Jakarta (iddaily.net) – ”Ternyata, di tengah situasi seperti ini, tetap tidak ada kabar baik juga. Kirain tidak berlaku untuk sepak bola.”
Demikian ketikan pesan sahabat saya, usai Indonesia seri 1-1 lawan Singapura dalam laga Grup A Piala AFF di Stadion Besar, Singapura, 7 Agustus lalu.
Satu gol dari Ragnar Oratmangoen dibalas oleh Ilhan Fandi, anak ketiga Fandi Ahmad, legenda sepak bola Singapura yang pernah setahun main memperkuat Niac Mitra Surabaya.
Hanya mendapat poin tujuh -hasil menang atas Kamboja 5-1, Timor Leste 3-0, tapi kalah 0-3 di kandang dari Vietnam, lalu umbang 1-1 di kandang Singapura- Indonesia harus menuai kegagalan serupa dua tahun silam. Tak bisa lolos dari fase grup Piala AFF. Singapura -yang berhasil menahan seri 0-0 Vietnam- menjadi pendamping tim negeri ’Paman Ho’ lolos ke semifinal.
Akun Instagram Pandit Football memasang visual dan pernyataan Ketua Umum PSSI -yang juga merangkap Menteri Pemuda Olahraga- Erick Thohir, ”Kami akan melakukan evaluasi terhadap hasil di ASEAN Championship 2026 agar Timnas Indonesia lebih siap untuk menghadapi sejumlah turnamen penting ke depan.”
Pandit Football memasang caption menohok, ”Ini serius, tidak ada pernyataan bertanggung jawab atau setidak-tidaknya permintaan maaf?
November lalu, waktu Timnas Kenya dilumat Senegal 0-8 di laga persahabatan, Presiden Football Kenya Federation, Hussein Mohammed, langsung bilang maaf. Padahal, itu cuma pertandingan persahabatan.
Begitu pula di Piala Dunia 2026. Ketika Arab Saudi tersingkir di fase grup, Yasser Al-Misehal selaku Presiden Federasi Sepak Bola Arab Saudi bilang kalau kegagalan itu merupakan tanggung jawab penuhnya.
Sikap serupa ditunjukkan Giorgos Sarris, Presiden Federasi Sepak Bola Yunani. Dia pasang badan loh dan bertanggung jawab penuh saat timnasnya secara mengejutkan kalah dari Kepulauan Faroe pada Kualifikasi Euro 2016.
Hadeuh, wes, ga mampu!”
Dan inilah wajah sepak bola Indonesia pekan ini. Awal Agustus 2028. Jelang peringatan ke-81 Hari Kemerdekaan Indonesia.
Kita sukses menggelar Piala Presiden. Kita sukses mendatangkan klub-klub kelas dunia. Stadion penuh. Tiket laris. Kamera televisi menyala. Sponsor tersenyum. Media sibuk. Bahkan Malam Minggu saat tulisan ini dibuat, 8 Agustus 2026, Chelsea dan AC Milan bertemu di Gelora Bung Karno. Chelsea melumat Milan tiga gol tanpa balas dalam euforia pramusim kedua klub elit Eropa itu.
Sepak bola Indonesia tampaknya sudah berhasil menjadi destinasi wisata bagi klub-klub Eropa. Sepekan lalu, kita juga sukses mendatangkan Aston Villa main di Senayan. Menang 3-1 melawan Indonesia All Stars yang dilatih legenda hidup timnas Kurniawan Dwi Yulianto.
Sayangnya, ada satu yang belum berhasil kita datangkan: Trofi Piala AFF. Bahkan untuk kali ini, Tim Garuda cuma bertahan sampai babak grup.
Tim-tiim Eropa hadir, tapi timnas kita justru pulang lebih cepat.
Mungkin ini yang disebut ‘sport tourism’: turis olahraganya datang dari Eropa, prestasinya justru pergi ke mana-mana.
Kutukan Mursyid Effendi?
Lalu muncul lagi pertanyaan klasik yang sebenarnya terdengar seperti bahan film horor sepak bola: Apakah Indonesia masih terkena kutukan Mursyid Effendi?
Pada Piala Tiger 1998, Mursyid Effendi mencetak gol bunuh diri yang membuat Indonesia kalah 2-3 dari Thailand. Kekalahan itu berkaitan dengan upaya kedua tim menghindari Vietnam di semifinal. Insiden tersebut kemudian menjadi salah satu noda paling terkenal dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Sudah 28 tahun berlalu. Kalau benar ada kutukan, berarti jin sepak bola Asia Tenggara ini punya kontrak kerja yang luar biasa panjang.
Tetapi mari kita jangan menyalahkan Mursyid. Kasihan juga. Peristiwanya sudah lama berlalu, tetapi kita masih sibuk mencari alasan atas kegagalan sepak bola Indonesia pada 2026. Toh, Thailand -yang juga berkongkalikong dalam ’laga busuk’ itu- sudah ’move on’ dan sukses berkali-kali Juara AFF.
Kalau setiap kegagalan Timnas dikaitkan dengan gol bunuh diri tahun 1998, berarti masalah kita bukan lagi kutukan. Masalah kita mungkin adalah kesulitan mencetak gol ke gawang lawan sambil terlalu rajin mencetak gol ke gawang sendiri—baik secara harfiah maupun secara kelembagaan.
John Herdman: Pelatih Piala Dunia, Kok Kalah di ASEAN?
Ini bagian yang paling menggelitik. John Herdman bukan pelatih sembarangan.
