OPINIONS | THE BEST FIVE


John Tobing:
In memoriam sahabatku, para aktivis penggerak Kedung Ombo


Oleh: Gunadi Aswantoro

Soal lagu yang kita sering dendangkan hingga saat ini anak-anak muda para mahasiswa penerus perjuangan HAM terus menyuarakannya.

Saya share tulisan kawan In'am/ A'am yg ada di group JALA,  yang isinya para penggerak Gerakan demokradi dan HAM.

Bersama mereka saya, bertumbuh sejak mahasiswa hingga kini...

......pasangan lagu darah juang, sebenarnya  bukanlah puisi sumpah mahasiswa, tetapi puisi adalah sebidang tanah. 

Mengapa demikian? lagu darah juang, yang diciptakan atau tepatnya diinisiasi kawan John Tobing, di Jalan Condong Catur no. 22, Yogyakarta, bukanlah lagu yang diciptakan sekali jadi. 

Kalau istilah sekarang, seperti  "syair lagu pemantik", berikut arrasmen seluruhnya dari kawan John Tobing.

Perubahan atau tepatnya masukan perbaikan syair Darah Juang, berdasarkan ingatan yang rapuh dimakan usia, paling tidak ada 4 (empat) atau 5 (lima) kawan lainnya: Dadang Julianto (UGM), Himawan Sutanto atau Japrak Haes (ISI Yogyakarta), Hendra Kusumah, Juli Nugroho (UII), dan Jayadi (UMY).

Kawan Dadang dan Hendra, yang selalu mengingatkan supaya syair lagu mewakili hasil rumusan "ideologi" kongres Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY), di Muntilan,  Magelang.

Seingatku, John Tobing bukanlah bagian dari utusan organ Keluarga Mahasiswa (KM) UGM yang ikut dalam kongres FKMY.

Karena itu, kawan Dadang dan Hendra, yang getol mengingatkan tentang syair (maklum keduanya tekstualis ideologi FKMY), tetapi kawan Japrak, Juli, dan Jayadi lebih konsen lebih ke aransemen   "enak didengar" (istilah sekarang ketiganya sebagai orang lapangan). 

Beriringan proses cipta lagu darah juang karya John Tobing, Himawan Sutanto atau Japrak Haes menciptakan puisi berjudul Adalah Sebidang Tanah.

Ini sepenggal ingatan puisi itu: 

Adalah sebidang tanah
Yang lahir dari sebuah dendam
Anak anak tak sekolah...

dan seterusnya...

Berdasarkan teks lagu Darah Juang, karya John Tobing dan puisi sebidang tanah, karya Japrak Haes senada. 

Karena, kedua karya tersebut, lagu dan puisi, memang lahir di tempat yang sama, di jalan Condong Catur no. 22, Yogyakarta.

Dengan inspirasi atau latar belakang yang sama, yakni hasil kongres pertama, sekaligus terakhir FKMY di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.

Sementara puisi sumpah mahasiswa, karya Afnan Malay, lahir dari nuansa diskusi, sekaligus demonstrasi di Bulak Sumur, UGM Yogyakarta.

Harap maklum juga, dinamika gerakan mahasiswa juga terpolarisasi antara kelompok diskusi dan kelompok jalanan, saling "clekop", tepatnya saling ejek militansi dan isi kepala.

Tetapi lepas dari soal sejarah karya lagu dan puisi, marilah di bulan Ramadan, kita berdo'a dan  membaca al-fatihah untuk kawan John Tobing dan Japrak Haes yang telah mendahului kita. 

Juga kawan Afnan Malay, yang selalu konsisten mengagitasi rasa strokenya untuk bangkit, semoga selalu diberikan kesehatan dan umur panjang, al-Fatihah.

Bersatu, berserak, rapuh dan saling mendo'akan!


*****

Paradoks "Saya aja yang WNI"

Oleh: Yasin al Raviri

Bagi saya mba mba yg kmaren bilang "Saya aja yg WNI, anak saya jangan," itu prilaku yg wajar.

Ia hanya terjebak dalam komunikasi layar seperti halnya kebanyakan kita hari ini.
 
Seandainya yang ia tatap dan ajak omong itu bukan layar dan tidak terpublish, itu akan clearly fine.

Sebab merawat nasionalisme dalam diri akhir-akhir ini memang susah. 
 
Seperti menahan getir yang panjang...keputusasaan pada pengelolaan negara (nation) sudah jadi perasaan khalayak yg menumpuk.
 
Rakyat lelah sekali dan sedang di ujung pupus... bahkan mulai merasakan kekosongan esensi dari isme itu...
 
Publik pada akhirnya mengutuk etika dari si mba mba itu.. bukan rencananya... tapi etikanya...
 
Bagaimana pun sakitnya rakyat kita, ternyata mereka masih menomorsatukan etika... dan sama-sama menyayangkan perbuatan si mba mba.

Yowes ngunu ae,...
 

Tidak ada komentar