Breaking News

PSSI resmi mengumumkan John Herdman sebagai pelatih baru Tim Nasional Indonesia, pada Sabtu, 3 Januari 2026, menandai dimulainya era baru sepak bola nasional.

PADA MALAM ITU,...

Tommi bergaji tak besar, walau tak pas-pasan juga. Ia punya rumah satu lantai berukuran tanggung, yang tertancap di tepian kota dan dibeli lewat mengutang selama belasan tahun. 

Rumahnya itu kerap diterpa banjir selutut, hasil dari penguasa di kotanya yang rajin merusak lingkungan, serajin mereka mencuri, menipu dan menyebut nama Tuhan. 

Menuju usianya yang ke 33 tahun, Tommi punya mobil baru. Anak semata wayangnya akan masuk SD dan istrinya terus merajuk ingin punya kendaraan roda empat. Mita, isterinya itu sebenarnya perempuan yang santai dengan hidupnya. Tapi, orang yang santai pun tetap tak tahan digempur standar keluarga muda yang dipatok TikTok . 

Demi memiliki mobil yang kembarannya ada dimana saja itu, Tommi mesti menanggung hutang baru. Dia sebenarnya kesal, namun setiap melihat istrinya tersenyum, kesalnya itu enyah. Sejak mereka pacaran, kata Tommi, perempuan ini punya senyum pemadam api. Bila seluruh semesta terbakar pun, ia tetap merasa aman.

Gara-gara membeli mobil, mimpi Tommi melanjutkan S2 harus dipendam lebih dulu, mungkin juga sudah dibuang ke tong sampah. Pikirnya, seusai mobil terlunasi, pasti ada lagi yang harus dibeli. Lagi pula setiap Lebaran tiba, mertua dan ipar-iparnya yang bawel tak akan bertanya soal pendidikannya. 

Pendidikan bukan hal menarik di keluarga besar isterinya. Tema ini hanya dipamerkan sesekali, terutama bila anak-anak mereka meraih piala untuk lomba ini dan itu, atau dikukuhkan sebagai penghafal kitab suci. Dimana saja, anak-anak memang kuda pacu bagi kebanggaan orang tuanya.

Ipar-ipar dan mertuanya lebih peduli apakah Tommi sudah punya mobil untuk mengangkut keluarga kecilnya atau masih berkilah kesana-kemari sambil menggaruk-garuk kepala, —seolah rambutnya diserang ratusan kutu. Tetapi Lebaran tahun ini Tommi dan terutama  isterinya bisa mengembangkan senyum yang berbeda. Jenis senyuman yang harus dibayar tagihannya tiap awal bulan.

"Sudah punya mobil kamu Tom sekarang. Keren, kemajuan. Kapan umroh?!", tanya seorang ipar sambil menepuk-nepuk pundaknya. Iparnya yang ini seorang perwira polisi. Punya karir bagus, rumah lima buah dan empat mobil mewah. Di keluarga besar mereka, siapapun yang punya apa saja, menerima hak untuk mengatakan apa saja. Maka perwira itu sangat berhak.

"Kontol! Bajingan penyuka uang haram ini tak bisa diam!!", bentak Tommi nekat. Kalimat tersebut tercetus hanya dalam pikiran semata. Kenyataannya Tommi hanya tersenyum, sedikit menunduk, sembari menimpali dengan sopan. Uang, kekuasaan, dan hirarki keluarga baru saja mendisiplinkan mulutnya, —seperti yang sudah-sudah.

*

Lantaran niat S2-nya terlunta-lunta, Tommi jadi lebih sering nonton YouTube. Di sana ada timbunan siniar yang menjajakan beragam informasi. Tommi percaya dengan rajin menonton siniar, wawasannya akan menebal. Bila pukul delapan malam datang, ia pun bergegas ke sofa. Duduk nyaman menyimak ucapan pembicara dengan khusyu, kagum, juga bingung.  

Tayangan yang paling digemarinya seputar bisnis sampingan dan investasi paruh waktu. Hidup Tommi dijejali aneka tagihan, sehingga dia mesti mengutamakan konten yang relevan. Kadang-kadang saja ia beralih ke kanal agama, sesekali  ke sains, lain waktu ke dunia otomotif. Sampai suatu hari, Tommi tertahan di tayangan yang berbeda. Politik.

