Jakarta (iddaily.net) -Sandwich generation konotasinya mengarah pada kelompok penduduk usia produktif yang secara bersamaan menanggung kebutuhan dua generasi non-produktif. Generasi yang ditanggung termaksud adalah generasi senior (lansia) dan generasi masa depan (anak-anak).
Dalam konteks negara era sekarang, fenomena ini tak lagi sekadar persoalan keluarga. Tapi, telah menjadi persoalan struktural ekonomi, demografi, ketenagakerjaan, dan kebijakan negara.
Dengan kata lain, sandwich generation merupakan titik temu antara penuaan penduduk – rendahnya jaminan sosial – mahalnya biaya hidup – perubahan struktur keluarga – ketidakpastian pekerjaan.
Kemunculan sandwich generation didorong setidaknya oleh tiga penyebab utama.
Penyebab pertama adalah involusi sistem perlindungan sosial dan dana pensiun formal.
Dalam hal ini, sebagian besar tenaga kerja tidak memiliki akses pensiun memadai.
Akibatnya, pembiayaan lansia secara otomatis dialihkan menjadi kewajiban privat kepada anak-anak atau kerabat mereka.
Penyebab kedua, peningkatan umur harapan hidup dan biaya hidup manusia.
Dalam hal ini, meningkatnya umur harapan hidup itu membuat populasi lansia hidup lebih lama, dengan kebutuhan perawatan medis tinggi.
Di saat bersamaan, pengeluaran untuk pendidikan melejit, dan biaya hidup perkotaan melonjak. Sehingga, otomatis memaksa kelompok produktif menanggung beban ganda untuk kedua sisi generasi itu.
Penyebab ketiga, budaya filial piety tanpa literasi finansial. Di mana nilai-nilai normatif religius dan kultural memposisikan anak sebagai asuransi hari tua bagi orang tua.
Ketika tradisi ini berjalan tanpa kesiapan literasi finansial, maka akumulasi kekayaan antargenerasi gagal terbentuk. Hal ini merantai generasi berikutnya ke dalam pola ketergantungan yang sama.
Adapun karakter utama yang tampak menonjol pada sandwich generation itu antara lain intergenerationally burdened.
Di mana sandwich generation menjadi jembatan finansial dan sosial antar-generasi.
Pendapatan mereka dipakai untuk anak, dirinya, dan orang tua. Akibatnya kemampuan menabung, membeli rumah, berinvestasi, dan mempersiapkan pensiun sendiri dapat berkurang.
Karakter lain adalah productive but financially constrained. Dalam hal ini, sandwich generation berada pada periode kehidupan ketika seharusnya produktivitas dan akumulasi kekayaan berada pada titik atas. Tapi ironisnya, sebagian pendapatan justru digunakan untuk care economy.
Karakter selanjutnya, caregiver sekaligus economic engine. Sandwich generation bukan hanya konsumen perlindungan sosial.
Tapi, juga adalah pekerja, pembayar pajak, pengasuh anak, pengasuh lansia, dan penopang konsumsi rumah tangga.
Berhal semua karakter itu, maka sandwich generation sejatinya merupakan infrastruktur sosial-ekonomi tersembunyi suatu negara.
Tentu ada cara jitu sebagai upaya memperkuat kemanfaatan sandwich generation dalam konteks negara era sekarang.
Cara jitu pertama adalah negara mengintervensi dengan menyediakan elderly care terjangkau berbasis komunitas dan skema asuransi kesehatan lansia yang disubsidi.
Sehingga, waktu produktif sandwich generation tidak terbuang habis untuk perawatan fisik harian.
Cara jitu kedua adalah pemerintah memberi potongan pajak penghasilan bagi individu yang terbukti menanggung biaya hidup orang tua non-produktif dan anak sekolah.
Serta, bagi individu yang menciptakan produk investasi dengan yield khusus untuk akumulasi dana pensiun mereka.
Cara jitu ketiga adalah mewajibkan edukasi perencanaan keuangandan pengelolaan utang.
Serta, pengasuransian sejak pendidikan menengah hingga bekerja.
Untuk memastikan anak dari sandwich generation terlindungi dari pola ketergantungan finansial serupa di masa depan.
Sebagai catatan akhir, dapat dikonstatasikan bahwa sandwich generation bukanlah terutama kegagalan individu mengelola keluarga.
Tapi, lebih sebagai konsekuensi dari ketidakseimbangan struktural antara demografi, pasar kerja, sistem kesejahteraan, ekonomi perawatan, dan kontrak sosial antar-generasi.
Berhal demikian, sesungguhnyalah sandwich generation merupakan aset strategis negara yang sedang dibebani oleh terlalu banyak fungsi.
Oleh sebab itu, formula kebijakan negara yang paling tepat bukannya menghapus sandwich generation.
Tapi, menghapus beban struktural yang membuat mereka menjadi sandwich. Nah !🇮🇩
