Jakarta (iddaily.net) – Terminologi partai kecoa (cockroach party) belakangan berkembang dalam diskursus gerakan sosial baru.
Bukan sebagai partai politik formal. Tapi, merupakan metafora yang menggambarkan pola perlawanan politik yang cair, leaderless, tidak terpusat, sulit dikendalikan, dan mampu bertahan di bawah tekanan kekuasaan.
Sebutan kecoa muncul karena karakteristiknya yang mirip kecoa.
Kecil, sulit diberantas, cepat beranak-pinak, bergerak secara sporadis, mampu beradaptasi, cenderung bergerak di bawah permukaan, dan muncul ketika ada momentum ruang politik terbuka.
Dalam konteks negara sekarang, partai kecoa kerap diidentifikasi juga sebagai gerakan politik pascapartai (post-party politics) yang berkembang pada era transformasi digital dan pada kepolitikan demokrasi yang sedang mengalami erosi.
Partai kecoa secara khusus muncul dalam dinamika suatu negara mengalami penyempitan demokrasi.
Terutama ketika lembaga politik formal semacam parpol resmi, parlemen, lembaga hukum, aparatur kekerasan negara, media massa, dan civil society keseluruhannya dikooptasi atau ditekan oleh rejim penguasa dan oligarkinya. Sehingga, saluran aspirasi warga-negara jadi buntu.
Penyebab lain dari kemunculan partai kecoa, karena negara mengkonsolidasi kembali otoriterisme dengan menerapkan sistem pengawasan massal.
Lewat penggunaan AI, pengenalan wajah, dan peretasan komunikasi individu warga oleh negara telah membuat individu dan kelompok kritis jadi rentan diusik dan ditangkap.
Atau, kemunculan partai kecoa bisa juga didorong oleh krisis atau ketiadaan figur politik yang dapat dijadikan payung rujukan politik bagi warga.
Oleh sebab itu, gerakan partai kecoa kerap bersifat anonim.
Selain itu, kelahiran gen Z dan gen Alpha sebagai generasi baru dalam politik suatu negara.
Mereka umumnya tidak tertarik pada ideologi politik yang kaku dan kuno serta narasinya lepas kaitan dengan dunia keseharian mereka.
Oleh sebab itu, generasi baru dalam politik ini lebih memilih gerakan yang fleksibel, kreatif, inklusif, dan mengait langsung masa depan mereka.
Kalau dicermati, maka partai kecoa ini memiliki karakteristik gerakan yang memang beda dibanding gerakan sosial yang selama ini dikenal.
Setidaknya, ada enam karakteristik yang mengedepan.
Karakteristik pertama adalah leaderless dan decentralized. Tak ada struktur organisasi dan tak ada hirarki posisi.
Yang ada adalah peran.
Oleh sebab itu, partai kecoa tak mengenal Ketua, Sekretaris, Bendahara, Komando Pusat, etc.
Mobilisasi digerakan oleh narasi dan atau simbol bersama (meme, hastag, bahasa kode, dan gaya penampilan).
Karakteristik kedua adalah anonimitas dan adaptabilitas digital.
Dalam hal ini adalah optimalisasi pemanfaatan platform terenkripsi (telegram, line, signal, jaringan dark web) serta koordinasi peer-to-peer.
Mereka tahu persis platform yang diakrabi aparatur kekuasaan negara. Sekaligus paham cara menghindarinya.
Karakteristik ketiga adalah fokus pada politik taktik hit-and-run.
Di mana gerakan partai kecoa bisa muncul mendadak dalam bentuk flash mob, sabotase informasi atau sistem, lalu menghilang dan lebur dalam keseharian warga sebelum aparatur kekuasaan negara sempat merespons.
Karakteristik keempat adalah memiliki daya tahan dan anti-rapuh terhadap represi oleh penguasa negara.
Sebab, jika satu individu atau elemen ditangkap karena sikap kritis dan perlawanan terhadap kekuasaan yang dzolim, maka gerakan partai kecoa tak akan pernah mati.
Karena tak ada kepala atau bagian tubuh yang dapat dipenggal. Bahkan, penangkapan justru bisa menjadi energi tambahan yang memicu solidaritas baru.
Karakteristik keenam adalah satiris. Dalam hal ini, bisa jenis satire horatian, juvenalian, atau menippean.
Sedangkan bentuk karyanya dapat berupa parodi, karikatur, kartun, komedi, berita palsu untuk lucu-lucuan.
Sejauh ini belum ada studi yang mendalam perihal efektivitas partai kecoa melawan kekuasaan yang otoriter dan represif.
Tetapi, banyak ahli yang meyakini bahwa partai kecoa amat efektif sebagai pembuka jalan untuk pelemahan otoriterisme. Namun, tidak cukup efektif untuk kebutuhan konsolidasi jangka panjang.
Artinya, partai kecoa diyakini efektif dalam mengikis legitimasi rejim otoriter, meningkatkan biaya pengawasan thd warga, melambungkan biaya keamanan bagi otokrat, memicu demoralisasi di tingkat aparatur negara, dan menggalang solidaritas internasional untuk menekan otoriterisme.
Namun, pada sisi lain diyakini kalau partai kecoa tidak efektif dalam mengisi kekosongan kekuasaan.
Sebab, tanpa adanya pengorganisasian pasca jatuhnya kekuasaan, maka gerakan sosial baru semacam partai kecoa rentan menyisakan kekacauan politik, hal mana justru bisa dimanfaatkan oleh kelompok militer atau faksi otoriter lain untuk mengambil alih kembali kekuasaan.
Tapi satu hal yang pasti, gerakan sosial baru yang menyerupai partai kecoa sangat potensial berkembang di banyak negara, dengan nama dan simbol yang berbeda-beda.
Karena, fenomena partai kecoa ini bersifat lintas batas. Untuk sebagian didorong oleh krisis global yang serupa (ketimpangan ekonomi dan erosi demokrasi).
Gerakan sosial baru dengan pola menyerupai taktik partai kecoa telah terlihat dalam berbagai gejolak politik sepanjang tahun 2025 – 2026.
Terutama didominasi penampakan Gen Z. Seperti gerakan sosial baru di Bulgaria, Filipina, Serbia, Peru, Nepal, Perancis, Madagaskar, Jerman, spanyol, No Kings di AS, dan Cockroach Janta Party di India.
Jika ditarik benang merah atas keseluruhan gerakan sosial baru sepanjang 2025-2026 di berbagai belahan dunia, maka tampaknya ada pergeseran pertarungan politik.
Dari pertarungan antara kekuasaan negara vs kekuatan oposisi formal menjadi pertarungan antara kekuasaan yang makin terpusat dan otoriter versus warga yang terhubung dengan jejaring horisontal dan digital.
Dalam konteks itu, partai kecoa dapat dipahami sebagai manifestasi dari transformasi politik kontemporer.
So, partai kecoa bukanlah ideologi politik. Tapi, lebih merupakan metafora gerakan sosial baru yang lahir akibat tertutupnya saluran representasi, kekuasaan otoriter yang membungkam daya kritis warga, dan ketimpangan ekonomi.
Kekuatan utama partai kecoa terletak pada fleksibilitas, daya tahan, dan kemampuan mobilisasi secara cepat lewat digital.
Dan, yang terpenting adalah partai kecoa dapat menjadi instrumen efektif untuk mengoreksi kecenderungan otoriterisme.
