Kolomnis

Diana AV Sasa [Book for Good], Jojo Raharjo [Sport], Fully Syafi [Photo Corner], Balgis Muhyidin [Me and My Family], Syarief Waja Bae [Atmosphere], Agung Purwantara [Nol Kilometer].

Mailing Address: Gubeng Airlangga I no.7 Surabaya, East Java
mobilephone: +62.81.334.075.034 or +62.81.6544.3718
email: iddaily@yahoo.com.
Iddaily[dot]net menerima kiriman antikel, berita, puisi, agenda kegiatan dan foto. Setiap karya yang dirikim dan dimuat, menjadi hak penuh dari pembuat. Kirim ke email: iddaily@yahoo.com




HEADLINENEWS


Semua karya jurnalistik yang anda kirim melalui email iddaily@yahoo.com, akan kami publikasikan di kolom ini. Dilarang mempublikasi seluruh materi di news-blog ini akan tanpa seizin dari pengelola.

04 July 2009

Revolusi Kaum Santri, Sekarang!

Basyirun Adhim

Sebuah potensi yang besar namun belum termanfaatkan secara benar manakala kita melihat temuan data berikut, di Jakarta (19.350 santri), Jawa Barat (620.712 santri), Jawa Tengah (442.862) dan Jawa Timur, (1.169.256). Ya. Ternyata jumlah santri di Jawa Timur menduduki peringkat pertama alias terbanyak se-Indonesia. Mereka tersebar di tiga ribu lima ratus delapan puluh dua pesantren. Para santri ini kebanyakan berusia remaja. Mereka adalah kaum muda potensial yang kenyang ayat-ayat motivasi dari kitab suci, dan menghafal dogma tentang amal berpahala serta imbalan syurga. Dari segi jumlah, mereka ini adalah kader militan sekaligus “carrier” yang bisa menyebarkan virus perubahan positif kepada komunitasnya. Sungguh sebuah potensi yang layak digali. Karena mereka ini akan mewarisi keberlangsungan perjuangan ibu Pertiwi. Mari kita bangunkan mereka dengan semangat pekik revolusi: “Wake up, Bro!”


Sejarah perjalanan panjang pesantren setidaknya telah mengantarkan lembaga pendidikan ini pada dua peran besar, yaitu peran sebagai “lembaga pendidikan agama” dan peran sebagai lembaga sosial kemasyarakatan (Amin Haidari : 2005)

Bila ditarik ke era revolusi kemerdekaan, rekam jejak peran pesantren sungguh luar biasa. Salah satunya adalah sebagai wadah penggodokan ideologi patriotik para pejuang dalam mempertahankan eksistensi republik. Laskar Hizbullah merupakan wadah santri dalam jihad melawan penjajah. Panglima TNI Jendral Sudirman juga pernah berguru di pesantren.

Insitusi pendidikan tertua di negeri ini juga turut andil dalam mendukung berbagai front pertempuran melawan penjajah. The Battle of Surabaya 10 November 1945, menyuguhkan kisah heroik kaum santri yang datang bergelombang dari Gresik, Lamongan, Jombang, Lumajang, Mojokerto, Pasuruan, dan daerah basis santri lainnya dalam rangka mempertahankan Surabaya dari gempuran Sekutu Inggris-Belanda.

Dalam perkembangan selanjutnya hingga kini, pesantren tetap eksis bertahan di tengah kepungan lembaga pendidikan formal (seperti sekolah) yang lebih diakui keberadaannya oleh masyarakat dan fasilitasnya dipermudah pemerintah.

Sayangnnya, usia keberadaan pesantren yang telah mapan belum diiringi kualitas pelayanan masyarakat yang memadai dan riil dirasakan langsung. Setidaknya itu yang terpotret saat ini. Peran Pesantren seolah mengerdil dan tenggelam dalam wacana kitab agama dan pembahas fatwa saja. Sedang peran nyata social lingkungan kemasyarakatan diambil alih oleh instusi sipil seperti CSO (civil society organization), lembaga peduli, akademisi kampus, aktifis LSM, komunitas peduli, individu tertentu, dst.


Kaum santri, kenali Lingkunganmu! Banguankan Potensi dan Catat Prestasi!

