MENUTUP SEABAD PRAMOEDYA DENGAN AJAKAN PERLAWANAN

A Luta Continua bukan sekadar slogan, melainkan ajakan. Ajakan untuk terus membaca, berpikir, dan melawan ketidakadilan.

Dalam semangat Pramoedya Ananta Toer, perjuangan kebudayaan itu tidak pernah selesai—ia terus hidup dalam ingatan, karya, dan tindakan kita hari ini.

Seratus tahun Pramoedya Ananta Toer bukanlah sekadar penanda waktu, melainkan peneguhan sebuah perjuangan. A Luta Continua—perjuangan itu terus berlanjut—menjadi semangat utama dalam rangkaian acara Penutupan SeAbad Pram yang diselenggarakan pada Jum’at, 06 Februari 2026, bertempat di PDS HB Jassin, Jakarta.

Pramoedya Ananta Toer adalah suara yang tak pernah sepenuhnya dibungkam oleh penjara, pengasingan, maupun kekuasaan kolonial dan pascakolonial. 

Karyanya melampaui sastra; ia adalah manifesto budaya, ingatan kolektif, dan jalan dekolonisasi yang menuntun kita untuk terus berpikir, melawan lupa, dan berpihak pada kemanusiaan.

Acara ini menjadi ruang perjumpaan lintas generasi—akademisi, seniman, aktivis, dan publik luas—untuk kembali membaca Pramoedya sebagai pemikir, penulis, dan pejuang kebudayaan yang relevansinya terus hidup dalam persoalan-persoalan zaman kini.

Diskusi publik dibuka dengan pengantar oleh Aditya PAT dan dimoderatori oleh Berto Tukan. 

Sesi ini menghadirkan pemikiran kritis tentang Pramoedya dalam konteks kekinian. 

Penulis Zen RS mengulas Pramoedya dan semangat perjuangan generasi muda masa kini, menautkan warisan pemikiran Pram dengan kegelisahan dan perlawanan generasi hari ini.

Dewi Kharisma Michellia membahas pemikiran Pramoedya tentang perempuan, serta bagaimana perempuan direpresentasikan dalam karya-karyanya—sebagai subjek sejarah, bukan sekadar latar cerita.

Melani Budianta memaparkan pemikiran poskolonial Pramoedya Ananta Toer, menempatkan Pram sebagai intelektual dekolonial yang menantang narasi resmi kekuasaan.

Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama peserta, sebagai ruang dialog terbuka dan partisipatif.

Sesi siang dibuka kembali oleh MC dengan Open Call Launching Festival Film Pram, sebuah inisiatif untuk menerjemahkan semangat dan pemikiran Pramoedya ke dalam medium sinema. 

Festival ini diharapkan menjadi ruang kreatif bagi generasi baru untuk membaca, menafsirkan, dan merayakan Pramoedya melalui bahasa visual.

Memasuki puncak acara, Memorial Lecture dibuka dengan pengantar oleh Martin Suryajaya dan disampaikan oleh Hilmar Farid. 

Kuliah peringatan ini menjadi refleksi mendalam atas posisi Pramoedya dalam sejarah kebudayaan Indonesia, relasi antara sastra, kekuasaan, dan ingatan, serta relevansinya dalam perjuangan dekolonisasi hari ini.

Acara diawali dengan pembukaan oleh perwakilan keluarga, dilanjutkan sambutan Ketua Yayasan Pramoedya Ananta Toer dan Kepala PDS HB Jassin. 

Diskusi publik berlangsung hingga penyerahan buku atau kenang-kenangan oleh Lentera Dipantara. 

Sesi siang mencakup launching Festival Film Pram, penyerahan cinderamata kepada panitia festival, Memorial Lecture oleh Hilmar Farid, serta penyerahan kenang-kenangan oleh pihak keluarga, sebelum acara resmi ditutup.

#RilisPers

#Agenda

Tidak ada komentar