DOKTRIN (NEO) MONROE: BRICS, RUSIA, CHINA DAN IRAN
Dunia heboh oleh aksi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menyusul aksi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer AS.
Mau tak mau, dunia melihat: Dinamika politik di Venezuela saat ini bukan sekadar krisis domestik.
Tetapi panggung benturan antara dogma geopolitik klasik dan norma hukum internasional modern.
Dogma geopolitik klasik itu adalah Doktrin Monroe.
Yaitu kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dicetuskan oleh Presiden James Monroe pada 2 Desember 1823.
Doktrin ini menjadi pilar utama politik luar negeri AS selama berabad-abad.
Secara garis besar, Doktrin Monroe menegaskan Anti-Kolonialisasi: AS menegaskan bahwa Benua Amerika (Utara dan Selatan) sudah "tutup" bagi kolonialisasi baru oleh kekuatan Eropa --saat itu.
Karena AS menganggap Amerika Latin sebagai backyard (halaman belakang) negara Paman Sam itu.
Dalam konteks Venezuela, AS boleh jadi menganggap Maduro secara sengaja dan aktif menyediakan diri untuk berhubungan sangat intens dengan negara-negara yang mengganggu halaman belakang rumah AS.
Dan jalinan hubungan yang intens itu ternyata menyangkut soal energi dan ancaman terhadap dolar AS. Mari kita lihat satu per satu:
Fakta pertama; Venezuela memang memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia (303 miliar barel).
Sabuk Orinoco mengandung minyak berat yang sangat besar.
Kepentingan AS terhadap negara halaman belakangnya jelas: doktrin "Energy Dominance" kembali kuat.
Mengalihkan kontrak dari Rusia/China (Rosneft/CNPC) kembali ke Chevron atau ExxonMobil adalah target strategis lama Washington.
Angka potensi ekonomi puluhan triliun dolar dalam jangka panjang memang akurat secara matematis.
Fakta kedua; Meskipun Bolivia/Chile selama ini dikenal sebagai raja lithium, eksplorasi di Venezuela (wilayah Delta Amacuro) terus meningkat.
Narasi bahwa Maduro lebih memilih China dan Iran daripada perusahaan Barat adalah variable yang memicu kemarahan AS.
Fakta ketiga; Emas & Uranium: Arco Minero del Orinoco adalah zona tambang emas dan uranium.
Maduro memang menggunakan emas untuk bertahan hidup dari sanksi, dan hubungan dengan Iran terkait uranium selalu menjadi "garis merah" bagi AS dan Israel.
Fakta berikutnya; BRICS. Ini sering dianggap sebagai "dosa besar" seorang pemimpin di mata sistem keuangan global.
Apalagi Maduro sangat vokal ingin bergabung dengan BRICS dan menggunakan mata uang selain Dolar (Yuan/Rubel) untuk transaksi minyak.
Jika hal ini berhasil (Venezuela menjual minyak tanpa dolar) pasti melemahkan posisi Petrodollar.
Sejarah mencatat pemimpin yang mencoba keluar dari sistem dolar (seperti Saddam Hussein dengan Euro atau Khadafi dengan Dinar Emas) berakhir dengan intervensi militer AS.
Itulah mengapa Doktrin Monroe –dalam istilah penulis— Neo Monroe bekerja.
Neo: karena ini bukan lagi soal menutup pintu bagi kolonial Eropa masuk ke halaman belakang rumah AS.
Tetapi sudah lebih dari itu.
Siapapun.
Lantas bagaimana dengan isu Narkotika dan dakwaan Narcoterorism?
Ya, itu pintu masuk.
Karena untuk menghadapi asas-asas dalam norma hukum Internasional akan menjadi perdebatan.
Apakah kejahatan luar biasa (narkotika dan terorisme) masih mempertimbangkan Ratione Personae (imunitas jabatan kepala negara dari negara lain)?
“Kemenangan” AS juga diperoleh dengan adanya konflik domestik di Venezuela antara Maduro versus Juan Guaido, tokoh kunci dalam krisis politik Venezuela yang menjadi "alat" legalitas AS untuk mengesampingkan imunitas Maduro.
Sebagai informasi, Guaido adalah Ketua Majelis Nasional (Parlemen) Venezuela.
Pada Januari 2019, ia mendeklarasikan diri sebagai Presiden Interim (Sementara) Venezuela.
Dasar hukum yang ia gunakan adalah Pasal 233 Konstitusi Venezuela, yang menyatakan bahwa jika kursi kepresidenan "kosong" (karena pemilu yang dianggap tidak sah), maka Ketua Majelis Nasional harus mengambil alih kekuasaan sementara.
Lalu terhadap asas Aut Dedere Aut Judicare (Ekstradisi atau Adili), yang mengharuskan negara untuk mengekstradisi pelaku kejahatan internasional, atau mengadilinya di pengadilan sendiri, AS akan mendalilkan bahwa Maduro adalah pelaku kejahatan transnasional (narkotika).
AS berargumen bahwa karena kejahatan tersebut berdampak pada warga negaranya.
Maka mereka memiliki yurisdiksi untuk menuntut, dengan mengesampingkan kekebalan jabatan yang biasanya melekat pada pemimpin negara.
Jurus terakhir, AS akan menggeser Ratione Personae ke Ratione Materiae.
Jika Ratione Personae adalah Imunitas yang melekat pada jabatan (Presiden, Menlu). Artinya: selama menjabat, mereka tidak bisa diadili oleh negara lain untuk perbuatan apa pun.
Maka Ratione Materiae adalah Imunitas yang hanya melindungi tindakan resmi negara.
Jadi, dalam dakwaan terhadap Maduro, AS akan menggeser Ratione Personae dengan tidak mengakui legitimasinya (merujuk kepada legitimasi Guaido), dan sekaligus meruntuhkan Ratione Materiae dengan berargumen bahwa perdagangan narkoba bukanlah "tindakan resmi negara".
Melainkan tindakan kriminal pribadi yang tidak dilindungi imunitas.
“Kemenangan” AS sudah di depan mata.
Karena itulah Trump terus terang dalam konferensi pers terbaru (4 Januari 2026), ia akan mengerahkan perusahaan minyak terbesar Amerika Serikat: Chevron dan ExxonMobil, masuk ke Venezuela.
Untuk memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela yang selama ini dianggap "rusak parah" dan "gagal total" di bawah manajemen Maduro.
Chevron dan ExxonMobil pun sudah mengeluarkan pernyataan resmi, yang intinya mereka “siap berkerja secara konstruktif dengan pemerintah AS”.
Lalu pertanyaanya: Pelajaran apa yang bisa kita ambil?
Yang paling sederhana: Jangan terpecah belah.
Karena dulu saat kita sekolah di SD; kita sering dengar kalimat: Pecah belah dan jajahlah. (*)
S. Alamsyah
*Jurnalis, kandidat doktor Hukum dan Pembangunan Universitas Airlangga, pendiri Pusat Studi Pembangunan berbasis Pancasila.
#foto: https://www.americasquarterly.org/wp-content/uploads/2025/08/GettyImages-2213260744.jpg






Tidak ada komentar