OPINIONS | THE BEST 5

Ciri-ciri Akun Buzzer Media Sosial
Oleh: Sandyawan Sumardi 


Inilah ciri-ciri akun buzzer (buzzerRp) media sosial berdasarkan pola umum yang sering kita temukan:

(1). Akun itu tidak menggunakan foto diri asli di profilenya.

(2). Akun itu  sengaja dikunci oleh pemiliknya.

(3). Nama pengguna (username) acak atau panjang: Seringkali menggunakan kombinasi nama dan angka acak (contoh: @user12345678, @nama_acak_99), menunjukkan akun tersebut dibuat secara massal atau otomatis (bot).

(4). Aktivitas me-retweet/share berlebihan: Akun tersebut jarang membuat konten orisinal, melainkan intens me-retweet, membagikan ulang, atau menyukai konten dari satu pihak tertentu secara terus-menerus tanpa henti.

(5). Komentar seragam (copy-paste): Sering meninggalkan komentar yang sama persis di berbagai postingan berbeda untuk menggiring opini.

(6). Tanggal pembuatan akun baru dan pengikut sedikit: Akun biasanya baru dibuat, namun sudah sangat aktif, dan jumlah pengikutnya sedikit atau bahkan nol.

(7). Fokus konten hanya pada satu isu/isu politik: Timeline atau histori postingan hanya berisi serangan atau pembelaan terhadap figur, partai, atau produk tertentu.

(8). Agresif dan menyerang. Narasi yang digunakan cenderung emosional, provokatif, memicu kebencian, atau membela kelompok tertentu. 

Nah, melalui pola ini, semoga kita, masyarakat umum dapat segera  mengenali akun yang sengaja dibuat untuk memanipulasi opini publik. 

Leiden, 3 Maret 2026

*****

Seorang Guru Bernama Eric Ireng

Oleh: Edi Purwanto


Pagi itu, 2004. Rumput Lapangan Gelora Sepuluh Nopember masih basah oleh embun. 

Para wartawan berdiri menyebar di tepi lapangan, menunggu momen. 

Di salah satu sudut kanan gawang, seorang lelaki bertubuh gempal duduk tenang. 

Wajahnya sangar. 

Kulitnya legam. 

Di tangannya, kamera Nikon dengan lensa tele panjang menjulur seperti meriam kecil yang siap menembak cahaya.

Namanya Eric Siswanto. Tapi kami mengenalnya sebagai Eric Ireng.

Julukan itu melekat bukan karena ia keras, barangkali karena kulitnya yang gelap dan keakraban khas anak lapangan. 

Di balik raut wajah yang membuat orang segan, ada senyum tipis yang jarang gagal mencairkan suasana. Ia fotografer senior Harian Surya.

Aku? Hanya wartawan junior dengan kamera cekrek dan roll film yang harus diputar manual.

Hari itu kami meliput pertandingan sepak bola yang diikuti Kapolda Jatim saat itu, almarhum Irjen Pol Firman Gani. 

Aku berdiri agak jauh, mencoba mencari sudut. Minder? Tentu saja. 

Kamera seadanya, pengalaman minim, dan di sebelahku duduk seorang jebolan Stikosa AWS yang reputasinya sudah panjang di lapangan.

Tiba-tiba ia melirik.

“Kene cedak ambek aku.”

Aku mendekat. Duduk di sampingnya. Dari jarak sedekat itu, aku bisa melihat bagaimana ia bekerja. 

Tidak tergesa. Tidak panik. Matanya membaca arah bola, tubuh pemain, bayangan cahaya. Jemarinya ringan, tapi pasti.

“Carane ngene, lo. Ben entuk gambar sing apik.”

Kalimat sederhana. Tapi di situlah kelas dimulai. Tanpa podium, tanpa papan tulis. Hanya rumput lapangan dan suara sorak-sorai.

Aku mengikuti arah lensanya. Menunggu. Saat Irjen Pol Firman Gani bersiap menendang bola ke arah gawang, aku menahan napas. Lalu: cekrek.

Satu momen. Satu bunyi. Satu keberanian.

Aku pamit lebih dulu karena deadline Surabaya Post tak pernah menunggu. 

Dua kali sehari: pukul 12.00 dan 21.00. Pukul 10.00 aku sudah di studio, mencetak foto. Dari dua frame yang kuambil, satu dipilih redaktur sebagai foto utama halaman Surabaya.

Kapolda tertangkap tepat sebelum kaki menyentuh bola. Ekspresi tegang. Energi membuncah. Hidup.

Redaktur memuji. Teman-teman mengangguk. Tapi jauh di dalam hati, aku tahu: ada jejak tangan Eric di foto itu.

Sejak hari itu, tak ada lagi jarak senior dan junior. Di lapangan, kami bercanda. Aku bahkan berani sesekali menggojloknya. 

Ia tak pernah pelit ilmu. Tak pernah merasa lebih tinggi. Di antara kerasnya dunia redaksi dan ketatnya tenggat waktu, ia menyisakan ruang untuk berbagi.

Tahun berganti. Kamera berubah. Dari roll film ke digital. Dari cekrek ke burst mode. Tapi satu hal tak berubah: cara Eric memandang lapangan. Ia selalu datang lebih awal, memilih sudut, duduk tenang, dan membiarkan momen mendekatinya.

Dua puluh satu tahun berlalu tanpa terasa.