Apa yang akan kita lakukan bila melihat rekaman berita seperti di URL berikut ini: ???
Indonesia Juara Perokok Remaja Terbanyak di Dunia
http://www.indonesiaindonesia.com/f/33388-indonesia-juara-perokok-remaja-terbanyak-dunia/

Selama ini pesantren belum tersentuh dalam pemberdayaan kesehatan. Pesantren terkesan kumuh, manakala ada santri yang sakit (menular), tidak menutup kemungkinan santri yang lainpun akan terjangkit penyakit tersebut.
http://www.hupelita.com/baca.php?id=225

Disinyalir terdapat 500 lebih cuplikan film porno yang menggambarkan hubungan sex orang-orang Indonesia yang dibuat dengan menggunakan Handphone dan Vidio Kamera. 90% adegan cuplikan film porno dilakukan oleh anak muda SMA dan Mahasiswa. 8%nya berasal dari rekaman prostitusi, para pejabat pemerintah (DPR dan Pegawai Negeri). 2% nya adalah cuplikan kamera pengintai yang mengambil gambar para wanita-wanita muda yang sedang bugil tanpa sadar di toilet ataupun dikamar hotel.
http://tvlab.blogspot.com/2007/04/kampanye-nasional-anak-muda-indonesia.html

Tentu kita kaum santri akan miris dengan fakta diatas. Sebagai bagian dari kaum muda dan generasi penerus bangsa, sepantasnya kita malu dengan kekonyolan perilaku itu. Namun alangkah baiknya bila kita bijak untuk refleksi ke diri untuk selajutnya mempersiapkan aksi nyata perbaiki segera. Dari pada menyalahkan pihak lain untuk dicaci maki.

Revolusi peran. Dari yang semula hanya berkutat dengan kitab dan meja diskusi, sekarang harus bergerak dinamis dengan rumusan isu strategis. Lekas mengambil peran sosial kemasyarakat yang bisa di lakukan sesuai kompetensi dan kecakapan. Menjadi seorang santri Sosio-Enterpreneur. Kaum santri yang memiliki nalar kecerdasan spiritual, kesalehan sosial, bernilai jual dalam kerja profesional serta berwawasan universal.

Di pesantren Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) Lamongan, ada remaja kader Wali Lingkungan yang setiap waktu berkampanye tentang kebersihan dan demo aksi cinta lingkungan. Mereka terwadahi dalam Kelompok Santri Pecinta Alam dan Lingkungan atau KSATRIAKU. Setiap hari mereka berlomba membersihkan kompleks pesantren dan lingkungan RT tanpa tergantung jadwal piket regular. Mereka juga punya program Biogas Santri. Sebuah percontohan pemanfatan limbah manusia untuk energi alternatif/bahan bakar. Untuk aksi peduli dan pendidikan kebencanaan, ada unit kegiatan Santri Tanggap Bencana (SANTANA) yang telah melayani masyarakat dari Aceh hingga Papua.

Mereka mendedikasikan itu sebagai amalan kauniyah sebagai sesama hamba Allah yang harus saling bantu. Itu contoh kecil revolusi peran yang boleh ditiru. Intinya kerja. Jangan banyak bicara. Apalagi hanya hapal dalil agama tanpa ada niat melaksanakannya.

Penulis yang sejak sejak 1997 aktif di berbagai kegiatan community development membuktikan bahwa peran santri sangat luar biasa jika dikelola dengan seksama. Di Aceh selama kurun 2005-2007, penulis banyak terlibat kegiatan pemberdayaan masyarakat yang mengangkat peran santri. A.l kampanye pencegahan dan penghapusan pekerja anak (IPEC-WFCL/International Program on the Elemination of Childlabor-Worst Form Child Labour) bersama UN-ILO. Segitiga dukungan Thaliban (santri), institusi Dayah (pesantren) dan Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) yang menjadi vocal point, sangat membantu suksesnya program tersebut. Keberhasilan yang sama melalui peran mereka juga penulis rasakan ketika menggiatkan program internet masuk gampong dengan fasilitas Pre-Wimax. Sebuah proyek ujicoba bersama Yayasan SPMAA, Yayasan Air Putih dan Intel Corporation.

Dengan peran nyata ini, stigma buruk yang selama ini lekat dengan ‘penampakan’ santri akan terkikis dengan sendirinya. Penulis sendiri beberapa kali mendengar sindiran, “santri tumo sarungan”, “santri nihil prestasi” dan julukan tak enak lainnya.

