MENGAPA KITA MENGULANG KESALAHAN YANG SAMA?

Pernahkah bertanya-tanya, mengapa perilaku buruk sering kali berulang meski akal sehat kita sangat tahu bahwa itu salah? 

Fenomena ini sangat nyata di sekitar kita.  

Andi yang selalu jatuh cinta pada orang yang salah, Ria tetap melahap cokelat saat tertekan hingga tubuhnya makin membesar, atau Vida yang memukul anaknya meski ia tahu persis tindakan itu  menimbulkan luka pengasuhan. 

Ternyata pemahaman secara logis saja tak pernah bisa mengalahkan program yang sudah mengakar di bawah sadar!

LUKA YANG TERTIDUR

Ruang bawah sadar kita adalah arsip yang menyimpan program luka yang belum selesai. 

Luka batin yang tidak diproses tidak akan hilang begitu saja. 

Ia hanya diam menyelinap—lalu sewaktu-waktu muncul kembali dalam bentuk yang lain.

Biasanya, mekanisme bawah sadar merespons tumpukan luka ini dengan dua cara:

1. Menghindar

Reaksi yang muncul bisa berupa freeze, shut down, menarik diri dari lingkungan, mendadak sulit bicara, atau bahkan menjadi mati rasa secara emosional.

2. Mengulang 

Kita tanpa sadar menarik situasi yang polanya mirip dengan kejadian di masa lalu, seolah-olah agar kita ‘punya kesempatan’ untuk menyelesaikan luka lama tersebut.

Kita bisa melihat contoh perilaku berulang ini dalam keseharian, seperti perasaan selalu takut ditinggalkan, tuntutan untuk harus sempurna demi bisa diterima, atau perasaan sulit mempercayai orang lain. 

Hal ini juga terwujud dalam bentuk mudah merasa bersalah, sikap perfeksionis, kecenderungan terlalu menyenangkan orang lain, hingga ketidakmampuan menetapkan batas diri (boundaries) yang sehat. 

Hal-hal ini bukanlah sekadar “sifat” bawaan, melainkan sebuah jejak pengalaman yang belum pulih seutuhnya.

TUBUH DAN LOGIKA TAK SEIRAMA

Di satu sisi, pikiran sadar dengan penuh tekad berkata, “Aku mau berubah.” 

Namun di sisi lain, bagian bawah sadar kita yang rapuh justru berbisik, “Aku takut. Aku pernah terluka.”

Tubuh fisik kita, melalui sistem saraf dan memori seluler, pada akhirnya akan mengikuti komando bawah sadar tersebut: jantung tiba-tiba berdebar, bahu menegang, tenggorokan seakan mengunci, dan napas menjadi pendek. 

Kondisi inilah yang membuat kita pada akhirnya kembali ke pola lama. 

Kita mengulanginya bukan karena kita kalah oleh diri sendiri, melainkan karena logika tidak bisa melawan sebuah program lama yang belum dipulihkan.

MENUTUP PINTU MASA LALU

Syukurnya siklus ini bisa diputus. Perilaku berulang akan otomatis berhenti saat akar masalahnya benar-benar pulih. 

Perilaku merusak yang terus berulang ini bukanlah takdir, bukan “karma”, dan jelas bukan “watak” yang tidak bisa diubah. 

Ia sejatinya hanyalah sebuah pintu lama yang belum ditutup. 

Saat pintu itu perlahan mulai disadari, dipahami, dan kemudian dipulihkan, perilaku tersebut akan berhenti. 

Ia berhenti bukan karena kita memaksa diri dengan keras melawan diri sendiri, melainkan karena perilaku protektif tersebut tidak lagi dibutuhkan oleh sistem pikiran dan tubuh kita.

Sayangnya tak semua orang pandai membaca bahasa program bawah sadar ini. 

Disinilah peran InnerMind sebagai ilmu yang memahami mekanisme bahasa bawah sadar secara terintegrasi hadir memberi solusi.

#Bunda Nunki | InnerMind | innermindplus.id
#Foto ilustrasi https://cdn-images.welcometothejungle.com/DQuf8a8Jwh9OaiHIZw_I1i73q_3DJ19U23byfSZ2iwU/rs:auto:980::/q:85/czM6Ly93dHRqLXByb2R1Y3Rpb24vdXBsb2Fkcy9hcnRpY2xlL2ltYWdlLzA0NDQvMTcxNjI5L21ha2luZ19taXN0YWtlcy5qcGVn

Tidak ada komentar