APA YANG TERJADI DI BURSA? MENGAPA SEMUA TERDAMPAK?

Bayangkan pasar saham itu seperti pasar besar. 

Selama ini ramai, uang berputar, dan rasa percaya terjaga. 

Lalu dalam dua hari berturut-turut, sebagian pemain besar memilih angkat kaki bersamaan. 

Arus keluar begitu deras sampai pintu pasar harus ditutup sementara dua kali. 

Itulah yang terjadi di bursa saham kita minggu ini.

IHSG jatuh lebih dari 15% hanya dalam dua hari. 

Kejadian ini tidak muncul karena perusahaan Indonesia mendadak bermasalah atau ekonomi tiba-tiba runtuh. 

Yang terjadi adalah kepercayaan investor global terguncang. 

Di dunia keuangan, saat kepercayaan goyah, uang besar bergerak cepat. 

Mereka keluar lebih dulu, sambil menunggu kepastian.

Pemicunya datang dari lembaga global bernama MSCI, yang selama ini menjadi “peta jalan” bagi dana-dana besar dunia. 

Investor global menaruh uang di Indonesia karena kita berada di kategori Emerging Market. 

Ketika MSCI memberi sinyal adanya persoalan tata kelola—soal keterbukaan, aturan main, dan struktur kepemilikan—pasar menangkap pesan yang jelas: risiko sedang naik.

Dampaknya terasa langsung. 

Dalam waktu singkat, sekitar Rp1,9 triliun dana asing sudah keluar dari pasar saham. 

Jika persoalan ini tidak segera dibereskan, analis memperkirakan Rp33–38 triliun lagi bisa keluar bertahap. 

Dana sebesar ini biasanya dipakai perusahaan untuk memperluas usaha, membangun pabrik, dan membuka lapangan kerja.

Risiko paling berat muncul jika perbaikan tata kelola gagal dan Indonesia dipandang turun kelas menjadi Frontier Market. 

Jendela waktunya relatif sempit, dengan perhatian pasar global terfokus pada kuartal pertama tahun ini, terutama hingga Maret, sebagai periode krusial untuk menunjukkan langkah perbaikan yang nyata. 

Dalam situasi tersebut, persoalannya tidak berhenti pada arus keluar. 

Banyak dana asing justru tidak bisa kembali masuk, karena kebijakan internal mereka memang menghindari pasar frontier. 

Saat itu, pasar menghadapi dua tekanan sekaligus: modal keluar, dan aliran modal baru tersendat.

Dalam skenario seperti ini, tekanan arus modal berpotensi mencapai lebih dari Rp500 triliun dalam jangka menengah. 

Angka ini menggambarkan besarnya risiko yang muncul ketika basis investor besar menyusut. 

Pasar menjadi lebih dangkal, pergerakan harga lebih mudah bergejolak, dan biaya pendanaan meningkat.

Risiko sistemik kemudian merambat ke berbagai arah. 

Tekanan dari pasar saham bisa menjalar ke nilai rupiah, karena investor global biasanya menata ulang seluruh portofolionya. 

Dampaknya juga terasa di pasar obligasi, mendorong kenaikan biaya utang negara dan dunia usaha. 

Pada akhirnya, sektor riil ikut terkena imbas: ekspansi tertunda, pembukaan lapangan kerja melambat, dan biaya ekonomi meningkat.

Situasi ini menyentuh kepentingan ekonomi nasional secara luas. 

Publik wajar berharap agar pengelolaan dan pengawasan pasar keuangan dijalankan lebih serius, lebih transparan, dan lebih antisipatif. 

Tata kelola yang kuat menjadi fondasi agar pasar tetap dipercaya oleh investor dalam negeri maupun global.

Penutupnya sederhana. 

Kepercayaan adalah aset ekonomi yang paling mahal. 

Jika dijaga melalui tata kelola yang konsisten dan dapat dipercaya, modal akan kembali mengalir, pintu investasi tetap terbuka, dan ekonomi bergerak lebih sehat. 

Harapannya, momentum ini menjadi titik balik untuk memperbaiki sistem dan memastikan pasar Indonesia dikelola dengan standar yang layak dipercaya dunia.

#Didik Prasetiyono, Wakil Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI)
#Foto: https://investorplace.com/wp-content/uploads/2019/07/crash-tickers-down-arrow.jpg

Tidak ada komentar