Revolusi Informasi. Remaja dan kaum muda menjadi bidikan pangsa pasar potensial para penjaja ideology, penyebar informasi dan juga produsen consumers good. Di sinilah informasi menggerojok telinga, mata dan pikiran remaja secara terus-menerus lewat berbagai media. Terutama ajakan melalui iklan. Kalau tidak jeli menyerap informasi, maka remaja dapat tersesat. Contoh sederhana tentang isu kesehatan reproduksi. Kalau tidak hati-hati mengolah-menyampaikan dan menangkap pesannya, kaum muda seolah digiring untuk memasuki wilayah bebas norma bernama ZINA.

Maka para remaja khususnya santri harus revolusi. Imbangi informasi. Jangan hanya puas menerima, membaca, dan mendengar dari buku teks saja. Buatlah informasi pembanding yang setara. Tulislah informasi penyeimbang. Cerahkan benak masyarakat dengan informasi yang kita buat. Tebarkan jejaring informasi di antara puhak peduli.

Ayat-ayat kitab suci yang menukil isu kesehatan, lingkungan, hidup hemat, larangan konsumtif berlebihan dan ajakan kebersihan sangatlah banyak. Pakailah itu sebagai bahan penahan iklan dagangan yang kadang keterlaluan menyesatkan.

Santri SPMAA terlibat dalam aksi Environment Parliament Watch (EPW). Sebuah aksi pemantauan dan advokasi pengawalan siapa wakil-wakil rakyat di parlemen yang betul-betul peduli lingkungan dan kesehatan. Ini adalah contoh santri bisa melakukan revolusi informasi.

Revolusi informasi juga dapat diejawentah melalui tafsir AlQuran yang relevan dengan dinamika jaman. Selanjutnya tafsir itu diamalkan melalui kegiatan yang bermanfaat nyata untuk umat. Persoalan gap kemiskinan, sistem pendidikan, fatsun politik, madzhab ekonomi, isu lingkungan semuanya pararel dengan misi suci para santri. Tinggal bagaimana upaya connect the unconnect dan melibatkan berbagai potensi yang ada. Itu keterampilan dasar yang belum dimiliki santri saat ini.

Revolusi Waktu. Bila selama ini pola belajar di pesantren harus lama dan menamatkan tumpukan kitab berjenjang-jenjang, maka pemahaman itu harus diubah. Yang benar dan efektif adalah, sekali menerima materi dari kitab suci, amalkan segera. Jangan ditunda sedetikpun. Terima materi langsung dipraktikkan. Satu teori satu praktik perbuatan. Satu dalil satu pekerjaan riil. Mendapat satu ayat harus berwujud satu kerja yang bermanfaat untuk umat. Begitu seterusnya.

Dengan pola belajar seperti ini, maka santri akan menjadi manusia pembelajar yang produktif. Bukan sekadar santri yang hapal dalil aqli dan naqli tapi nihil dari segi pengamalannya. Bukan orang BUTA (Banyak Ucap Tanpa Amal). Dengan pola belajar ‘satu dalil satu pekerjaan riil”, waktu belajar di pesantren bisa dihemat. Selebihnya untuk pelayanan kepada masyarakat.
Kita bisa belajar dari kisah KH. Ahmad Dahlan ketika mengajarkan surat Al Maaun kepada santrinya. Surat Al Quran itu menerangkan pesan bahwa seseorang bohong dengan pengakuan beragamanya jika acuh dan tak mau kampanye peduli nasih anak yatim. Surat/ayat ini terus diajarkan kepada santri meski secara teks mereka sudah hafal.

Suatu saat ada santri yang berani menanyakan tentang hal itu. Lalu KH. Ahmad Dahlan bermaksud menguji mereka. Beliau mengajak para santri jalan-jalan. Saat bersua seorang anak yatim, para santri diam berlalu begitu saja. Mereka abai terhadap keadaan si yatim. Padahal kalau sudah mengerti terjemahan konstektual dari surat/ayat Al Quran yang selalu diajarkan sang Kyai tadi, para santri itu bisa menghibahkan bekal makanan yang dibawanya untuk sedikit mengurangi beban hidup si yatim. Setelah dijelaskan, para santri mengerti kenapa KH. Ahmad Dahlan terus saja mengajarkan surat Al Quran itu kepada para santri.


