Jakarta (iddaily.net) – Ada film yang membuat kita tertawa ketika berada di dalam bioskop, tetapi diam-diam membuat kita berpikir ketika lampu studio dinyalakan.
’Operasi Pesta Copet’ adalah salah satunya.
Film garapan Edy Khemod ini memang menjual kelucuan, kekacauan, aksi pencopetan, dan atmosfer festival musik Pestapora. Tetapi kalau hanya melihatnya sebagai film komedi tentang sekelompok pencopet, kita mungkin kehilangan lapisan yang lebih penting: tentang orang-orang yang kalah dalam kompetisi kehidupan, tentang persahabatan, keluarga, kemiskinan, dan pilihan-pilihan buruk yang kadang lahir dari keadaan yang juga buruk.
Bersama dua perempuan tercinta, saya menonton film berdurasi 113 menit ini Gandaria City, kemarin. Debut sutradara Edy Khemod yang selama ini lebih dikenal sebagai drummer Seringai. Pengalaman panjangnya di dunia musik terasa kuat dalam film ini, terutama dalam membangun atmosfer festival, kerumunan, panggung, merchandise, hingga kultur penonton konser.
Copet di Tengah Pesta
Tokoh utamanya Ijal, diperankan Iqbaal Ramadhan. Tampil total, jauh berbeda dengan karakter Dilan, Minke (di Bumi Manusia) atau Ali (di Ratu-Ratu Queens). Ijal bukan kriminal kelas kakap dengan jas mahal, mobil mewah, dan ruang operasi penuh layar komputer.
Ia hanyalah anak muda dari kelas bawah yang sedang berusaha bertahan hidup.
Bersama sahabatnya, Adut (Kristo Immanuel), Ijal masuk ke dunia pencopetan. Kemudian hadir Tia (Zulfa Maharani), Melodi (Kawai Labiba), dan Silet (Fauzan Lubis), yang membuat operasi mereka semakin kompleks.
Target mereka: Pestapora.
Menariknya, festival musik bukan sekadar latar belakang. Kerumunan manusia, musik yang keras, mosh pit, orang-orang yang berdesakan dan larut dalam kegembiraan justru menjadi bagian penting dari cerita.
Pestapora yang bagi sebagian orang adalah tempat bersenang-senang, bagi Ijal dan kawan-kawannya menjadi “lapangan pekerjaan”.
Ironis?Jelas.
Dan justru di situlah film ini menemukan daya tariknya.
Film Heist, Tetapi Versi Rakyat Biasa
Biasanya film ’heist’ memperlihatkan pencuri yang keren: perencanaan matang, teknologi canggih, mobil cepat, dan strategi rumit.
Operasi Pesta Copet mengambil jalan yang berbeda. Tidak ada Bruce Wayne. Tidak ada James Bond.
Yang ada adalah orang-orang yang harus memikirkan bagaimana besok bisa makan.
Film ini bahkan memperkenalkan istilah-istilah dalam dunia pencopetan seperti ngalih, mutus, nadah, dan ngambang. Teknik pencopetan digambarkan cukup detail sehingga penonton justru mendapatkan gambaran bagaimana kejahatan semacam itu dilakukan secara berkelompok.
Di satu sisi, ini menjadi kekuatan film karena membuat dunia yang jarang kita lihat menjadi terasa nyata.
Di sisi lain, ada risiko: jangan sampai penonton justru menganggap pencopetan sebagai sesuatu yang keren.
Untungnya, film ini masih berusaha menjaga jarak antara memahami alasan seseorang melakukan kejahatan dan membenarkan kejahatan itu sendiri.
Ini penting. Sebab memahami bukan berarti memaafkan. Memahami kemiskinan bukan berarti membenarkan pencurian. Memahami luka seseorang bukan berarti menghapus kesalahannya.
Ketika Kemiskinan Menjadi Karakter
Inilah bagian yang menurut saya paling menarik. Kemiskinan dalam film ini tidak hanya hadir sebagai angka statistik.
Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dalam rumah yang sempit. Dalam pekerjaan yang sulit. Dalam mimpi yang terasa terlalu mahal untuk diwujudkan.
Ijal dan kawan-kawannya bukan digambarkan sebagai orang yang sejak awal bercita-cita menjadi pencopet.
Mereka seperti orang-orang yang menemukan jalan pintas ketika jalan utama terasa tertutup.
Tetapi film ini tidak mengatakan bahwa karena seseorang miskin maka ia boleh mencuri.
Justru sebaliknya, film ini mengajak kita bertanya:
Berapa banyak orang yang gagal bukan karena tidak mau bekerja keras, tetapi karena kesempatan untuk bekerja layak memang tidak datang?
Di titik ini, Operasi Pesta Copet menjadi lebih dari sekadar komedi kriminal.
Ia menjadi cermin sosial.
Sejumlah ulasan juga melihat film ini membawa kritik terhadap ketimpangan sosial-ekonomi dan kegagalan sistem, meskipun kritik tersebut dinilai belum digali secara maksimal.
Persahabatan: Karena Hidup Tidak Pernah Dijalani Sendirian
Yang membuat film ini hangat adalah hubungan antartokohnya.
Ijal dan Adut, misalnya, bukan sekadar partner melakukan kejahatan. Ada persahabatan, saling membutuhkan, saling menyelamatkan, sekaligus saling mengecewakan.
