21 June 2008

Aksi Jadjit Mewarnai Bukit

Iman D. Nugroho

Kegemaran Jadjit Bustomi bercocok tanam berbuah manis. Sebuah bukit seluas 118 Ha di tak jauh dari tempat tinggalnya yang semula tandus, berubah rimbun dan menghijau. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun menganugerahinya Kalpataru.


Rasa ingin tahulah yang mendorong Jadjit Bustomi mengajak anak-anak didiknya di Sekolah Dasar (SD) Sucolor I Maesan Bondowoso untuk mendatangi Bukit Paseban. Peristiwa yang terjadi pada pertengahan 1977 lalu itu awalnya hanya sebuah study tour biasa. Namun, semua hampir berubah menjadi bencana, ketika seorang anak didiknya terpeleset batu dan jatuh berguling.guling ke arah bawah.

“Saat itulah saya mengetahui, betapa berbahayanya bukit yang gundul. Bebatuan bisa longsor, dan menimpa orang-orang yang tinggal di bawahnya,” kenang Jadjit Burtomi. Sejak saat itu, Jadjit bermimpi untuk bisa menghijaukan bukit yang ada di Maesan, Bondowoso. “Tapi bagaimana?” kenangnya.

Kisah Jadjit di Suco, Maesan, Bondowoso berawal dari keprihatinan atas banyaknya guru yang selalu meminta mutasi (pindah) dari Suco, Maesan, sekitar 12 Km dari pusat Kabupaten Bonwodoso. Tidak jelas karena apa, namun Jadjit menduga, daerah Suco yang kering dan panas yang membuat hal itu terjadi.

Karena itulah, mantan pekerja perusahaan serat karung di Kediri, Jawa Timur ini memutuskan untuk pindah di Bondowoso dan menjadi guru. Sesuai dengan ijazah Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Kediri yang dimilikinya. Tahun 1977, Jadjit resmi pindah ke Kota Tape itu. Laki-laki murah senyum ini mengaku terperangah ketika menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Suco, Maesan.

Selain, bukitnya gundul, kondisi pun gersang. "Entah mengapa, saya berpikir, bagaimana mengubah kondisi ini," katanya. Jawaban pun muncul tanpa sengaja ketika ia melihat anak didiknya berjalan menembus terik sinar matahari. Rasa iba membuatnya beride untuk mengajak anak didiknya menanam bibit pohon di sepanjang jalan menuju desa. “Saya hanya ingin anak-anak tidak kepanasan lagi saat pulang sekolah,” katanya.

Beberapa tahun kemudian, pohon itupun tumbuh menjadi “payung” di sepanjang jalan menuju sekolahan. Merasa hasil kerjanya bermanfaat, Jadjit mengembangkan idenya dengan menggarap sawah dan tegalan milik tetangga kanan dan kirinya. Ayah dari dua anak adopsi ini menilah jagung dan kacang yang kebanyakan ditanam di sawah dan tegalan penduduk Suca, tidak memiiliki daya dongkrak ekonomi.

Pete, mangga dan durian adalah tiga jenis tanaman yang diperkenalkan Jadjit pada penduduk desa. Awalnya, tidak ada yang menyambut ide itu. "Mungkin karena belum terbiasa, saya coba dulu di tegalan milik saya, akhirnya penduduk desa pun menyadari bahwa pete, mangga dan durian lebih menguntungkan,"kenangnya.

Bagaimana tidak, dalam satu tahun, satu batang pete bisa menghasilkan 6000 lonjor pete. Penduduk pun meminta Jadjit untuk mengajari mereka cara menanam pete. Singkat kata, pete pun menjadi salah satu "harta karun" baru di Suco. Untuk memenuhi kebutuhan benih pete, Jadjit dan masyarakat membuat setidaknya 100 ribu bibit pete untuk masyarakat desa.