Ia pernah membawa tim putra Kanada ke Piala Dunia 2022. Bahkan Herdman punya catatan unik: ia pernah membawa tim nasional putra dan putri Kanada ke Piala Dunia.
Jadi ketika PSSI menunjuk Herdman pada Januari 2026, ekspektasinya tentu bukan sekadar, “Yang penting jangan kalah banyak.”
Ekspektasinya adalah prestasi. Tetapi sepak bola memang lucu.
Seorang pelatih yang pernah membawa Kanada ke Piala Dunia kini harus menjelaskan mengapa Indonesia tidak mampu melewati fase grup Piala AFF.
Ini seperti memanggil koki restoran Michelin untuk memasak nasi goreng, lalu nasinya malah gosong. Apakah berarti Herdman pelatih buruk?
Belum tentu.
Ia baru menangani Timnas Indonesia sejak awal tahun. Waktu untuk membangun tim tentu tidak panjang.
Lagipula, pelatih bukan tukang sulap.
Masalahnya adalah: apakah PSSI sudah memberi Herdman sistem sepak bola yang memungkinkan seorang pelatih bekerja?
Sebab kita sering berpikir bahwa kalau pelatihnya kelas dunia, pemain naturalisasi banyak, maka hasil otomatis kelas dunia.
Padahal sepak bola tidak bekerja seperti membeli paket internet:
Tambah pelatih Eropa + tambah pemain naturalisasi = otomatis juara ASEAN.
Tidak begitu.
Naturalisasi: Bukan Jaminan Masuk Surga
Program naturalisasi telah meningkatkan kualitas skuad Indonesia.
Itu fakta.
Tetapi naturalisasi seharusnya menjadi pelengkap, bukan menjadi fondasi tunggal.
Kalau setiap kali timnas gagal kita menjawab dengan:
“Tambah pemain naturalisasi!”
maka lama-lama PSSI akan seperti orang memperbaiki rumah bocor dengan membeli perabot baru.
Atapnya bocor, beli sofa.
Lantainya retak, beli televisi.
Listrik mati, beli kulkas.
Sampai akhirnya rumah penuh barang, tetapi tetap kehujanan.
Sepak bola Indonesia juga begitu. Pembinaan bukan di kompetisi, tapi di Kantor Imigrasi.
Kita bisa punya pemain yang bermain di Belanda, Italia, Inggris, Belgia atau negara lain.
Tetapi kalau kompetisi domestik tidak sehat, kalender berantakan, pembinaan usia muda tidak konsisten, kualitas pelatih lokal tidak naik, dan klub kesulitan membangun sistem, jangan heran kalau tim nasional tetap seperti mobil mahal yang mesinnya belum diservis.
PSSI Jangan Hanya Pandai Menjual Mimpi
Di bawah Erick Thohir, PSSI jelas berhasil membuat sepak bola Indonesia semakin menarik perhatian.
Branding meningkat.
Timnas menjadi magnet penonton.
Laga-laga internasional ramai.
Klub-klub besar Eropa mau datang.
Itu bukan prestasi kecil.
Tetapi justru karena ekspektasi masyarakat sudah naik, standar pertanggungjawabannya juga harus naik.
PSSI tidak bisa selamanya menjawab kritik dengan: “Percaya proses.”
Karena publik Indonesia sudah terlalu sering membeli tiket untuk menonton proses.
Masyarakat ingin melihat hasil.
Kalau prosesnya lima tahun, tidak masalah.
Kalau prosesnya sepuluh tahun, mungkin masih bisa diterima.
Tetapi kalau setiap kegagalan selalu menghasilkan proses baru, lalu setiap proses menghasilkan evaluasi, kemudian evaluasi menghasilkan
pelatih baru, dan pelatih baru menghasilkan proses baru lagi…
Kita akhirnya memiliki sepak bola dengan proses tanpa akhir dan trofi tanpa alamat.
Desakan Erick Thohir Mundur
Desakan agar Erick Thohir mundur juga harus dilihat secara proporsional.
Ketua umum federasi memang layak dimintai pertanggungjawaban ketika prestasi tim nasional tidak sesuai target.
Tetapi mengganti ketua umum bukan tombol ‘factory reset’.
Pergantian pengurus tidak otomatis membuat pemain lebih bagus.
Tidak otomatis membuat striker lebih tajam.
Tidak otomatis membuat bek lebih disiplin.
Tidak otomatis membuat kompetisi lebih sehat.
Dan tentu saja tidak otomatis membuat bola mau masuk gawang.
Namun sebaliknya, Erick Thohir juga tidak boleh menjadikan posisinya sebagai tameng untuk menghindari evaluasi.
Kalau targetnya prestasi, maka ukuran keberhasilannya harus jelas.
Bukan cuma: berapa banyak penonton, berapa besar sponsor, berapa banyak klub Eropa datang,
atau berapa ramai media memberitakan Timnas.
Karena kalau ukuran keberhasilan sepak bola adalah jumlah penonton, Indonesia sebenarnya sudah juara dunia.
Tinggal masalahnya: pialanya belum ada.
Mari kita akhiri kesedihan gagal menjuarai Piala AFF untuk kesekian kali. Sampai jumpa di target (atau alasan ’ngeles’ berikutnya): kita fokus konsen di ASEAN-FIFA Championship September 2026, Piala Asia 2027 dan lolos Piala Dunia 2030!
Ayo PSSI, bangun! Jangan terlalu lama mimpinya!