Begitu pula hubungan dengan Tia dan Melodi.
Di tengah tindakan yang salah, masih ada manusia-manusia yang memiliki rasa sayang, loyalitas, kecemburuan, kemarahan, mimpi dan luka.
Ini yang membuat karakter-karakternya tidak terasa hitam-putih.
Kita mungkin tidak setuju dengan pekerjaan mereka.
Tetapi kita tetap bisa memahami bahwa orang jahat pun tetap manusia, dan manusia tidak pernah sesederhana label baik atau buruk.
Di situlah film ini bekerja dengan cukup baik.
Ada Luka yang Tidak Harus Dilupakan
Salah satu lapisan emosional film ini adalah hubungan Ijal dengan ibunya.
Film ini tidak mengambil jalan mudah bahwa semua konflik keluarga harus berakhir dengan pelukan dan kata, “Aku memaafkanmu.”
Ada kesalahan yang meninggalkan luka.
Dan ada luka yang membutuhkan waktu.
Yang menarik, penyelesaian persoalan keluarga Ijal tidak dipaksakan menjadi rekonsiliasi manis. Salah satu ulasan bahkan menilai film ini berani menunjukkan bahwa seseorang bisa berdamai dengan masa lalu tanpa harus melupakan kesalahan orang lain.
Ini pesan yang sangat manusiawi.
Pesan Moral: Jangan Hanya Melihat Copetnya
Pesan terbesar film ini bukanlah bagaimana menjadi pencopet yang lebih lihai.
Justru sebaliknya.
1. Keadaan sulit bukan alasan untuk melakukan kejahatan
Kemiskinan bisa menjelaskan mengapa seseorang melakukan sesuatu.
Tetapi kemiskinan tidak otomatis membuat tindakan itu menjadi benar.
Memahami sebab tidak sama dengan membenarkan akibat.
2. Kesempatan adalah sesuatu yang sangat mahal
Film ini mengingatkan bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan nasihat:
“Kerja keraslah!”
Kita juga perlu bertanya:
Apakah kesempatan kerja, pendidikan, dan kehidupan yang layak benar-benar tersedia bagi semua orang?
Sebab kadang-kadang seseorang bukan malas.
Ia hanya tidak menemukan pintu.
3. Persahabatan adalah kekuatan, tetapi juga harus punya batas
Ijal dan kawan-kawannya menunjukkan betapa kuatnya solidaritas.
Tetapi loyalitas kepada teman jangan sampai membuat kita ikut masuk ke jalan yang salah.
Teman yang baik bukan hanya teman yang ikut ketika kita melakukan kesalahan.
Teman yang baik adalah yang berani mengatakan: “Sudah. Jangan lanjut.”
4. Keluarga meninggalkan jejak yang panjang
Hubungan Ijal dengan ibunya mengingatkan kita bahwa luka masa kecil tidak otomatis hilang ketika seseorang dewasa.
Karena itu, dalam keluarga, jangan meremehkan dampak sebuah keputusan orang tua terhadap anak.
Anak mungkin tumbuh besar.
Tetapi ingatannya juga ikut tumbuh.
5. Jangan lengah hanya karena sedang bersenang-senang
Ini pesan paling praktis.
Datang ke konser untuk bernyanyi, bukan untuk pulang membawa trauma karena dompet hilang.
Film ini sekaligus menjadi pengingat agar kita lebih waspada di tengah kerumunan. Teknik pencopetan yang digambarkan film justru dapat membuat penonton mengenali tanda-tanda distraksi dan kerja kelompok pelaku.
6. Jangan buru-buru menghakimi manusia hanya dari pekerjaannya
Kita boleh mengecam perbuatannya.
Tetapi jangan kehilangan kemampuan untuk melihat manusianya.
Sebab orang yang melakukan kesalahan tetap memiliki cerita.
Dan terkadang, memahami cerita seseorang adalah langkah pertama untuk memahami mengapa sebuah masalah sosial terus berulang.
Pada akhirnya,
Operasi Pesta Copet bukan film tentang bagaimana menjadi pencopet.
Film ini justru mengajak kita melihat mengapa seseorang bisa sampai memilih menjadi pencopet.
Di balik sepuluh jari yang lihai mengambil dompet, ada manusia dengan perut yang harus diisi.
Di balik tawa, ada kemiskinan.
Di balik aksi kriminal, ada persahabatan.
Di balik keberanian mencuri, ada ketakutan menghadapi hidup.
Dan di balik seorang pencopet, mungkin ada seorang anak yang dahulu hanya ingin memiliki kehidupan yang lebih baik.
Tetapi film ini juga mengingatkan satu hal penting:
Kesulitan hidup boleh menjelaskan pilihan kita. Tetapi pada akhirnya, kita tetap bertanggung jawab atas pilihan itu.
Mungkin itulah pelajaran paling berharga dari Operasi Pesta Copet.
Bahwa hidup memang tidak selalu memberikan kita pilihan yang mudah.
Tetapi sesulit apa pun keadaan, jangan sampai kita kehilangan kompas untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Karena kalau semua orang merasa keadaan adalah alasan untuk berbuat salah, maka yang hilang bukan hanya dompet di tengah kerumunan.
Yang hilang adalah rasa percaya kita kepada sesama.