Revolusi paradigma. Penting untuk menghindari pola pikir santri yang berdiri di menara gading, yang tak tersentuh dan tak menyentuh bumi (baca:kebutuhan umat). Karena selain akan menghadapi murka Allah / kaburo maqtan indallaah an taquuluuna ma laa taf'aluun, juga akan menghadapi stigma masyarakat bahwa menjadi santri itu "tidak produktif".

Otokritik bagi para pengelola pesantren untuk berani mengubah dua paradigma pendidikan pesantren : 1) kelompok Salaf yang memprioritaskan pada ritual dan kajian kitab/tekstual. Sehingga kurang hemat waktu karena butuh masa belajar relatif lama tinggal di pesantren. Keberpihakan riil terhadap isu-isu aktual sosial kemasyarakatan juga lemah. 2) Sementara kelompok modern (Kholaf) merasa sudah modern karena memberikan skill tambahan yang berorientasi ekonomi kewirausahaan. Namun yang luput disadari dari sini adalah lahirnya keluaran alumni yang bermadzhab ”binatang ekonomi”, melupakan ciri khas santri yang lebih mengedepankan kebersamaan. Sehingga yang dihasilkan adalah (lagi-lagi) skilled person yang individualis nan jauh dari kepekaan sosial.


Menarik bila mengamati apa yang ada di pesantren SPMAA. Mereka membangun pondasi kejiwaan santri melalui model pesantren yang mendekatkan santri pada realitas kebutuhan ummat. Yakni dengan cara membangun suatu komunitas kaum papa dalam satu kompleks pendidikan.

Dalam kompleks ini tinggal para penyandang masalah sosial dari usia baliat hingga lanjut usia. Ada anak jalanan, lansia telantar, sexual child abuse, perempuan korban traffickking, suami korban tindak kekerasan, ex nara pidana, bekas pecandu narkoba, anak autis, dst. Sehingga santri benar-benar live in bersentuhan langsung dengan apa yang akan mereka hadapi dan bagaimana seharusnya mereka bersikap. Monitoring bisa dilihat langsung dilakukan atas respon dan prilaku santri bagaimana mereka mengejawantahkan materi ajar yang diterima dengan lingkungan sekitar.

Sebagai usulan dari tulisan ini, kita berharap para pihak yang selama ini concern terhadap pergerakan kaum muda Indonesia supaya melibatkan peran aktif para santri. Sungguh potensi pesantren tidak kalah bagusnya bila dikelola dan di explore secara memadai. Kaum santri lebih fanatik karena mereka menyandarkan (setidaknya dalam teori) pikiran, ucapan dan tindakannya pada teks-teks dogma yang berlaku kontemporer.

Akhirnya seruan kita bersama adalah: WAKE UP BRO!! Saatnya Revolusi Kaum Santri.


Full Story......

Kampanye Terakhir JK Dibumbui Janji Politik Merebut Kembali Perusahaan Rokok

Senja Madinah, Bondowoso

Calon presiden Jusuf Kalla, berjanji akan merebut kembali perusahaan-perusahaan rokok nasional yang saat ini banyak dikuasai oleh asing. Janji ini akan terlaksana jika JK terpilih sebagai presiden periode mendatang, di depan 8000 buruh tembakau dalam acara silaturrahmi capres JK bersama unsur kyai dan santri, buruh tembakau, pengusaha tembakau dan warga organisasi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kabupaten Bondowoso, di kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.


“Indonesia sebenarnya merupakan penghasil tembakau terbesar di dunia. Tetapi, ternyata, petani tembakaunya justru banyak yang berada di bawah garis kemiskinan,” kata JK dalam sambutannya. Kondisi ini, lanjut JK, semakin memburuk ketika sejumlah perusahaan rokok yang dulu dimiliki oleh pengusaha dalam negeri, kini justru dijual kepemilikan sahamnya dan didominasi oleh asing. Seharusnya bangsa Indonesia setidaknya menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Pernyataan ini banyak mendapatkan apresiasi dari pengusaha dan buruh tembakau yang hadir pada acara kampanye terakhir JK tadi. Salah satu pengusaha tembakau, bernama Sutikno alias Cuntik misalnya, sangat berharap jika sejumlah aturan cukai rokok yang banyak memberatkan pengusaha dalam negeri. Sementara, pengusaha luar negeri yang rata-rata menjual rokok putih, tidak terkena bea cukai. “Bagaimana pengusaha dan petani tembakau kita akan sejahtera, jika secara aturan saja kita sangat dirugikan,” ujarnya. Karena itu, ia berharap jika JK terpilih, janji politiknya tadi dapat terwujud.

