05 September 2016

MANTAN PELACUR ANAK INI HIDUP DENGAN HIV

Ilustrasi: www.ciriciriaids.com
Ketika polisi mengungkap kasus eksploitasi seks pada anak-anak di Puncak, Bogor, Jawa Barat, Agustus 2016 ini, ingatan saya melambung ke Riki (bukan nama sebenarnya), gay anak dengan HIV.

Kami pernah bertemu, untuk wawancara sebuah buku yang diterbitkan oleh salah satu Non Governmental Organization (NGO) anak di Jakarta.

Pertemuan saya dengan Riki terjadi di sebuah pertokoan di kota Bandung. Di plaza yang sempat jaya di awal-awal tahun 90an ini, ia merasa nyaman.

Apalagi, di tempat inilah, Riki bekerja sebagai salah satu penjaja barang kecantikan, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri.

Tak gampang menemui Riki. Apalagi untuk menyelami perjalanan hidupnya sebagai gay anak yang kini hidup dengan HIV. Remaja bertubuh kurus itu sering merasa canggung bila bertemu dengan orang yang baru saja dikenalnya.

Kehadiran orang dekat, penting untuk membuatnya merasa nyaman dan aman. Karena itulah, kehadiran Nisa (bukan nama sebenarnya), salah satu aktivis NGO di Bandung, menjadi kunci keberhasilan wawancara ini.

MELAMBAI

Sekilas, sosok Riki tidak berbeda dengan sosok remaja pada umumnya. Rambutnya belah samping, dengan model potongan terkini. Pakaian yang dikenakan fit with body, model yang lagi ngetrend belakangan. Ketika bertemu sore itu, Riki sedang menyantap roti bermerk terkenal.

“Saya lagi nggak enak makan,” katanya.

Sosok Riki menjadi berbeda ketika dia berinteraksi. Cara bicaranya feminin, plus bahasa tubuhnya “melambai”. Pilihan kata dan intonasi yang digunakannya pun lebih pelan dengan aksen layaknya perempuan. Saat berinteraksi dengan perempuan, Riki tampak lebih dekat, dengan bahasa tubuh yang “seirama”.

“Nggak tahu ya, sepertinya nyaman saja seperti ini,” katanya.

Sewaktu kecil, tidak ada yang berbeda antara dirinya dengan teman-teman sebayanya. Kenakalan-kenakalan anak laki-laki seusianya juga dilakukan oleh Riki. Seiring perkembangan umur, perlahan-lahan Riki berubah.

Ia merasa lebih nyaman berinteraksi dengan kawan-kawan perempuannya, ketimbang kawan laki-laki. Hal itu secara tidak disadari membuat Riki memiliki kebiasaan yang hampir sama dengan kawan perempuannya.

Saat kelas dua sekolah menengah atas (SMA), Riki merasa dirinya lebih “melambai” ketimbang teman-teman laki-lakinya. Riki bahkan mulai memakai asesoris milik perempuan. Perubahan itu sama sekali tidak mengganggunya. Ia merasa nyaman dengan berbagai hal baru itu.

“Memang sih, saya nyaman dengan perubahan ini. Kalau tidak “godeg” (baca: berlagak seperti perempuan), bukan Riki namanya,” kenangnya.

ORIENTASI SEKSUAL

Secara seksual, Riki pun merasakan adanya perubahan. Riki memiliki ketertarikan dengan sesama jenis. Tentu saja, untuk hal ini, Riki tidak serta-merta terbuka kepada sekitarnya.

Riki cenderung menyembunyikan. Meski diam-diam ia memiliki hubungan “khusus” dengan salah satu teman laki-lakinya.

Riki mulai terbuka dengan orientasi seksualnya ketika ia tahu ada komunitas gay dan lesbian di lantai dua sebuah restauran cepat saji di Kota Bandung.

Kebiasaan menghabiskan waktu di komunitas itu membuat Riki merasa “tidak sendirian”. Riki bahkan merasa memiliki “keluarga” yang menerimanya.

Namun, hidup dengan jatidiri yang “baru”,  bukan tanpa tantangan. Tantangan terbesar justru berasal dari pihak keluarga. Teman-teman “serupa” Riki yang berberapa kali datang ke rumahnya, memunculkan pertanyaan dari pihak keluarga.

Bahkan, beberapa kali pula ayah dan ibunya mengingatkan Riki untuk tidak terlalu jauh dalam berinteraksi dengan gay dan lesbian.

Nasehat keluarga, menurut Riki muncul dari orang yang tidak memahami apa yang dirasakannya. Lain halnya dengan kawan-kawan komunitas gay dan lesbian, yang menurut Riki lebih memahaminya.

“Ini hidup-hidup gue, terserah gue menjalaninya seperti apa,” kata Riki.

TERKENA HIV

Hingga bertahun-tahun, Riki tetap hidup sebagai gay remaja. Berkumpul dengan teman-teman gay dan lesbian, mengantar Riki dalam kehidupan pelacuran gay.

Riki tidak segan-segan menerima tawaran untuk “melayani” sesama gay, asal mendapatkan imbalan. Bisa dalam bentuk barang, maupun uang.

Di samping itu, Riki melanjutkan hubungannya dengan pacar yang juga sesama laki-laki. Tak jarang menginap di kos-kosan milik pacarnya.

Puncak petualangan Riki terjadi pada 19 Oktober 2011, ketika hasil laboratorium atas tes yang dilakukan berbuah hasil HIV positif.

Meski sempat tersentak, Riki meyadari, inilah konsekuensi yang harus diterima dengan gaya hidup yang dijalaninya.

“Sesekali memakai kondom sih, tapi sering juga nggak pake kondom hahaha,” kata Riki.

Riki mengenang, kemungkinan virus HIV itu tetular dari salah satu pasangannya yang tinggal di Jakarta. Sekitar September 2011, Riki dan temannya pergi ke Jakarta, dan tinggal di apartemen pasangannya. Tentu saja, mereka terlibat interaksi seks.

Sebulan penuh Riki tinggal di tempat itu, sebelum akhirnya kembali ke Bandung. Saat pulang itulah, Riki demam dan memeriksakan diri ke dokter.

“Akhirnya saya tahu, saya kena HIV,” katanya.

DISKRIMINASI

Riki yang kebingungan mencoba menyembunyikan hasil laboratorium. Ibu tirinya yang merasa curiga mendatangi dokter yang biasa merawat Riki. Saat itulah, semua terungkap.

Semenjak diketahui positif HIV, Riki diminta tinggal di salah satu rumah milik orang tuanya. Komunikasi dengan teman-temannya pun dibatasi.

Dalam benak ayah-ibunya, kondisi Riki yang sedang sakit harus dipulihkan dengan gaya hidup sehat dan olahraga. Seluruh alat-alat rumah tangga yang dipakai Riki, dipisahkan dari alat-alat rumah tangga yang dipakai anggota keluarga yang lain.

Ketidaktahuan atas penyakit HIV membuat keluarga Riki “mengisolasi” remaja tanggung itu. Kondisi itu membuat Riki tidak nyaman. Ketika kondisi tubuhnya membaik, dia memilih untuk pergi diam-diam dari rumahnya, dan kembali ke komunitasnya.

Sudah tiga tahun ini saya tidak berkomunikasi dengan Riki. Sampai buku itu diterbitkan beberapa bulan usai wawancara, saya mendapat kabar, Riki hidup dalam kondisi sehat.

Meski tetap mengonsumsi obat-obatan, untuk membuat tubuhnya bertahan dari HIV. (*)

No comments:

Post a Comment

Program

Program