ERA KENCAN MODERN. BAGAIMANA EKSPEKTASI PEREMPUAN?

Seiring penonton terus terpikat oleh romansa dan ritual sosial dalam Bridgerton di Netflix, Hari Perempuan Internasional ini menghadirkan pertanyaan budaya yang relevan: Jika perempuan berkencan di era Regency pada masa kini, seberapa berbeda ekspektasi mereka?

Meski Bridgerton meromantisasi gestur megah, musim debut sosial, dan “pasar pernikahan”, kenyataannya bagi perempuan di era tersebut sangat jelas — pernikahan adalah soal bertahan hidup.

Menurut Violet Lim, Co-Founder & Group CEO Lunch Actually Group, budaya kencan di era modern mencerminkan salah satu bentuk pemberdayaan perempuan yang paling signifikan namun jarang dibahas.

“Hari Perempuan Internasional adalah tentang merayakan kemajuan. Salah satu perubahan terbesar yang kami lihat adalah perempuan tidak lagi berkencan untuk bertahan hidup — mereka berkencan untuk membangun partnership.”

Pergeseran Budaya dalam Kekuasaan

Di masyarakat era Regency, pernikahan sering kali menjadi satu-satunya jalan perempuan menuju stabilitas finansial dan status sosial. 

Usia muda, kecantikan, dan latar belakang keluarga menentukan nilai mereka. Reputasi mereka sangatlah rapuh, dan kemandirian secara ekonomi hampir tidak ada.

Perempuan memiliki agensi yang terbatas. 

Mereka menunggu untuk dipilih.

Sekarang: Perempuan Memilih — Bukan Mengejar

Di Singapura, Hong Kong, Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Taiwan, perempuan masa kini berpendidikan, mandiri secara finansial, dan sadar secara emosional.

Berdasarkan insight kencan regional Lunch Actually Group, perempuan modern memprioritaskan, kematangan emosional, transparansi finansial, Visi jangka panjang yang selaras, penghargaan terhadap karir mereka dan tanggung jawab dan komunikasi yang sehat.

Pertanyaan mendasar kaum perempuan telah berubah, dari “Apakah dia akan memilih saya?” menjadi
“Apakah dia selaras dengan tujuan hidup saya?”

Perubahan ini mencerminkan pemberdayaan dalam bentuk yang paling personal. 

Kemandirian Mengubah Persamaan

Salah satu data paling menarik dari Annual Dating Survey oleh Lunch Actually Group menunjukkan,
83 persen pria lajang di Asia bersedia berkencan dengan perempuan yang berpenghasilan lebih tinggi dari mereka.

Sejumlah 80% perempuan di Asia tidak bersedia berkencan dengan pria yang berpenghasilan lebih rendah.

Sekilas, ini tampak kontradiktif di era kesetaraan. 

Namun, ini mencerminkan transisi yang lebih dalam.

Perempuan masa kini mampu secara finansial untuk menghidupi diri sendiri. 

Namun banyak yang tetap mencari stabilitas, keselarasan ambisi, dan tanggung jawab finansial bersama dalam pasangan hidup. 

Ini bukan lagi soal ketergantungan — melainkan kompatibilitas jangka panjang dan keselarasan gaya hidup.

Sementara itu, tingginya persentase pria yang terbuka pada perempuan berpenghasilan lebih tinggi menunjukkan bahwa hambatan ego pria yg cenderung tradisional, mulai melunak. 

Maskulinitas sedang didefinisikan ulang — bukan lagi sekadar menjadi pencari nafkah utama.

Kemandirian finansial memberdayakan perempuan untuk meningkatkan standar — dan menantang pria untuk berkembang.

Munculnya Kencan yang Lebih Intensional

Pasca pandemi, tren kencan yang lebih intensional semakin terlihat. Perempuan kini:

  • Menetapkan batasan yang lebih jelas
  • Berani meninggalkan ketidakselarasan
  • Memilih kompatibilitas jangka panjang dibanding chemistry jangka pendek
  • Menunda pernikahan daripada terburu-buru

“Dua abad lalu, perempuan tidak memiliki kemewahan untuk berkencan secara intensional — pernikahan adalah soal bertahan hidup. Hari ini, perempuan memiliki kebebasan untuk memilih, dan kebebasan itu secara alami meningkatkan standar," jelas Violet Lim. 

Namun kencan intensional bukan tentang menolak pria — ini tentang mendefinisikan ulang partnership. 

Hubungan modern tidak lagi dibangun atas keuntungan gender, di mana pria memimpin hanya karena tradisi. Hubungan dibangun atas nilai yang selaras.

Bagi pria, ini adalah peluang. Pria yang berinvestasi dalam kecerdasan emosional, stabilitas, dan tujuan hidup adalah mereka yang menonjol. 

Dan bagi perempuan, pemberdayaan juga berarti tetap terbuka — memberi ruang bagi pria untuk hadir sebagai partner yang setara.

"Masa depan cinta adalah milik dua individu yang matang secara emosional yang saling memilih — bukan karena tekanan, tetapi karena keselarasan,” jelas Violet Lim.

Di era Bridgerton, satu musim yang gagal bisa berarti penurunan status sosial. Hari ini, tetap melajang bisa menjadi pilihan yang percaya diri dan penuh kuasa.

Kecerdasan emosional kini melampaui status sebagai faktor daya tarik utama. Jika dulu kekayaan dan gelar menentukan desirabilitas, kini perempuan modern semakin menghargai rasa aman secara psikologis, kemampuan komunikasi, dan konsistensi emosional.

Standar tidak lagi dianggap “terlalu pilih-pilih”. Standar mencerminkan harga diri, kejelasan, dan kedewasaan — ciri khas kencan intensional di era sekarang.

Penting di Hari Perempuan Internasional

Hari Perempuan Internasional merayakan kesetaraan dan kemajuan — dan dinamika kencan adalah bagian dari cerita kemajuan tersebut.

Kemandirian finansial telah membentuk ulang ekspektasi romantis. Kesadaran emosional telah meningkatkan standar. Kepercayaan diri menggantikan kepatuhan.

Romansa mungkin abadi, tetapi apa yang perempuan harapkan dari cinta telah berubah secara fundamental.

Kesatria modern bukan lagi soal dominasi atau kontrol finansial, melainkan tentang rasa hormat, keamanan emosional, dan tanggung jawab bersama.

Perempuan tidak lagi menunggu diam-diam untuk dipilih di ruang dansa. Mereka secara aktif memilih pasangan yang selaras dengan nilai, ambisi, dan visi masa depan mereka.

Dan mungkin inilah refleksi kemajuan yang paling kuat: cinta bukan lagi kebutuhan untuk bertahan hidup — melainkan keputusan sadar yang berakar pada kesetaraan.

“Pemberdayaan hari ini bukan hanya tentang memiliki kursi di meja rapat. Ini juga tentang memiliki suara dalam memilih dengan siapa Anda membangun kehidupan.” jelas Violet Lim.

#RilisPers
#Foto: https://demo.ayoti.in/wp-content/uploads/2018/01/empowered-woman-1536x768.jpg

Tidak ada komentar