Selain menjanjikan perebutan kembali sejumlah perusahaan rokok, JK juga berjanji akan memberikan pendidikan gratis. Tidak hanya untuk tingkat pendidikan SD dan SMP yang saat ini mendapatkan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), untuk siswa SMA pun akan digratiskan. “Tingkat SMP dan SMA, baik Umum maupun Madrasah, akan mendapatkan pendidikan gratis,” Ungkapnya, yang disambut dengan tepukan tangan dari para peserta kampanye yang hadir.

Karena itu, ia meminta agar masyarakat tidak kehilangan hak pilihnya pada pilpres yang akan digelar 8 juli mendatang. Ia meminta masyarakat meluangkan waktunya untuk ikut berpartisipasi dalam pilpres mendatang. “Hanya satu menit, saya membutuhkan waktu anda sekalian, untuk ikut mencontreng pada pilpres mendatang,” harapnya.

Full Story......

03 July 2009

Luthfi Assyaukanie coba Menjaga Sisi Humanisasi

Iman D. Nugroho

Bagi banyak orang, "pekerjaan"-kalau memang bisa disebut sebagai pekerjaan- yang dilakukan Luthfi Assyaukanie memang tergolong "nggak banget". Bagaimana tidak, laki-laki kelahiran 27 Agustus 1967 ini memilih untuk “bekerja” sebagai penjaga kemanusiaan dalam terminologi agama Islam. Tidak hanya sulit karena harus berhadapan dengan berbagai sudut pandang yang beragam, tapi sekaligus menciptakan ketidaksukaan kelompok yang tidak sepaham. “Memang pernah ada ancaman, tapi itu dulu. Setelah tahun 2005 tidak ada lagi ancaman yang serius,” katanya.


Kemanusiaan atau humanisme memang tidak pernah habis dibicarakan. Ilmu yang memiliki arti gerakan untuk membangkitkan kembali ilmu-ilmu kemanusiaan dan hal lain yang berhubungan dengan manusia itu selalu muncul dalam berbagai persoalan. Dalam dunia global, kemanusiaan selalu menjadi bagian terdasar. Pelanggaran terhadap kemanusiaan, bisa memunculkan reaksi dari berbagai kelompok. Di Indonesia, hal tentang kemanusiaan juga tidak pernah surut dibicarakan. Dalam ranah kemanusiaan yang berhubungan dengan agama Islam inilah seorang Luthfi Assyaukanie berada.

“Kalau ada anggapan agama Islam tidak humanis, itu justru keliru. Karena kalau kita kaji dalam kitab umat Islam, al Quran, banyak sekali pendekatan kemanusiaan,” kata Luthfi pada The Jakarta Post. Bahkan, dalam catatan Direktur Freedom Institute ini gerakan kemanusiaan dalam Islam pun dimulai jauh sebelum gerakan kemanudiaan barat muncul. Yakni ketika seorang filsuf besar Islam bernama Ibn Nadim menerbitkan al Fihrist pada pertengahan abad ke sepuluh. Dan berbagai karya lain dari ilmuwan-ilmuwan berbasis keislaman yang juga memuliakan manusia.

Sayang, dalam perkembangannya justru seringkali pendekatan kemanusiaan dalam Islam itu dirusak oleh umat Islam sendiri. Pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) bersama Ulil Abshar Abdalla ini mengingatkan protes kelompok Organisasion of Islamic Conference atau OKI pada Piagam Hak Asasi Manusia (HAM) tentang pindah agama. “OKI mengatakan pasal kebebasan beragama itu tidak seiring dengan al Quran, padahal dalam al Quran jelas mengatur tidak ada paksaan dalam beragama,” katanya.

Kedekatan dosen senior di Universitas Paramadina, Jakarta ini dengan dunia analisa Islam berasal dari background keislaman di keluarga. “Keluarga besar saya adalah keluarga santri. Kakek saya seorang kiai. Kami dididik secara religius dan cukup konservatif,” kenangnya. Kemampuan berislam ayah tiga anak ini semakin terasah ketika dirinya masuk ke Pesantren Attaqwa, Bekasi. Apalagi ketika melanjutkan pendidikannya di University of Jordan, Yordania. Hingga berlanjut ke jenjang lebih tinggi di jurusan Philosophy, International Islamic University, Malaysia dan University of Melbourne, Australia untuk mendalami Political Islam.

