23 August 2008

Cintailah Lingkungan, Jangan Mempercepat Kiamat

Agung Purwantara

Himbauan Gubernur DI Jogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, tentang gerakan "Eko Sexual" sebagai usaha mencegah kerusakan lingkungan, memang masuk akal. Kalau dipikir-pikir, kerusakan lingkungan memang berhubungan dengan seks. Seperti kajian psikologi, bahwa setiap tindakan manusia itu pada dasarnya adalah pemenuhan hasrat seksual.


Katanya begitu..menurut seorang ahli psikologi, Sigmund Freud (1856-1939) kurang lebihnya, "Kebutuhan-kebutuhan yang menimbulkan konflik, menyebabkan terjadinya represi, resistensi. Kebutuhan didasari oleh kesenangan seksual." Ya, kalau dipikir panjang-panjang, benar juga pendapat Freud (baca: Froid) itu. Mungkin, dengan kata lain, bolehlah kita ganti kesenangan seksual dengan kesenangan badaniah. Sebuah tindakan pemanjaan kebutuhan badan.

Menurut mereka yang ahli vegetarian, terjadinya perang dan kerusakan lingkungan diakibatkan karena hasrat memakan daging. Orang saling berebut daerah untuk memperluas peternakan. Kerusakan padang rumput dan sempitnya areal persawahan adalah akibat dari meluasnya daerah peternakan. Jadi kerusakan lingkungan itu akibat dari hasrat manusia untuk memakan daging.

Dalam sejarah penjajahan, kalau kita cermati sebenarnya adalah persoalan pemenuhan kebutuhan (seks) badaniah. Para penjajah itu, yang laki-laki mungkin ingin menunjukkan kejantanannya. Dengan menjadi tentara dan berperang kesana kemari itu adalah aksi kejantanan. Kemudian, dengarkan cerita sedih tentang perempuan-perempuan jajahan. Mereka menjadi korban kebutuhan seksual dari tentara-tentara penjajah. Alasan berikutnya adalah ekonomi. Alasan perut. Mencari ladang pangan yang baru dan lebih luas. Mengeruk hasil bumi dari tanah jajahan. Menjadikan jajahannya sebagai budak. Kalau dipikir, memang semua itu sebenarnya hanyalah pemenuhan kebutuhan seksual (saya lebih suka menyebutnya kebutuhan badaniah).

Nah, singkatnya, ternyata pemenuhan kebutuhan badaniah manusia itulah yang menimbulkan kerusakan. Setiap orang butuh makan agar bertahan hidup, tetapi jika manusia membutuhkan makan lebih dari yang dibutuhkan maka dia akan menimbulkan kerusakan lingkungan. Bisa jadi dia akan meningkatkan produksi dengan menggunakan bahan-bahan kimia yang sebenarnya berbahasa bagi tanah dan air. Atau membuka hutan untuk memperluas daerah pangan, yang akhirnya akan menggunduli paru-paru dunia.

Berdandan, juga bisa menimbulkan kerusakan. Berapa binatang yang harus mati karena dijadikan jaket, sepatu, ikat pinggang, tas dan sebagainya. Berapa partikel kimia berbahaya yang harus dilepas ke udara untuk menyemprotkan bahan penata rambut. Konon, senyawa kimia dalam penyemprot itu mampu melubangi payung atmosfir bumi. Artinya, bumi terancam oleh sinar ultraviolet yang radiasinya menyebabkan kanker dan penyakit lainnya.

Sungguh panjang kalau disebutkan satu-satu kebutuhan manusia yang justru merusak lingkungan hidupnya sendiri. Begitu banyak kebutuhan yang menyebabkan konflik antar manusia antar bangsa antar negara. Bisakah hal ini dihindari?

Mungkin, kerusakan bumi ini memang sebuah keniscayaan. Suatu saat mungkin benar-benar akan rusak dan hancur. Tetapi kita jangan mempercepat datangnya kerusakan itu. Jangan mempercepat kehancuran planet bumi. Jangan mempercepat kepunahan makhluk hidup dari planet ini. Bagaimana?

Janganlah serakah. Batasi kebutuhan badaniah kita. Sering-seringlah berbagi. Berderma agar pemenuhan kebutuhan manusia itu menjadi merata. Jangan bermegah-megahan dalam setiap urusan. Cintailah lingkungan tempat kita tinggal. Jangan mengekploitasi sumber alam dengan membabi-buta. Jangan membuang limbah tak diolah ke alam bebas. Jangan membuang sampah ke sungai atau laut.

Terlalu banyak larangan yang seharusnya menjadi kesadaran setiap manusia yang tinggal di planet bumi ini. Baik laki-laki maupun perempuan. Baik anak-anak maupun orang dewasa. Pendidikan kesadaran lingkungan hidup harus dilaksanakan. Bentuklah generasi yang lebih mencintai dan menjaga kehidupan ekologi bumi. Ini mungkin sebuah kerja besar. Tetapi lebih baik dari pada mempercepat kerusakan dan mengundang kiamat mendatangi planet bumi ini.

No comments:

Post a Comment