*catatan untuk almarhumah Emakku
Malang (iddaily.net) –Kamis, 26 Juni 2026, jam 03.15 dini hari, Emakku, menghembuskan napas terakhir di rumahnya, Malang, Jawa Timur.
Komplikasi beberapa penyakit, membuat fisiknya melemah.
Terakhir bertemu, seminggu sebelum meninggal, Emak lebih banyak di kasur.
BUS
Ingatan terjauh yang ada di kepalaku tentang Emak, adalah sebuah perjalanan antar kota dengan menggunakan bus kelas ekonomi.
Entah umur berapa aku ketika itu. Yang pasti, di tahun 1980-an.
Perjalanan dari Surabaya ke Kediri itu, menurut saya (versi kecil) lama banget, dan gerah.
“Kok gak tutuk-tutuk (baca: kok gak sampai-sampai tujuan),” kata saya berulang-ulang.
Awalnya, Emak mencoba membujuk, dan mengalihkan perhatian dengan mengajak omong tentang hal lain.
Tapi aku tetap kekeuh.
Kalimat “Kok gak tutuk-tutuk,” aku ucapkan berulang-ulang, sampai akhirnya, Emak jengkel, dan memutuskan untuk meminta bus berhenti di pinggir jalan.
Kami berdua turun di Jombang.
Aku girang, seperti narapidana yang menghirup udara bebas.
Setelah puas bermain-main di pinggir jalan, kami kembali melanjutkan perjalanan.
RUMAH SAKIT
Masih di medio tahun yang sama, kali ini tentang rumah sakit.
Karena ada persoalan di perut, saya dioperasi di sebuah Rumah Sakit di Surabaya.
Masih terbayang, saya terbaring di kasur rumah sakit, dengan selimut dan bantal guling, berwarna putih.
Emak ada di samping saya. Ia membujuk saya agar mau makan makanan jatah rumah sakit yang tidak enak.
Telur rebus, dan sayur bayam.
Tentu saya menolak. Rasanya hambar.
Emak terus membujuk, tapi saya terus menolaknya.
(Ingatanku berhenti sampai di kenangan itu).
Dari dua cerita itu saya memahami, cara Emak mendidik anaknya adalah dengan memberi ruang yang luas untuk anaknya menjalankan pilihan.
Emak bahkan rela keluar dari planning awal, bila itu menjadi pilihan anaknya.
Bus jurusan Surabaya-Kediri harus berhenti di pinggir jalan, hanya karena saya memintanya.
Emak seolah ingin berkata dalam sikapnya: Ini pilihanmu, silakan kau jalani.
Tapi kalau sudah selesai, kembalilah ke planning awal.
Di rumah sakit pun sama.
Emak tidak memaksakan pilihan pada anaknya.
Aku yang menolak makanan rumah sakit, disetujuinya.
Resiko harus saya tanggung: lapar.
***
Emakku memiliki definisi “kasih sayang” yang berbeda.
Tanpa ada kata-kata menye-menye.
Bagi dia, ekspresi melalui kata-kata itu omong kosong belaka.
Latar belakang hidupnya, membentuk Emak menjadi sosok yang keras.
Kondisi keluarga yang membuat Emak dan Ibunya (kami memanggilnya Emak juga, hahaha) pindah dari Kertosono ke Kecamatan Babat, Lamongan.
Keluarga Emak tinggal di Pasar Lama Babat, samping terminall bus lama di Babat.
Kami menyebutkan stanplat atau standplaats, bahasa Belanda yang artinya tempat pemberhentian kendaraan umum.
Hidup bersama orang-orang pasar, membuat Emak berwatak keras, terbuka, jujur, suka menolong dan apa adanya.
Rumusan orang baik dan orang tidak baik, sungguh berbeda di matanya.
Kuli pasar, tukang becak, copet pasar, penjual buah, dll asal bermanfaat bagi sesama, bisa diajak berkawan.
KOTRIK
Kotrik, atau capung dalam bahasa jawa, adalah panggilan Emak ketika kecil.
Kotrik yang lincah adalah siswa yang aktif selama sekolah.
Emak bahkan tergabung dalam Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) di Lamongan.
GSNI adalah organisasi ekstrakurikuler sekolah yang mendidik jiwa sosial, kritis dan nasionalis.
Nilai-nilai Sukarno tertanam melalui gerakan ini.
Begitu aktifnya, sampai-sampai sering kena semprot ibunya.
Ketika Gerakan 30 September meletus, Kotrik sangat dikhawatirkan ikut terseret karena aktivitasnya.
Beruntung, keluarga besar Emak adalah bagian dari keluarga besar Ansor.
Kotrik jauh dari pusara konflik itu.
Dengan jiwa sosial yang tinggi itu juga, Emak memilih bersekolah kebidanan di Surabaya, hingga bertemu dengan suaminya, bapakku.
*bersambung