Pengetahuan yang dimiliki dan pandangan-pandangan pria berkacamata ini mendorong dirinya untuk mendirikan Jaringan Islam Liberal pada tahun 2001. Bersama intelektual muda Islam lain, seperti Ulil Abshar Abdalla. Melalui JIL, Luthfi dan kawan-kawannya menyebarluaskan keislaman yang lebih memiliki pendekatan manusiawi. Para aktivis JIL meyakini, dialog yang bebas dari tekanan konservatisme akan membuka pikiran dan gerakan Islam yang sehat. Dan pada akhirnya menciptakan struktur sosial yang adil dan manusiawi. Jauh dari image Islam yang selama ini dikenal.

Pandangan “baru” dan jauh menyimpang dari muslim kebanyakan yang masih konservatif itu mendapat dukungan penuh dari pihak keluarga. Sang ayah, Muhali dan ibunda Hamidah merupakan dua orang yang cukup toleran. Di mata Luthfi, sang ibu pun tetap mempercayai dirinya ketimbang orang lain. “Orang lain yang menyebarluaskan isu tidak benar. Mereka selalu mendukung saya, dan tidak pernah memusuhi apalagi mengkafirkan. Hubungan kami sangat baik,” katanya. Dukungan yang sama juga didapatkan dari istri Titi Sukriyah (35) dan anak-anaknya, Gabriel Shaukan (13), Melika Bilqis (11) dan Amadea Ayunina (5).


Hukum Qisas, atau hukuman setimpal, sering dianggap sebagai hal yang tidak memanusiakan dalam Islam. Bagi Luthfi, itu cara pandang yang keliru. Karena dalam qisas menyaratkan adanya sisi legal yang disepakati bersama. Harus ada upaya membangun argumen dengan perdebatan tentang hal itu. Bila disepakati akan ditetapkan menjadi hukum positif di sebuah negara. “Kalau memang tidak disepakati, ya tidak ditetapkan. Di negara yang menetapkan hukum Qisas sendiri ada banyak aliran,”kata pengarang buku Islam Benar versus Islam Salah (Right Islam versus Wrong Islam) ini.

Dalam perkembangan politik belakangan, Islam kembali menjadi bahan pembicaraan, ketika ada partai politik yang mengaitkan kebiasaan berjilbab istri calon presiden dengan sisi religius mereka. Bahkan, ada juga mengusung isu mengganti sistem parlementer dengan sistem kekhilafahan. Bagi Luthfi, hal itu seperti kembali seperti masa-masa lalu, saat Indonesia belum tegas sistem pemerintahannya. “Hal itu erat hubungannya dengan pencarian massa di tingkat grassroad yang masih saja "membeli" isu-isu seperti ini. Termasuk isu syariat Islam, yang sudah "selesai" ditingkat pusat,” jelasnya.

Luthfi menyadari, apa yang dilakukan adalah bagian dari perjalanan panjang umat Islam di Indonesia untuk benar-benar memahami esensi dari keislaman. Juga untuk tidak terjebak dalam politisasi simbol-simbol keislaman semata. “Jangan sampai sisi humanis Islam hilang karena hal-hal semacam itu,” katanya. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah.

Full Story......

Jeffrey Winters Dan Permainan Kata-katanya

Iman D. Nugroho

Kehadiran pengamat politik dan ekonomi Jeffrey Winter dalam diskusi Pilihan Paradigma Ekonomi Indonesia yang Bermartabat dan Berdaulat di Gedung Dewan Pers, Kamis (2/06) ini benar-benar menghibur. Bukan karena analisa-analisa tajamnya sebagai pengamat seperti yang selama ini dikenal orang, melainkan permainan kata-kata dengan perumpamaan yang mengundang gelak tawa. Ketika moderator meminta Jeffrey menggambarkan kondisi Indonesia misalnya, pria asal AS itu justru mengibaratkan Indonesia seperti seorang petinju.