"Masyarakat Sipil harus bergerak. Rezim tak bisa dibiarkan bertingkah! Polisi sudah amat sangat keterlaluan!", ujar pria setengah muda, setengah pintar, setengah dibuat-buat, galak sekali.

Tommi tahu, ini bukan contoh tayangan yang bisa membuatnya segera melunasi rumah dan mobil. 'Masyarakat Sipil' yang disinggung pembicara tadi juga tak akan membantunya membungkam mulut para ipar. Entah apa yang membuat Tommi betah menontonnya, hanya dia yang paham.

"Orang itu mau ngapain sih?". Mita yang baru nongol, menyapanya dengan pertanyaan.

"Ngelawan negara kayaknya."

"Haah, ngelawan negara?? Kayak kurang kerjaan aja!"

"Mungkin memang itu kerjaannya."

"Dapat duit gitu?"

Obrolan semacam itu tak pernah berkembang lebih jauh. Mita tak pernah tertarik dengan politik. Dulu waktu masih kuliah ia suka menari. Menghabiskan hari-hari yang riang selepas kuliah di sanggar. Ia bermimpi bisa hidup dengan tarian, tetapi selalu kesulitan mendapatkan jawaban bila ada yang bertanya siapa akan membayar pertunjukan tarinya. Karenanya, selepas kuliah Mita memutuskan bekerja di bank. Di sanalah pertama kali dirinya bertemu dan berkenalan dengan Tommi. 

Sebenarnya Tommi bukan pilihan utama Mita. Bertahun lamanya Mita menjalin kasih dengan Rudi. Lelakinya itu seorang musisi, yang manggung kesana kemari, tapi tak kunjung tenar. Mita sering menyisihkan gajinya yang tak seberapa untuk menunjang karir Rudi. Kadang ia membelikan setelan yang agak mahal agar Rudi terlihat cemerlang di panggung. Kadang ia menraktir kekasihnya makanan yang enak-enak, agar Rudi gembira dan terutama lagi bisa melupakan minuman keras.

Tentu saja orangtua Mita tak menyukai Rudi. Deretan nada, suara gitar, dan bait lagu milik Rudi tak dipercaya bisa menafkahi anak gadisnya. 

"Suara Rudi mungkin indah, tapi apa bisa membelikan rumah?  Gitarnya terdengar menyayat hati, tapi diragukan bisa menghentikan suara tagihan listrik yang berbunyi!, tegas ayah Mita. 

"Apalagi bau miras di kerongkongannya itu akan ikut menyeretmu masuk ke jurang neraka. Aku gak sudi cucu-cucuku menggelepar di dalam penggorengan malaikat!", sahut ibu Mita.

Lama-lama Mita pun bimbang. Menepi dan sejenak merenggangkan hubungan dengan Rudi. Pria itu tidak keberatan. Sepertinya ia memang pengertian.

Dan dalam momen kebimbangan Mita, Rudi meluncurkan album baru. Tanpa disangka album itu meledak hebat. Lagu-lagunya viral. Secepat kilat Rudi pun meninggalkan Mita, mengejar cinta seorang biduan dangdut bertubuh sintal. Biduan dangdut dan Rudi lalu berkolaborasi membuat lagu tunggal yang laris. Lagu itu berjudul, "Cinta Hanyalah Olok-Olok". Di telinga Mita, lagu itu adalah sekejam-kejamnya olok-olok. Olok-olok yang lantas membawanya kepada keputusan besar, menikahi Tommi.

"Kau mencintai ku, Tom?"

"Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau dari mana...."

"Setop Tommi! Itu Pablo Neruda! Kau malah kelihatan tolol karenanya."

"Aku mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan..."

"Setop Tommi!"

"Jadi kau pun tak suka Sapardi?"

