Jakarta (iddaily.net) – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik pada Senin (21/9/2026) malam.
Awan panas guguran (APG) teramati meluncur dari kawasan puncak Merapi sekitar pukul 22.15 WIB dengan arah dominan menuju barat daya.
Dalam pengamatan visual pada malam tersebut, terlihat gumpalan material vulkanik berwarna putih hingga kelabu pekat yang oleh masyarakat kerap disebut wedus gembel. Gumpalan tersebut tampak tertiup angin ke arah barat.
Aktivitas tersebut terjadi ketika Gunung Merapi masih berada pada Status Level III atau Siaga.
Berdasarkan pemantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sepanjang Senin (21/9/2026) pukul 00.00 hingga 24.00 WIB tercatat 34 kali guguran lava.
Guguran tersebut mengarah ke sektor barat daya, meliputi kawasan Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter atau 2 kilometer.
Aktivitas Merapi Masih Tinggi
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso mengatakan hasil pemantauan pada 21 September menunjukkan aktivitas Gunung Merapi masih cukup tinggi.
“Selain 34 kali guguran lava, pemantauan kegempaan juga mencatat 68 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–33 mm dan durasi 29,12–199,93 detik,” kata Agus Budi dalam keterangannya.
Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas erupsi efusif Merapi masih berlangsung.
Pertumbuhan kubah lava juga menjadi salah satu faktor yang dapat memicu terjadinya guguran lava maupun awan panas guguran.
Badan Geologi sebelumnya menjelaskan bahwa potensi bahaya awan panas guguran dan guguran lava berada terutama pada sektor selatan hingga barat daya, termasuk sejumlah sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Awan Pekat Terlihat Tertiup Angin
Luncuran pada Senin malam tersebut juga terlihat dari sejumlah wilayah di sekitar Merapi. Gumpalan awan panas tampak pekat dan bergerak mengikuti kondisi angin.
Istilah wedus gembel merupakan sebutan masyarakat untuk awan panas guguran yang meluncur dari tubuh gunung api.
Fenomena ini berbeda dengan sekadar asap kawah karena awan panas guguran membawa campuran gas vulkanik dan material panas yang bergerak menuruni lereng.
Dalam laporan pengamatan aktivitas Merapi pada 21 September, kondisi cuaca di sekitar gunung dilaporkan dominan cerah dan berawan.
Angin pada periode pengamatan juga terpantau bergerak ke arah timur.
Status Merapi Masih Level III Siaga
BPPTKG masih mempertahankan status aktivitas Gunung Merapi pada Level III atau Siaga.
Masyarakat diminta mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan otoritas kebencanaan dan tidak melakukan aktivitas di kawasan yang masuk daerah potensi bahaya.
Badan Geologi juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai ancaman awan panas guguran dan lahar, terutama ketika terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi.
Masyarakat yang tinggal di sekitar alur sungai yang berhulu di Merapi juga perlu memperhatikan informasi resmi dari BPPTKG dan pemerintah daerah, khususnya ketika terjadi peningkatan aktivitas vulkanik maupun hujan dengan intensitas tinggi.