Pagi ini, kabar itu datang seperti awan mendung yang tak diundang. Linimasa para wartawan dan fotografer Surabaya dipenuhi satu kalimat yang sama: Eric Ireng meninggal dunia.

Aku tercenung. Aku tidak bisa hadir takziah mengantar kepergianmu. Aku hanya bisa menggulirkan foto-foto itu. Entah saat mengajar dan berbagi hasil jepretan profesional.

Selamat jalan, Mas Eric Ireng.

Terima kasih telah mengajari kami bahwa memotret bukan sekadar menekan tombol. Ia adalah soal kesabaran, keberanian, dan kerendahan hati. 

Al Fatihah.

*****
 John Tobing: In memoriam sahabatku, para aktivis penggerak Kedung Ombo

Oleh: Gunadi Aswantoro



Soal lagu yang kita sering dendangkan hingga saat ini anak-anak muda para mahasiswa penerus perjuangan HAM terus menyuarakannya.

Saya share tulisan kawan In'am/ A'am yg ada di group JALA,  yang isinya para penggerak Gerakan demokradi dan HAM.

Bersama mereka saya, bertumbuh sejak mahasiswa hingga kini...

......pasangan lagu darah juang, sebenarnya  bukanlah puisi sumpah mahasiswa, tetapi puisi adalah sebidang tanah. 

Mengapa demikian? lagu darah juang, yang diciptakan atau tepatnya diinisiasi kawan John Tobing, di Jalan Condong Catur no. 22, Yogyakarta, bukanlah lagu yang diciptakan sekali jadi. 

Kalau istilah sekarang, seperti  "syair lagu pemantik", berikut arrasmen seluruhnya dari kawan John Tobing.

Perubahan atau tepatnya masukan perbaikan syair Darah Juang, berdasarkan ingatan yang rapuh dimakan usia, paling tidak ada 4 (empat) atau 5 (lima) kawan lainnya: Dadang Julianto (UGM), Himawan Sutanto atau Japrak Haes (ISI Yogyakarta), Hendra Kusumah, Juli Nugroho (UII), dan Jayadi (UMY).

Kawan Dadang dan Hendra, yang selalu mengingatkan supaya syair lagu mewakili hasil rumusan "ideologi" kongres Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY), di Muntilan,  Magelang.

Seingatku, John Tobing bukanlah bagian dari utusan organ Keluarga Mahasiswa (KM) UGM yang ikut dalam kongres FKMY.

Karena itu, kawan Dadang dan Hendra, yang getol mengingatkan tentang syair (maklum keduanya tekstualis ideologi FKMY), tetapi kawan Japrak, Juli, dan Jayadi lebih konsen lebih ke aransemen   "enak didengar" (istilah sekarang ketiganya sebagai orang lapangan). 

Beriringan proses cipta lagu darah juang karya John Tobing, Himawan Sutanto atau Japrak Haes menciptakan puisi berjudul Adalah Sebidang Tanah.

Ini sepenggal ingatan puisi itu: 

Adalah sebidang tanah
Yang lahir dari sebuah dendam
Anak anak tak sekolah...

dan seterusnya...

Berdasarkan teks lagu Darah Juang, karya John Tobing dan puisi sebidang tanah, karya Japrak Haes senada. 

Karena, kedua karya tersebut, lagu dan puisi, memang lahir di tempat yang sama, di jalan Condong Catur no. 22, Yogyakarta.

Dengan inspirasi atau latar belakang yang sama, yakni hasil kongres pertama, sekaligus terakhir FKMY di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.

Sementara puisi sumpah mahasiswa, karya Afnan Malay, lahir dari nuansa diskusi, sekaligus demonstrasi di Bulak Sumur, UGM Yogyakarta.

Harap maklum juga, dinamika gerakan mahasiswa juga terpolarisasi antara kelompok diskusi dan kelompok jalanan, saling "clekop", tepatnya saling ejek militansi dan isi kepala.

Tetapi lepas dari soal sejarah karya lagu dan puisi, marilah di bulan Ramadan, kita berdo'a dan  membaca al-fatihah untuk kawan John Tobing dan Japrak Haes yang telah mendahului kita. 

Juga kawan Afnan Malay, yang selalu konsisten mengagitasi rasa strokenya untuk bangkit, semoga selalu diberikan kesehatan dan umur panjang, al-Fatihah.

Bersatu, berserak, rapuh dan saling mendo'akan!


*****

Paradoks "Saya aja yang WNI"

Oleh: Yasin al Raviri



Bagi saya mba mba yg kmaren bilang "Saya aja yg WNI, anak saya jangan," itu prilaku yg wajar.

Ia hanya terjebak dalam komunikasi layar seperti halnya kebanyakan kita hari ini.
 
Seandainya yang ia tatap dan ajak omong itu bukan layar dan tidak terpublish, itu akan clearly fine.

Sebab merawat nasionalisme dalam diri akhir-akhir ini memang susah. 
 
Seperti menahan getir yang panjang...keputusasaan pada pengelolaan negara (nation) sudah jadi perasaan khalayak yg menumpuk.
 
Rakyat lelah sekali dan sedang di ujung pupus... bahkan mulai merasakan kekosongan esensi dari isme itu...
 
Publik pada akhirnya mengutuk etika dari si mba mba itu.. bukan rencananya... tapi etikanya...
 
Bagaimana pun sakitnya rakyat kita, ternyata mereka masih menomorsatukan etika... dan sama-sama menyayangkan perbuatan si mba mba.

Yowes ngunu ae,...
 

Tidak ada komentar