SELAMAT DATANG BAYI KURA-KURA!

Kami memelihara kura-kura sawah atau kura-kura batok (Cuora amboinensis) sejak 2014. 

Dalam 11 tahun ini, baru dua kali telur kura-kura ini kami ketahui menetas. 

Pada Sabtu (17/01/2025) lalu seekor bayi dalam video ini telihat merayap. 

Ini tetasan kedua secara alami di kandangnya dalam kurun 11 tahun itu. 

Kondisinya tidak sempurna, karena karapas atau cangkang di dekat kaki kirinya sobek. 

Entah apakah cacat bawaan, atau digigit tikus. 

Bayi ini kami rawat di sebuah akuarium kecil dengan sedikit air dan batu untuk tempat berpijak. 

Minggu awal cadangan makanan masih cukup di bagian dadanya (bawaan dari telur). 

Kami sudah menyiapkan cacing beku yang dibeli dari toko pakan hewan. 

Panjang karapas bayi ini hanya 4,5 centimeter. Bandingkan dengan indukannya dengan panjang karapas di atas 25 centimeter! 

Selama ini, saya menyediakan kandang yang cukup proper untuk kura-kura ini. 

Satu kolam untuk berendam, dan satu daratan untuk bertelur. 

Sengaja saya sisakan sebagian area di halaman rumah RSS kami di sebuah kota di Pulau Kalimantan ini. 

Tak hanya untuk kolam kecil kura-kura, juga untuk beberapa jenis tanaman hias dan satu-dua pohon peneduh. 

Karenanya kediaman kecil kami cukup kontras dengan para tetangga yang sudah didominasi beton. 

Selain karena hobi, dan lagi jenis kura-kura ini tidak dilindungi, saya menjadikannya wahana pendidikan bagi bocil. 

Kami kadang melewatkan waktu untuk menyikat karapasnya, menguras air kolamnya, dan memberi pakan.

Mengasyikkan! 

Ini bayi kedua. Beberapa tahun lalu, seekor bayi juga berhasil menetas dan kami rawat secara ekstra. 

Di akuarium khusus, pakannya cacing beku, dan secara berkala cangkangnya yang masih lunak itu disikat dengan sikat gigi bulu halus untuk menghilangkan potensi jamur. 

Sayang, setelah berusia satu tahun, bayi pertama itu “meninggoy” karena terperosok ke dalam wadah air yang sempit. 

Dia tidak mampu memutar tubuh dan akhirnya kehabisan nafas.



#Hanz E. Pramana
#Foto Dokumentasi


Tidak ada komentar