|
| Apapun Pak SBY, Sejarah Sudah Mencatat Hukum Indonesia Telah Tercoreng |
| 23 November 2009 |
Iman D. Nugroho
Senin (23/11/09) malam, Presiden SBY akan mengumumkan sikapnya atas persoalan dua "jagoan" KPK, Bibit-Chandra. Secara jujur, pandangan publik atas sikap SBY ini tidak seberapa signifikan. Publik hanya mau tahu, apakah Bibit-Chandra akan dibebaskan atau tidak. Selain itu sejarah sudah mencatat bahwa (oknum) polisi, (oknum) kejaksaan dan mafia kasus sudah pernah "mengotori" hukum di Indonesia.
Presiden SBY bisa saja mengatakan penyesalannya atas kasus Bibit-Chandra yang meresahkan masyarakat, dan meminta penyelesaian kasus itu melalui jalur di luar pengadilan. Entah berupa deponeering atau abolisi. Di sisi lain, Presiden juga bisa memilih untuk mempercayakan polisi-kejaksaan untuk meneruskan kasus ini, dengan alasan dirinya tidak mau mengintervensi dunia hukum. Meski kata "hukum" yang dimaksud di sini adalah hukum yang tercemari dengan aksi makelar kasus.
Apapaun pilihan Presiden SBY tidak banyak berpengaruh pada opini mayoritas publik dalam kasus ini. Secara transparan, publik sudah mengetahui, seseorang bernama Anggodo dan teman-temannya telah terekam pembicaraannya saat akan melakukan aksi penyuapan. Tidak hanya itu, dalam rakaman itu juga disebutkan keterlibatan petinggi polisi dan kejaksaan yang -menurut rekaman itu- mendukung gerakan Anggodo dkk.
Publik juga memahami, sejak kasus ini mencuat, Anggodo and the gank masih bisa menghirup udara bebas, dan menjadi bintang di berbagai stasiun tivi dalam talk show yang berkesudahan. Petinggi polisi dan kejaksaan pun sama. Tanpa malu dan ragu-ragu, mereka membuat jawaban atas semua tuduhan yang secara otomatis tertuju kepada mereka.
Jadi pak Presiden, apapun penjelasan Anda, tidak akan banyak membawa perubahan. Kecuali, secara tegas Anda meminta pihak-pihak yang secara hukum di bawah Anda (polisi dan kejaksaan) untuk stay away dari kasus ini, dan menjatuhkan sanksi atas mereka. Serta, meminta Bibit-Chandra untuk bebas.
Satu lagi, Anda pasti tahu kasus Bank Century. Nah, ada baiknya Anda bersiap-siap atas kasus ini. Dari berbagai informasi yang beredar, akan ada banyak orang di lingkaran pemerintahan yang tergigit (kecakot-Jawa) kasus ini. Bukan tidak mungkin, Anda akan dipaksa untuk kembali "turun tangan".
Semoga kata "turun tangan" tidak berganti menjadi "turun tahta" di kemudian hari,..Labels: Hukum, Opini, Politik |
posted by iddaily[dot]net @ Monday, November 23, 2009  |
|
|
|
| Hacker Asia Tenggara Gunakan Fasilitas Yahoo di Jakarta |
| 22 November 2009 |
 Iman D. Nugroho
Apa yang terjadi di Jakarta Sabtu-Minggu (21-22/11/2009) cukup membanggakan. Di kota inilah, tepatnya di Balai Kartini, puluhan hacker dari berbagai negara membuat program. Tidak hanya itu, Yahoo, salah satu situs besar dunia memfasilitasi semuanya dalam Open Hack Day. Event ini tergolong luar biasa, mengingat inilah pertama kalinya Yahoo menggelar Open Hack Day di Asia Tenggara. Event serupa terakhir digelar di London, Inggris. progam yang dianggap paling jago, akan diaplikasikan di Yahoo, sekaligus mencantumkan nama creatornya. "This is fun, and probably it will open opportunity to Indonesian programers to entering global world," kata Michael Smith Jr dari Yahoo Asia Tenggara.
  
Keterangan Foto:
1. SERIUS. Hacker serius membuat programnya dengan menggunakan aplikasi Yahoo.com. 2. ISTIRAHAT. Aktivitas yang berlangsung 2 hari nonstop membuat peserta kelelahan dan beristirahat di "kursi yahoo". 3. GAMES. Untuk yang bosen, bisa main games. 4. PRESENTASI. Di akhir acara, mereka mempresentasikan programnya.Labels: Luar Negeri, Teknologi Informasi |
posted by iddaily[dot]net @ Sunday, November 22, 2009  |
|
|
|
| [ Atmosphere ] Keruh |
|
Syarief Wadja Bae
bagai sua hujan dalam selokan mereka tak takut karma sejarah tentang bohong mereka pada kahanan tinggal riwayat yang disiram comberan berselimut daki dalam rupa dasi dengan kemasan basi
Tuhan redupkan lampu dalam kalbu dan hidup mereka hanya naif dan latah dalam alinea munafik yang panjang padahal Tuhan tak pernah pergi dari nadi seolah tak ada cermin sementara disana ada penyair yang menjadi Dewa penyair yang tak pernah ke pasar dan terminal
saban hari di kampus-kampus semakin banyak Mahasiswa yang belajar menjadi buaya tanpa peduli pada air mata ibu yang mereka injak berkali-kali
seperti binatang jalang yang riang menjahit orasi dalam ramai dengan keserakahan
apa ini kado untuk generasi ? kado kalatida dan kalabendu yang dikencingi pupa
November 2009
*Puisi lain, klik di sini.Labels: Budaya |
posted by iddaily[dot]net @ Sunday, November 22, 2009  |
|
|
|
|
| Focus |
|
Semakin banyak kasus yang tidak diselesaikan di Indonesia, semakin menguatkan semangat perlawanan di masyarakat. Dan kasus KPK-Polisi yang kemungkinan akan menjadi pemicu semangat perlawanan itu. |
| Agenda |
| |1| Ceramah kebangsaan oleh Mantan Direktur Operasi Khusus Intelijen Indonesia, Prof. Dr. Pitut Soeharto. Senin, 23 November 2009, pukul 19.00, di Lobby Hotel Mercure Grand Mirama, Jl. Raya Darmo 68 – 78 Surabaya.| |
| |2| Talkshow bertema, “Climate Cange Myth-Buster”. Kamis, 26 November 2009. Food Court, Pasar Festival, Jl. H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan. Pukul. 16.00 – 18.00 WIB. Pembicara : Tantyo Bangun (Editor in Chief National Geographic Indonesia), Enrico Halim (Perancang, Dosen Desain Komunikasi Visual Universitas Tarumanegara), Jekson Simanjuntak (Video jurnalis, Trans TV, Pengelola Beritalingkungan.com)
, Raja Siregar (Oxfam International) |
| |3| "Festival Rendra". Venue Taman Ismail Marzuki mulai 23 - 30 November 2009. Didukung Dewan Kesenian Jakarta, Akademi Jakarta, PKJ TIM, Institut Kesenian Jakarta, dan berbagai komunitas Teater di Jakarta dan Jawa Barat. |
| Review |
Sign Fiction: The Art of Nano Warsono, begitu ia memberi tajuk monografnya. Nano Warsono, perupa asal kota Gandul, Wonogiri yang sekarang menetap di Yogyakarta ini, bukan sekedar membuat sebuah album karya atau kronik rekam jejaknya berkesenian. |
| Index 10 |
|
| Monthly Index |
|
|
|