"Indonesia itu seperti petinju kelas berat yang sampai saat ini masih memilih untuk bertanding dengan petinju kelas ringan," Jelasnya.Seharusnya, dengan potensi yang dimiliki, Indonesia bisa menjadi sekelas Brazil, Rusia, India dan China atau BRIC. Namun, entah mengapa Indonesia masih saja asyik dengan memposisikan diri sebagai negara sekelas negara kecil seperti Chili, Costarika dan Honduras. "Indonesia itu saya menyebutnya sebagai missing BRIC, seharusnya menjadi bagian dari BRIC (Brazil, Rusia, India dan China," katanya.

Belum lagi gelak tawa dari peserta seminar itu mereda, Jeffrey kembali membuat joke-joke lain menyangkut posisi ekonomi dihadapan lembaga donor seperti International Monitory Fund (IMF), dan World Bank. Lembaga-lembaga itu menurut Jeffrey adalah "dokter" ekonomi bagi Indonesia. Namun, cara Indonesia memperlakukan "dokter" ini sungguh aneh, yakni enggan untuk berpindah dokter meskipun dokternya terbukti gagal. "Apa perlu empat puluh tahun lagi untuk membuktikan kalau dokternya benar-benar gagal," katanya menuai tawa. Hal lain yang menurut Professor dari Yale University ini unik adalah bagaimana para ekonom di Indonesia mencoba menyelesaikan.

"Seperti bertanya dimana harus menempelkan handyplast untuk orang yang kena kanker," katanya. Jeffrey pertama kali dikenal menjelang gerakan Reformasi tahun 1998, setelah buku pertamanya berjudul "Power in Motion: Capital Mobility and the Indonesian State" terbit pada tahun 1996. Namanya semakin terkenal saat dia dekat dengan tokoh politik yang melawan dominasi Orde Baru. Jeffrey juga menulis dua buku berjudul "Dosa-Dosa Politik Orde Baru" [Political Sins of Suharto's New Order] pada tahun 1999 dan "Orba Jatuh, Orba Bertahan?" [Indonesia's "New Order" Falls or Endures?] pada tahun 2004. Penelitian Jeffrey Winters juga dilakukan di United States, Russia, Indonesia, Philippines, Vietnam, Singapore dan Mexico.

Full Story......

01 July 2009

Welcome Back, Green Force…

Jojo Raharjo

Persebaya Surabaya kembali ke khittahnya. Dalam partai play-off sebagai penentuan satu tiket tersisa ke pentas Liga Super musim depan, Bajul Ijo secara dramatis mengandaskan PSMS Medan 7-6 (1-1) lewat adu penalti di Stadion Siliwangi, Bandung, Selasa (30/6) malam. ----photo by kapanlagi

Full Story......

29 June 2009

[Me and My Family] Ketika Bu Iyah Pulang

Balgis Muhyidin

Humanisme itu sejak dulu dikenal dalam Islam. Namun, karena tindakan orang Islam sendiri, yang membuat Islam kemudian dikenal sebagai agama yang tidak humanis. Misalnya saja persoalan pindah agama. Dalam piagam HAM diatur beberapa pasal tentang agama. Dan menurut saya itu berjalan seiring dengan Al Quran. Beragama itu adalah hak manusia, dan itu jelas diatur di dalam Al Quran. Tapi,..

Full Story......

Analisa [Nakal] Cover Majalah Tempo Edisi Khusus Pilpres 2009

Iman D. Nugroho

Begitu mendapatkan Majalah Tempo edisi Khusus Pemilihan Presiden 2009, sebuah analisa nakal muncul. Cover majalah edisi tanggal 29 Juli-5 Juli itu begitu "menarik" bila dikaitkan dengan tebak-tebakan pilihan politik majalah yang pernah dibredel Orde Baru pada 1994 itu.


1. WARNA DASAR. Tempo memilih warna dasar biru tua, dengan dot berwarna biru muda. Ada beberapa sorot lampu highlight yang juga berwarna biru muda. Wow,..dari ribuan warna yang ada, dalam edisi kali ini, Tempo memilih warna biru sebagai latar belakang. Pikiran saya, apa hal ini bisa bermakna kecenderungan partai politik tertentu. Ah,..cepat-cepat saya menghapus pikiran itu. Dan menghibur diri, mungkin, biru bermakna laut atau langit. Yang indah, luas dan menenangkan. Itu harapan Tempo pada hasil pemilu kali ini. :)