Mita ingin lekas menikah, kelihatan amat tergesa-gesa. Suatu malam dia mendesak orang tuanya. "Tommi sudah bekerja.  Memiliki prestasi di perusahaan menengah. Kelak dia akan punya posisi bagus. Dia rajin ibadah. Gemar menolong. Menghormati orang tua. Sopan. Takut Tuhan. Bisa diandalkan. Dibesarkan dari keluarga dengan nilai-nilai luhur. Wajahnya juga ganteng. Kalian akan punya cucu-cucu berparas rupawan. Apalagi?", lebih dari separuh penjelasan Mita itu bohong belaka, tetapi berhasil membuatnya menikah.

Mereka pun menikah dengan pesta yang agak boros. Biaya pesta dari pihak laki-laki setengahnya ditanggung Tommi. Dan itu menjadi utang besar pertamanya. Tommi sadar cinta butuh pengorbanan. Dia mempelajarinya dari sehimpun puisi yang dibacanya sejak SMA. Satu-satunya penyesalannya, pengorbanan dengan berhutang di bank tak pernah ditulis dalam puisi cinta manapun.

"Kamu nonton apa sih, Yang?". Mita menyisir rambut Jamila, putrinya, ketika melihat Tommi  begitu serius dengan apa yang ditonton. Itu sabtu sore, dan Tommi tak lagi pergi bermain bulutangkis bersama bapak-bapak di komplek perumahan.

"Ini anggota parlemen pada joget-joget. Kayak gak punya hati nurani."

Di depan rumah bendera negara tak lagi berkibar. Entah Tommi sengaja atau lupa. Padahal itu bulan peringatan hari kemerdekaan.

"Itu mesin cuci lagi ngadat! Kayaknya suruh beli yang baru. Kamu lagi nonton apalagi sih, Yang?"

"Proyek Tan Malaka!"

"Jomblo seumur hidup itu memang pernah jadi mandor proyek?!", Mita menyingkir dengan ketus.

*

Suasana ibukota tengah menegang. Media sosial riuh tiada henti. Caci maki dan murka teraduk-aduk di internet, atau sebenarnya berusaha diaduk-aduk oleh tangan tak kentara. Di kesempatan seperti itu, Rudi dan biduan dangdut membuat lagu dadakan yang dalam sekejap menyebar viral. Judulnya "Rakyat Hanyalah Olok-Olok".  

Sementara pembicara di siniar silih berganti mengecam  parlemen. "Mereka harus disiram masuk ke lubang toilet sejarah, merekalah tinjanya!". Akun media sosial organisasi mahasiswa meminta rakyat untuk turun ke jalan, tapi dengan damai. Akun media sosial lain, yang berwarna serba hitam, menulis pesan singkat: "Kamerad semua, inilah saatnya!"

Dua hari kemudian kerusuhan pecah. Gedung-gedung mulai dibakar, sejak seorang ojol dilindas mati oleh mobil baja polisi. Penduduk keluar dari gang-gang kampung miskin, membawa batu, tongkat, linggis, dan yang pasti bergumpal-gumpal kemarahan.  Ibukota tak lagi dalam genggaman penuh aparat. Dan itu hari Senin, hari pertama kerja. Saat Tommi harus pulang mendadak mengendarai mobil barunya.

"Bangsat, ini mah bisa penyok mobil ku! Mana cicilannya masih panjang.". 

Kerumunan massa yang nyaris membuntu jalan, membuat Tommi berputar balik. Ia menuju ke kantornya lagi. Memarkirkan mobil di sana, sebab yakin kantor itu bukan sasaran favorit massa. Setelahnya, Tommi terdiam untuk sejenak waktu. Dia menatap langit lama sekali. Menyalakan rokok, menghisapnya berbatang-batang. Ada kecemasan di rona mukanya. Ada yang mengendap kuat di dalam batok kepala.

Malam itu sendri ditandai kabar penjarahan rumah anggota parlemen. Videonya menyebar cepat di media sosial. Rumah Tejo, anggota parlemen yang sebelumnya seorang pelawak, dibobol ramai-ramai. Empat ekor kucing piaraannya digondol. Sepeda statisnya ikut dipreteli, sehingga bisa berpindah jauh, tak lagi statis.

