BUKU PANDUAN MELAWAN TIRANI. INDONESIA SEDANG TIDAK BAIK-BAIK SAJA

Suasana hangat mewarnai acara buka puasa bersama insan perbukuan Jakarta di Resto Maestro Resort, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (7/3).

Dalam kesempatan itu, ReneTuros Group melalui Turos Pustaka meluncurkan buku “Panduan Melawan Tirani” karya reformis Islam, Abdurrahman Al-Kawakibi.

Diskusi menghadirkan pakar hukum tata negara Feri Amsari dan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada Tiyo Ardianto sebagai pembicara. 

Sejumlah tokoh perbukuan juga hadir, termasuk Ketua IKAPI Arys Hilman Nugraha, bersama para penulis, penerjemah, reseller, toko buku, pembaca, dan pelaku industri buku lainnya.

CEO ReneTuros Group Luqman Hakim Arifin menjelaskan bahwa bukber insan perbukuan Jakarta ini merupakan agenda tahunan yang mempertemukan para pegiat literasi di bulan Ramadhan. 

Tahun ini dibarengi dengan peluncuran buku.

“Tujuan penerbitan buku ini adalah menghadirkan kembali khazanah pemikiran politik Islam yang jarang dikenal, tetapi sangat relevan dengan kondisi Indonesia dan dunia saat ini,” ujar Luqman.

Menurutnya, literasi perbukuan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran publik terhadap praktik kekuasaan yang menyimpang. 

“Buku tidak boleh hanya ada di menara gading. Ia harus relevan dengan kondisi pembaca. Karya Al-Kawakibi mengingatkan kita bahaya tirani dan cara menyikapinya,” tambah Luqman.

Dalam diskusi, Feri Amsari menilai pemikiran Al-Kawakibi sebagai salah satu khazanah penting dalam tradisi intelektual Islam yang selama ini kurang dikenal dalam kajian ketatanegaraan.

“Saya jarang menemukan pemikir Islam yang mampu menerawang begitu jauh soal ketatanegaraan seperti Al-Kawakibi,” kata Feri. 

Menurutnya, keterbatasan penerjemahan dan penerbitan kitab-kitab klasik membuat gagasan lama tidak hadir dalam diskursus publik Indonesia.

Feri juga menyoroti praktik konstitusi di Indonesia.

Menurutnya, banyak gagasan Al-Kawakibi sebenarnya sudah tercermin dalam sistem ketatanegaraan modern, tetapi problem muncul pada lemahnya fungsi pengawasan dalam sistem politik.

“Masalahnya bukan hanya pada presiden. DPR pun sering tidak menjalankan fungsi pengawasan secara serius. Di situ terlihat adanya kerusakan fungsional dalam sistem,” ujarnya.

Sementara itu, Tiyo Ardianto menilai buku Al-Kawakibi ini provokatif dalam arti positif, karena mendorong masyarakat untuk mengenali dan melawan tirani dalam kehidupan politik modern.

“Tirani sering bertahan karena dua hal: ketakutan dan kebodohan. Ketika masyarakat takut dan kehilangan keberanian berpikir kritis, tirani akan terus hidup,” kata Tiyo.

Ia menambahkan bahwa buku ini juga membuka ruang imajinasi politik bagi masyarakat untuk membayangkan perubahan di masa depan.

“Buku ini membantu kita berimajinasi politik, bahkan membayangkan kemungkinan reformasi jilid kedua. Walau terasa terlambat, kehadiran buku ini tetap penting,” ujarnya.

Diskusi yang dihadiri akademisi, aktivis, dan pemerhati demokrasi itu menegaskan bahwa pemikiran klasik seperti karya Al-Kawakibi pun tetap relevan untuk membaca situasi politik kontemporer. 

Para pembicara sepakat bahwa Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja, dan menghadirkan kembali karya-karya pemikiran kritis merupakan langkah penting untuk memperkaya diskursus publik serta memperkuat kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai demokrasi dan keadilan.

#RilisPers
#Foto: Dokumentasi

Tidak ada komentar