2. TULISAN INDONESIA MEMILIH. Tulisan ini, berwarna putih (untuk Indonesia), dan kuning (untuk Memilih). Nah, ini menarik juga. Bagaimana warna kuning bisa ditempatkan pada kata "memilih"? Lagi-lagi, pikiran nakal itu muncul. Apakah Tempo sedang menciptakan "second choice" dengan warna kuning ini? Tentu saja, dibandingkan background yang serba biru, warna kuning tergolong kecil. Namun, eye catching. Belum lagi warna frame yang berwarna kuning tua. Warna kuning juga ada ditulisan EDISI KHUSUS. Bagaimana dengan warna merah? Ada sih, sebagai background tulisan EDISI KHUSUS PEMILIHAN PRESIDEN 2009. Hmmm,.. >:)

3. POSISI TANGAN SBY. Ini yang paling menarik. Dalam foto itu berjajar tiga kandidat presiden RI. Yang unik, mereka disusun tidak urut. Dari kiri ke kanan, Prabowo, Mega, SBY, Boediono, Jusuf Kalla dan Wiranto. Kenapa Megawati tidak berada di paling ujung kiri? Sehingga tampak berurutan calon presiden dan wakilnya. Dan, tangan kanan SBY dalam cover itu berada di pundak kanan Mega. Hmmm,...kenapa? Keakraban? Padahal tangan kiri Mega tetap lurus ke bawah.

Bagaimana?

Mungkin ada analisa nakal lain?

salam

Full Story......

Iwan Fals dan Jakarnaval Menghias Minggu di Jakarta

Iman D. Nugroho

Peringatan HUT Kota Jakarta ke-482 Jakarta diramaikan oleh Jakarnaval 2009 digelar di sepanjang Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu(28/6/2009). Hadir dalam acara ini, ratusan orang dari berbagai komunitas dan instansi di Jakarta. Sementara di arena Pekan Raya Jakarta, untuk menarik pengunjung, stand sepeda motor TVS di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) menghadirkan penyanyi legendaris Iwan Fals, Minggu (28/06). Iwan menyanyikan beberapa lagu di panggung kecil di arena itu. (JP/ID Nugroho)




Full Story......

24 June 2009

Demonstrasi Pemulung Bantar Gebang, Bekasi

Iman D. Nugroho

Sekitar 200-an pemulung yang tergabung dalam Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) menggelar demonstrasi di depan Kantor Gubernur DKI Jakarta, Rabu (24/06). Kedatangan mereka untuk menolak diadakannya mesin pengolah sampah yang beroperasi di tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi.

Full Story......

Piring-piring Prancis Beterbangan di Supermarket

Press Release

Apabila berbicara mengenai kekhasan Prancis, pastilah tak lepas dari kekayaan kulinernya yang memiliki sejarah panjang dan mendunia. Masakan a la française, anggur, keju, patisserie, dan lain-lain, menjadi bagian dari seni dan budaya masyarakat. Hidangan yang tersaji di atas meja, adalah karya seni yang dibuat melalui proses penuh kecermatan dan cita rasa, mulai dari saat menyiapkan, menata, hingga cara memakannya..oh la la..tiada tara!


Makan tidak hanya mengisi perut, proses itu berubah menjadi sebuah keindahan dan keindahannya bisa ditangkap oleh mata...masakan Prancis, minuman anggur, kue-kue Prancis, akan tampil menarik dan membuat air liur menetes !

Dalam rangka ”Festival Musim Semi Prancis 2009”, untuk pertamakalinya, Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL) Surabaya bekerjasama dengan supermarket tertua di Surabaya, Sinar Supermarket Surabaya, menggelar minggu kuliner Prancis bertajuk ”Assiete en fĂȘte” (Piring pun Berpesta). Berbagai macam kekhasan kuliner Prancis akan kami tampilkan selama 25 – 29 Juni 2009 di Sinar supermarket Surabaya, yang memiliki 3 cabang : Bintoro, Jemursari dan Darmo Satelit. Pembukaan acara akan berlangsung pada Kamis, 25 Juni 2009, pk. 10.00 di Sinar cabang Bintoro, jl. Bintoro No. 21 Surabaya.

Program ”Assiette en fete” akan menampilkan acara, antara lain : Demonstrasi masakan Prancis oleh chef asal Prancis dan mencicipi anggur dan keju Prancis. Program ini akan dipusatkan di cabang Sinar Bintoro, diikuti dengan berbagai kegiatan di unit-unit Sinar Supermarket yang lain.

Full Story......

Kutipan Hari Ini