Kediamaan Johny, pengusaha tanker yang kemudian jadi elite politik, diserbu. Koleksi mobil mewahnya dirusak dan dikencingi. Kondomnya juga ikut dicuri. Tempat tinggal Sarimin, pria yang tidak pernah tahu kenapa dia dulu ikut-ikutan menjadi pengurus partai, tak luput diamuk. Celana dalam isterinya diembat penyerbu.

Sementara di rumah berlantai satu, Mita berangsur-angsur mulai bisa tenang. Setelah menidurkan Jamila, dia  mendapat pesan menyakinkan dari suaminya.

"Gak ada apa-apa. Aku gak lama lagi sudah sampai di rumah, naik kereta sama teman-teman."

"Mobil aman?"

"Aman!"

"Mobil aman??"

"Aman!"

*

Makin malam kerumunan massa yang beringas makin bertambah. Jalanan sudah di penuhi ban yang dibakar, juga puing-puing paving berserakan, serta air kotor bekas siraman water cannon. Halte bus mulai hangus satu persatu. Toko-toko tutup, tapi tak ada yang digedor. Diantara massa yang tak tahu harus berbuat apalagi, tiba-tiba ada seorang pria berpidato. Bahasanya memikat. Mirip tontonan di YouTube.

"Jadi kalian berhamburan ke sini mau apa? Bukankah pria ada di jalanan demi sebuah tujuan?! Jika malam ini kalian tidak bisa menegakkan keadilan, lebih baik pulang, meringkuklah di ranjang kalian!"

Sebab massa mulai menyimaknya dengan baik, beranilah pria ini memberikan aba-aba. Entah mengapa, massa  pun patuh menurutinya. Pria itu tentu saja Tommi, yang masih mengenakan setelan kantor. Dia tampak sudah belajar banyak dari YouTube. Dia memang bukan pembicara terkenal di siniar, tapi pada malam itu ia benar-benar didengar. Dia akan memberikan contoh nyata tentang menegakkan keadilan.

"Anggota parlemen sudah dilucuti. Giliran memberi pelajaran buat bandit berseragam. Serbu rumah perwira Udin! Korup, busuk, dan gila perempuan!"

Udin adalah nama saudara ipar Tommi. Yang Lebaran lalu menanyainya soal umroh. Yang sejak awal pernikahannya dengan Mita selalu mengusikmya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan. Bagi Tommi mulut Udin adalah mulut raja setan.

"Hidup rakyat!".

Untuk kali pertama pekik tersebut keluar dari mulut Tommi. Disahuti ratusan atau mungkin ribuan orang yang mengekor di belakangnya.  Mereka bergerak ke sebuah rumah mewah yang hanya Tommi yang tahu, bahwa rumah itu milik perwira Udin. Hanya Tommi yang tahu, di sana artis muda bahenol simpanan perwira Udin tinggal. 

"Hidup rakyat!", sekalilagi Tommi memekik. Sekalilagi  kerumunan yang mengular itu menyahuti. Tommi sadar, ini sama sekali bukan tentang rakyat, melainkan kesumat pribadi yang sudah berkarat. Tommi mengetahui itu dari YouTube, juga instagram, juga TikTok tentang bagaimana memakai "Hidup Rakyat" dan memanfaatkannya dengan baik. Lagi pula dia sudah delapan tahun bekerja sebagai sales marketing andalan. Piawai dalam menjual dan menggoda. Pada malam itu, dia sukses memasarkan kemarahan dalam grosir besar.

"Kau akhirnya membayar apa yang harus kau bayar, Din!"

Kerumunan  terus berjalan, rumah perwira Udin makin dekat. Tommi mulai menjauh dari barisan. Sambil tersenyum dia mendengar massa yang kompak menyanyikan lagu "Rakyat Hanyalah Olok-Olok".  Lagu yang meriah dan menyemangati. Lagu yang malam itu juga diputar pelan-pelan Mita di kamarnya.  Sambil berlinangan air mata. Memandangi foto Rudi. 

*end*

#Fajar
#foto: https://www.scientificamerican.com/article/treat-or-trick-astronomical-objects-are-beautiful-and-creepy/

Tidak ada komentar