Bibit itu tidak dijual, hanya membayar ongkos produksi Rp.200,-/bibit, uanganya pun diolah untuk kembali menjadi bibit,"katanya Seksi Lingkungan Hidup Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) Maesan ini. Hebatnya, secara perlahan-lahan pete-nisasi yang dilakukan Jadjit membuat bukit yang awalnya gundul, berbubah menjadi hijau. Masyakat yang kebetulan memiliki lahan di bukit, menanaminya dengan pete, mangga dan durian.

Kasus pete itu, membuat Jadjit dikenal sebagai ahli bibit. Selain juga seorang guru. Jadjit semakin aktif mencari jenis tanaman yang cocok untuk ditanam di Suco, Maesan, dan tentu saja membawa keuntungan bagi masyakat sekitar. Bermacam-macam pembibitan pun dilakukan. Seperti bibit Gamelina atau Jati Belanda, Sengon Laut dan Sengon Butuh. Bahkan, pembibitan kayu jati emas.

Dalam sebuah lomba penanaman sejuta pohon pada tahun 2004, apa yang dilakukan Jadjit mendapatkan nilai paling tinggi. Berturut-turut, Jadjit pun memperoleh berbagai penghargaan. Hingga yang tertinggi adalah penghargaan Kalpataru tahun 2008 yang diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta, untuk kategori Pengabdi Lingkungan.

Mantan Kepala Sekolah di SDN Sucolor, 1987-2008 ini dianggap telah mengabdikan diri dalam usaha pelestarian fungsi lingkungan yang jauh melampaui tugasnya. Atas aksinya, Bukit Peseban yang terletak di sebelah utara kawasan Suco, Maesan, jadi menghijau. "Sebenarnya saya menolak dinilai-nilai, tapi yang terserah saja," kenangnya.

Meski sangat membanggakan, mendapatkan hadiah Kalpataru plus uang nominal sebanyak Rp.10 juta, adalah hal kecil dan tidak sebanding dengan jerih payah Jadjit. Terutama, keikhlasannya menggunakan uang gaji untuk menutup kebutuhan pembuatan bibit. "Kalau terbentur kekurangan dana, mana gaji saya sebagai guru dan kepala sekolah itu yang akan saya gunakan. Selain uang dari sawah dan penjualan sapi," katanya.

Dana pas-pas tidak berarti menghasilka karya yang pas-pasan. Saat ini, di salah satu lereng Bukit Pasepan sedang dibangun waduk penampungan air. Waduk ini akan berguna bila musim kering tiba dan penduduk suco kekurangan air.

Kepala Desa Suco, Abdul Muqid Yasid adalah orang yang sangat bangga sekaligus bersedih dengan prestasi Jadjit. Dia berharap, apa yang dilakukan Jadjit bisa menjadi pemacu semangat masyarakat untuk terus menghijaukan bukit-bukit di Suco. "Harus ada teladan, dan Pak Jadjit sepertinya pas untuk itu," katanya.

Satu hal yang membuat Abdul Muqid Yasid kecewa adalah respon pemerintah kabupaten Bondowoso yang seperti mengabaikan Desa Suco. Contoh sederhananya adalah soal jalan desa yang hingga kini masih rusak parah. Tidak ada upaya dari pemerintah Kabupaten Bondowoso untuk memperbaiki. "Ada 11 Km jalan di Desa Suco yang rusak berat, dan hingga kini belum diperbaiki,"kata Abdul Muqid.

Begitu juga soal tidak tertatanya pengairan di desa-desa yang membuat masyarakat harus rela mengambil air jauh dari desanya. "Desa Suco termasuk desa kering, terutama di Dusun Kebun dan Dusun Cangkring, namun sampai saat ini tidak pernah ada upaya untuk memperbaiki kondisi itu,"kata Abdul Muqid. "Semoga Pak Jadjit atau siapa saja yang membaca tulisan sampayen, bisa juga membantu untuk urusan ini."***


No comments:

Post a Comment

Program

Program