12 May 2010

Cuilan Eropa di Paris je t'aime!

Jojo Raharjo, Paris

Pada hari ke-17 menghirup udara Eropa, Saya baru saja mencecap pengalaman 17 jam di Paris, Ibukota Prancis. Kota yang dikenal sebagai kota mode, kota budaya, kota cahaya, kota romantis, kota seribu monumen, dan berbagai julukan lain. Sayang, banyak pengemisnya.

Dengan reservasi tiket online Eurolines senilai 83 euro pulang-pergi, Keberangkatan ke Paris dilakukan berdelapan orang. Eurolines adalah bis internasional, yang melayani lebih dari 500 destinasi di 25 negara. Selain Eropa, Eurolines juga merambah Maroko benua Afrika.

Bis meninggalkan Amsterdam Amstel pada Jum’at (7/5) pukul 22.00 waktu setempat. Menyusuri Rotterdam, Den Haag, Eindhoven dan Brussel, Belgia. Sabtu pagi, bis berkapasitas 50 orang lebih ini tiba di Gallieni, kawasan timur Paris yang menghubungkan kota berpenduduk 2,3 juta jiwa itu dengan jalur darat trans Eropa.

Hanya dengan harga tiket sekali jalan senilai karcis Argo Bromo Anggrek saat Lebaran, dengan waktu tempuh nyaris serupa dengan kereta cepat Gambir-Pasar Turi itu, tiga negara: Belanda-Belgia-Perancis, pun terlewatkan di malam hari.

Tiket Metro (kereta bawah tanah) seharga 6 euro (untuk sehari penuh) adalah langkah pertama ketika menginjakkan kaki di Paris. Peta gratisan yang disediakan di salah satu stasiun menjadi guide utama.

Sepagi itu, museum Musee du Louvre, dipilih sebagai tujuan pertama. Museum terluas dan paling banyak dikunjungi manusia di dunia,yang didalamnya juga berisi lukisan Monalisa nan kesohor itu.

Museum ini juga dikenal sebagai Palais Royal, dibangun Raja Philippe II pada abad XII hingga ditinggalkan Raja Louis XIV yang kemudian memutuskan Louvre hanya sebagai tempat penyimpanan koleksi seni. Tiket masuk 9 euro perorang. Tergolong murah, bila dibandingkan dengan sejarah yang telah dilaluinya.

Pengemis

Puas berfoto dan memberi makan burung dara di Louvre, perjalanan berlanjut ke Notre Dame de Paris, alias Katedral, gereja berarsitektur gothic yang awalnya dibangun pada 1160. Seorang perempuan datang kepada saya, “Do you speak English?” Saya mengangguk. Ia langsung mengeluarkan ‘senjata rahasia’-nya. Secarik kertas menjelaskan bahwa ia berasal dari Bosnia, mempunyai saudara laki-laki dan sudah dua bulan terdampar kehabisan uang di Paris.

“Wah, saya juga turis, duit mepet,” perempuan itu masih mengiba. “Berapa sen sajalah,” katanya. Kepingan satu euro pun berpindah tangan. Beberapa menit kemudian tersadar tentang modus licik itu setelah melihat beberapa perempuan lain tampak berkeliling katedral, juga dengan selembar kertas sebagai bahan meminta.

Pengemis-pengemis lain di Paris terlihat juga di kereta bawah tanah. Teriakan seorang laki-laki menyadarkan penumpang satu gerbong. Pakaiannya rapi, tapi ia menggendong bocah balita dan membawa sebotol susu dalam tas. Saya tak bisa Bahasa Perancis, tapi tak sulit menebak isi pidatonya, “Susu anak saya hampir habis, tolong beri kami beberapa euro…”

Juga penampilan pris berkostum ala sphinx -gaya yang juga ada di Belanda-, muka berantakan dengan poster berbahasa Inggris bergambar dua foto, “Before and after accident. Need money for operation”.

Yang konservatif pun tak ketinggalan. Memakai berkudung dengan kepala tertunduk di trotoar Avenue des Champs Elysees –jalan protokol utama yang menjadi sentra belanja Paris, ala Orchardnya Singapura. Lengkap dengan gelas bekas sebagai tadah uang di depan lututnya.

Sedang asyik menunjungi Menara Eiffel, ikon Perancis setinggi 324 meter yang dibangun oleh arsitek Gustave Eiffel, ada seorang penjaja souvenir. “For you, my friend, four for one euro,” kata mereka menawarkan gantungan kunci miniatur Eiffel. Aku tertarik dan membelinya. Tak lama berselang, seorang pedagang lain menawarkan jumlah sovenir yang lebih banyak untuk satu euro. Sial!

*foto dokumentasi pribadi

| republish | Please Send Email to: iddaily@yahoo.com |

No comments:

Post a Comment

Program

Program