LPBEM UI USULKAN MBG DIEVALUASI, DAN DIGANTI BLT
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran, telah mengguncang pasar energi global.
Antara 27 Februari dan 9 Maret 2026, penutupan jalur laut pasca serangan AS-Israel ke Iran yang dilalui sekitar 25 persen perdagangan minyak global membuat harga minyak mentah Brent melonjak menjadi 91,8 dolar Amerika per barel.
Sementara harga gas juga melambung naik menjadi 55,8 Euro per MWh.
Lonjakan harga energi ini berisiko mendorong kenaikan harga pangan dan meningkatkan biaya hidup, khususnya bagi kelompok rentan, pada saat ruang fiskal di banyak negara berkembang semakin terbatas.
Dampaknya juga mulai dirasakan di Indonesia.
Dalam catatan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPBEM UI), sejak eskalasi konflik pada 18 Februari, arus keluar modal dari pasar obligasi pemerintah telah mencapai 0,41 miliar dolar Amerika per 6 Maret 2026.
Tekanan ini telah berkontribusi pada depresiasi rupiah, yang sempat menyentuh 17.000 rupiah perdolar AS pada 9 Maret sebelum ditutup sekitar 16.974 rupiah perdolar AS.
Jika harga minyak tetap tinggi, defisit fiskal Indonesia bisa melebar hingga melebihi 3 persen dari PDB tanpa penyesuaian kebijakan atau revisi anggaran.
Mengingat keterbatasan ruang fiskal, meninjau kembali pengeluaran pemerintah menjadi langkah yang realistis.
Beberapa program dapat dievaluasi, termasuk program Makan Gratis Bergizi (MBG), yang pada tahun 2026 dialokasikan 335 triliun rupiah atau 8, 72 persen dari total pengeluaran pemerintah.
Dan subsidi serta kompensasi energi, yang berjumlah 381 triliun rupiah atau 9,92 persen dari pengeluaran pemerintah.
Pada saat yang sama, pemerintah perlu memperkuat kebijakan stabilisasi harga dan nilai tukar untuk mengurangi tekanan inflasi dan volatilitas mata uang.
Sekaligus mulai menerapkan strategi diversifikasi energi untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan energi dari wilayah yang rentan secara geopolitik.
Bersamaan, perlindungan bagi rumah tangga miskin dan rentan harus diperkuat, salah satu opsinya adalah Transfer Tunai Langsung (BLT) yang lebih tertarget.
Dalam skenario 500.000 rupiah per bulan selama delapan bulan untuk rumah tangga hingga persentil pendapatan ke-50, perkiraan kebutuhan anggaran akan sekitar 140,7 triliun rupiah.
Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan anggaran yang dialokasikan untuk program MBG dan subsidi serta kompensasi energi, sehingga menciptakan ruang untuk alokasi ulang anggaran yang lebih efisien guna menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi daya beli rumah tangga.
#Foto: https://lpem.org/wp-content/uploads/2026/03/SR_Iran_AI.avif
Download full version LPBEM UI di sini










.jpg)













.jpg)



Tidak ada komentar