29 October 2008

Mengenalkan Ken Arok di Kota New York

story/photo by Iman D. Nugroho, New York City

Angin sepoi seperti tak mau berhenti menghembuskan dingin di New Jersey, AS, Minggu (26/10/08) pagi ini. Rerimbunan pohon Maple Leaf yang berjejer di halaman belakang kediaman Lenny-Fitri Chowdhury bergoyang pelan. Menggoda puluhan orang di sekitarnya yang sesekali menggigil saat dingin menyergap. "Kalau memang tidak tahan dingin, bisa masuk ke dalam rumah saja, tapi jangan lupa menikmati makanan khas Indonesia ini," kata Bambang Sunarto pada The Post. Minggu pagi itu, Bambang dan puluhan orang anggota Cakra, komunitas suku Jawa di New York sedang melangsungkan pertemuan bulanan. Tidak seperti pertemuan bulanan pada umumnya, pertemuan kali ini tergolong istimewa, karena diadakan pertama kali setelah Hari Raya Idul Fitri. "Biasanya memang pertemuan bulanan, tapi kali ini lebih istimewa karena Halal Bihalal setelah Idul Fitri," jelas Bambang.


Cakra adalah nama komunitas orang Indonesia (khususnya bersuku Jawa) di AS. Selain Cakra, ada juga komunitas lain yang berdiri berdasarkan suku, agama atau lokasi tempat tinggal, di wilayah tempat mereka berada. Seperti Ikatan Pemuda Indonesia (IPI) NY, Pemuda Downtown Indonesia (PDI) NY, Perkumpulan Keluarga Maesa NY, Himpunan Keluarga Masyarakat Maluku, Ikatan Masyarakat Aceh dan Ikatan Keluarga Minang Mangimbau.

Cakra yang berdiri atas desakan anak muda Jawa ini, adalah kependekan dari kata cipta, karsa dan rasa. Dalam bahasa lain, orang yang tergabung dalam cakra harus memiliki kehendak (karsa) untuk mencipta (cipta) sesuatu yang luhur karena dari hati (rasa). "Tapi Cakra bisa juga berarti senjata pamungkas yang ampuh untuk melawan kebatilan, maksudnya, melalui Cakra, anggota komunitasnya akan terbebas dari berbagai godaan kebatilan (baca: keburukan) yang mungkin menggoda mereka selama di AS," kata Mucharor Zuhri, salah satu pendiri dan mantan ketua Cakra.

Sejak Mucharor Zuhri memutuskan pindah ke Houston, Texas, Bambang Sunarto didapuk menjadi ketua Cakra generasi kedua yang terpilih setahun lalu. Bambang mengaku, hal itu membawa "beban" tersendiri. "Memang, ini cuma komunitas biasa. Namun, kita mengemban nama Jawa dan nama Indonesia, apa tidak berat tuh,.." katanya. Apalagi jumlah orang Jawa di New York (tempat Cakra bernaung), tergolong banyak. Mencapai ribuan orang.

Kondisi yang berbeda tampak saat Bambang datang ke AS untuk pertama kali pada tahun 1973. Jumlah orang Indonesia ketika itu sangat sedikit. "Hanya beberapa gelintir orang Indonesia di AS, jadi tidak ada keingian untuk menunjukkan eksistensi di sini," kenangnya. Tak heran bila di tahun-tahun itu, yang dilakukan Bambang hanya bekerja dan bekerja sebagai chef di restaurant milik P.T Pertamina Indonesia.

Sejak kecil, dua anak Bambang bersama Enny Sunarno, Wenny Kartika dan Yudha wirawan yang lahir di AS pun lebih sering bergaul dengan teman-teman dari AS, ketimbang teman-teman dari Indonesia. "Untung saja, saya dan istri tetap memperkenalkan Keindonesiaan kepada dua anak saya, sehingga mereka tidak melupakan akar-nya," kata Bambang.

Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah imigran asal Indonesia semakin banyak. Data yang dimiliki Konsulat Indonesia di New York menyebutkan, jumlah orang Indonesia yang tersebar di 15 negara bagian di AS mencapai 15 ribu orang. Belum lagi orang Indonesia yang memutuskan untuk tidak mencatatkan diri atau ilegal. Bisa jadi lebih dari itu.

