. 

Bukan untuk mengalahkan, apalagi mencelakai yang lain. 

‎‎Keduanya dibuka dengan kisah pertarungan dua orang sakti. Dan mati keduanya. 

‎‎"Ini sesuai dengan sloka ilmu para datu; memintas sebelum hanyut, melantai sebelum lapuk, ingat-ingat sebelum kena. Sloka ini tercermin di isi batu Sriwijaya yang di Bangka dan yang di Bangko. Keduanya ialah tapal batas, pemintas. Sebab, kalau tak dipintas, orang berilmu mudah sekali menjadi sombong," tulis Wenri dalam buku Lingga Yoni Sriwijaya.

‎‎Dan hebatnya, baik Bangko dan juga Bangko, secara bahasa, artinya pun serupa; ujung pangkal. 

‎‎Batu bertulis yang di Bangka bentuknya serupa Lingga. 

Dan yang di Bangko serupa Yoni.

‎‎Dua batu bersurat yang isinya seroman ini sejatinya ialah titik koordinat Kedatuan Sriwijaya. 

‎‎Membuka peta bentangan alam raya, di antara Bangko dan Bangka terdepat Situs Muaro Jambi, yang digadang-gadang sebagai komplek percandian terluas di Asia Tenggara.

‎‎Di antara Bangko dan Bangka ini pula Muaro Sabak, surga para penyelam harta karun, berada. 

‎‎Oiya, daerah di antara Bangko dan Bangka, dalam wilayah administratif Republik Indonesia, berada di propinsi Jambi dan Palembang. 

‎‎Siwijaya dan Lokalisasinya

‎‎Sejak diumumkan oleh George Coedes pada 1918, orang mulai menerka-nerka di mana ibukota Kerajaan Sriwijaya? 

‎‎Bermacam teori keren-keren pun lahir. 

Ada yang yakin Sriwijaya di Palembang. 

Pendapat yang paling populer ini dimulai oleh G Coedes sang penemu, sebelum diikuti yang lain. 

‎‎Berdasarkan bukti arkeologis, ilmuwan kenamaan Indonesia Soekmono bilang Sriwijaya di Jambi. 

Meski sebenarnya Jambi dan Palembang bersebelahan saja. 

‎‎Yang agak beda J.L Moens. Penulis Crivijaya, Java en Kataha (1937), berteori Sriwijaya mula-mula di Kelantan (Semenanjung Malaysia) kemudian pindah ke Muaro Takus, Riau. 

‎‎R.C. Majumdar, penulis buku Swarnadwipa yang terkenal itu dalam Les rois Sailendra de Suvarnadvipa (1933) berteori Sriwijaya harus dicari di Pulau Jawa. 

Kemudian setelah pindah, ke daerah Ligor. 

‎‎Dan Quaritch Wales (1935) meyakini Ligor dan Chaiya-lah pusat Sriwijaya. 

‎‎Itu antara lain teori-teori yang bermunculan pada awal abad 20, menyambut lahirnya teori La Royoume de Crivijaya-nya G. Coedes, pada 1918. 

‎‎Hingga abad 21 ini, sejumlah pendapat tersebut sejatinya belum ketemu titik terang.

‎‎Nah, dalam buku barunya ini, Wenri Wanhar menegaskan lagi bahwa Sriwijaya adalah kedatuan. Bukan kerajaan. 

‎‎Katanya, jika kita sepakat bahwa Sriwijaya adalah kedatuan. 

Dan kita sama-sama sepakat bahwa kedatuan adalah arena meramu dan meramu ilmu/tempat memutus kaji, maka lokasi Sriwijaya tak membingungkan lagi. 

Ujung pangkalnya di Bangka dan di Bangko.

‎‎Alibinya, sepasang batu bersurat yang tegak di Bangka dan di Bangko isinya seroman. 

‎‎"Berdasarkan bukti yang tersedia, sulit dibantah bahwa Sriwijaya adalah kedatuan. Kedatuan, bila dikonversi ke masa kini, lebih kurang semacam civitas akademika. Tempat memutus kaji. Gelanggang berburu dan meramu ilmu. Tapi memang, harus kita akui sebagian dari kita masih meyakini Sriwijaya adalah kerajaan. Tak apa. Toh kita tidak sedang memaksakan pendapat kok. Asyik- asyik saja. Pada waktunya, Puan dan Tuan akan tahu juga kebenaranya," demikian Wenri.

‎‎Buku setebal 144 halaman ini melampirkan arsip-arsip dokumen primer ketika Sriwijaya baru ditemukan dan juga dokumen utuh dari laporan tim yang diperintah Menteri Pendidikan Moh Yamin untuk mencari tahu kebenaran Sriwijaya, pada 1954. 

‎‎Sudut pandang yang dihadirkan Wenri kali ini agak lain dari yang sudah-sudah. 

Buku Lingga Yoni Sriwijaya ibarat perahu yang mengajak para pembacanya mengarungi lapis demi lapis sejarah dunia, dengan bekal teropong yang sama sekali berbeda dibanding yang sudah-sudah untuk mengintip masa lampau.

‎‎Lingga dan Yoni merupakan simbol keselarasan. Perlambang isi dunia yang sepasang-sepasang.

#Rilis Pers
#Foto dokumentasi

Tidak ada komentar