Bambang dan para imigran yang yang tergolong berumur, melihat hal itu sebagai alasan untuk merestui keinginan anak-anak muda jawa untuk membuat komunitas tersendiri. "Saya dan Pak Zuhri bersama teman teman lainnya, menyetujui dibentuknya Cakra," katanya. Keterlibatan Bambang di Cakra mendapat dukungan penuh oleh sang istri dan dua anaknya. Setiap ada pertemuan, Bambang dan keluarga selau hadir.

Bambang yang kini anggota Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) untuk Pemilu 2009 itu mengatakan, seringkali orang salah persepsi dengan Cakra dan "kejawaan" yang diusungnya. Bahkan, ada yang menilai, Cakra adalah komunitas yang eksklusif dan hanya dikhususkan untuk orang Jawa saja. "Itu sama sekali tidak benar," terang Bambang. Memang, meskipun membawa nama Jawa, namun anggota Cakra sangat beragam. Tidak hanya dari suku Jawa saja, melainkan dari berbagai suku di Indonesia.

Ada pula yang berasal dari negara di luar Indonesia. "Biasanya kalau yang begitu karena mereka menikah dengan orang Jawa dan ikut bergabung dengan Cakra," kata Bambang. Namun, justru keberagaman itulah yang membuat warna Cakra lebih menarik. Interaksi yang terbungkus dengan semangat kekeluargaan menciptakan toleransi yang lebih besar bagi keberagaman. Bahkan, belakangan ada yang mengertikan "jawa" tidak berarti Jawa (pulau Jawa) melainkan "Jawa" (berangkat ke AS dari Jawa), atau "jawa" (dalam bahasa jawa) yang berarti memahami.

Munculnya Cakra mulai menggeliatkan semangat kebersamaan imigran Indonesia dari suku Jawa suku lain. Saat ini, tercatat ada 63 keluarga dengan 252 jiwa. "Memang, dibanding jumlah seluruh imigran di AS, jumlah itu tidak ada apa-apanya, namun bukankah semua kita mulai dari kecil dulu," kata Bambang. Setiap bulan pria kelahiran Wonogiri 8 September 1949 itu melakukan pertemuan dengan sesama anggota Cakra yang lain. Biasa, pertemuan dilakukan di hal tempat ibadah, atau rumah anggota komunitas Cakra.

Meskipun coba melepaskan dari kejawaannya, namun, Bambang dan pengurus Cakra terus berupaya menyelipkan budaya Indonesia (termasuk Jawa di dalamnya), dalam aktivitas Cakra. Dalam setiap pertemuan misalnya, selalu disajikan makanan-makanan Indonesia. Seperti ote-ote, sate ayam, urap-urap, bakso hingga jajanan pasar tradisional. "Makanan yang kami sajikan dalam acara tidak selalu bisa didapatkan di AS, itung-itu sebagai obat kangen lidah orang Indonesia," kata Bambang.

Yang paling unik adalah memperkenalkan ke-Indonesia-an melalui Media Cakra, sebuah media berbahasa Indonesia yang terbit sebulan sekali setiap akhir pekan. Tidak seperti media pada umumnya, Media Cakra lebih menekankan sisi ke-Indonesia-an. "Di Media Cakra kita bahas berbagai hal berbau Indonesia, seperti Ken Arok, mengenal huruf Java, Negarakertagama hingga resep dan cara membuat makanan khas Indonesia," jelas Bambang.

Meski terdengar sederhana, apa yang dilakukan Cakra membekas di benak generadi muda yang kini hidup di AS. "Saya tetap merasa sebagai orang Indonesia," kata Chita Boedidharma. Menurut gadis berumur 16 tahun itu, hadir dalam kegiatan Cakra adalah saat yang ditunggu-tunggu. "Selain sebagai tempat hang out, di acara seperti ini, mengingatkan kembali bahwa saya adalah orang Indo (baca: Indonesia).


No comments:

Post a Comment

Program

Program