CHILD GROOMING. PERHATIAN MANIS, DIAM-DIAM MENGIKIS DIRI
Sejak memoar Broken Strings terbit, banyak orang menunjukkan empati dan dukungan pada Aurélie.
Banyak yang marah, sedih, bahkan ikut terluka membaca kisahnya.
Namun di tengah dukungan itu, muncul satu kebingungan:
“Kok bisa hubungan seperti itu terjadi?”
Pertanyaan ini penting.
Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk membantu kita lebih peka membedakan
mana relasi yang sehat, dan mana yang diam-diam merusak.
Yang berbahaya itu jarang datang dengan wajah seram.
Saat mendengar kata hubungan berbahaya, yang sering terbayang adalah: kasar, meledak-ledak, atau jelas menyakiti.
Padahal dalam banyak kasus, hubungan yang tak sehat justru datang dengan wajah yang sangat ramah.
Orangnya terlihat:
- dewasa
- sopan
- penuh perhatian
- pandai bicara
seolah tahu cara paling benar.
Tidak ada yang terasa janggal.
Bahkan sering kali terlihat sangat ideal.
Perhatian yang terasa enak di awal.
Dan ya.., di awal semuanya terasa menyenangkan.
Dia:
- sering menemani
- sering mengajak bicara
- selalu ada saat dibutuhkan
- mendengarkan dengan penuh perhatian
- membuat kita merasa spesial
Pelan-pelan muncul perasaan:
“Dia beda dari yang lain.”
“Dia ngerti banget aku.”
“Aku nyaman sama dia.”
Di titik ini, banyak orang mulai lengah.
Bukan karena ceroboh, tetapi karena merasa tidak ada yang salah.
Padahal…
Dalam hubungan yang sehat, kedekatan tumbuh perlahan.
Ada waktu untuk saling mengenal.
Ada ruang untuk ragu.
Ada jarak.
Ada batas yang tetap dihormati.
Namun dalam relasi yang tidak sehat, kedekatan sering terasa terlalu cepat, terlalu intens, dan terlalu sempurna.
Tiba-tiba saja:
- jadi sangat dekat
- sering berbagi hal yang sangat pribadi
- muncul perasaan “hanya dia yang benar-benar mengerti aku”
Lalu pelan-pelan muncul dorongan:
- aku harus membalasnya.
- aku harus menyenangkan dia.
Sampai akhirnya muncul rasa:
- “Aku nggak enak kalau nolak dia.”
- “Aku harus selalu menjaga perasaannya”
- “Takut salah bicara”
- “Takut bikin dia kecewa.”
Padahal rasa tidak enak yang berlebihan bukan tanda cinta yang sehat.
Alarm yang Terabaikan
Seiring waktu, sedikit demi sedikit, rasa gelisah menyelinap, tapi sulit menjelaskan kenapa.
Namun rasa ini sering ditekan dengan logika:
- “Mungkin aku terlalu sensitif.”
- “Mungkin aku salah paham.”
- “Mungkin aku yang bermasalah.”
- “Masa sih dia berniat buruk?”
Pelan-pelan, kita berhenti mendengarkan diri sendiri.
Tanpa sadar,
- Kita jadi lebih sering menyesuaikan diri,
- Mengikuti kemauannya,
- Dan semakin jarang mendengarkan suara hati.
Alarm batin yang tadinya berbunyi, perlahan… dimatikan.
Kenapa Sulit Keluar atau Menolak?
Karena saat itu:
- hubungan sudah terlanjur dekat
- sudah ada rasa sungkan
- sudah terbentuk ikatan emosi
Menolak terasa lebih berat daripada menuruti.
Bukan karena setuju, tetapi karena bingung harus bagaimana.
Apalagi dari luar, semuanya terlihat:
- tenang,
- baik-baik saja,
- tak ada yang tampak salah,
- bahkan seperti hubungan yang baik.
Sementara di dalam, perlahan muncul rasa:
- lelah,
- ragu,
- dan kehilangan diri sendiri.
Membaca Broken Strings seharusnya membuat kita belajar satu hal penting:
Hubungan yang tidak sehat tidak selalu terasa salah di awal.
- Kadang terasa nyaman.
- Kadang terasa aman.
- Bahkan terasa seperti cinta yang ideal.
Sampai suatu hari kita bertanya dalam hati:
- “Kenapa aku jadi makin kecil?”
- “Kenapa aku makin ragu pada diriku sendiri?”
Di situlah kita perlu berhenti, dan mulai mendengarkan diri sendiri lagi.
Karena relasi yang sehat adalah relasi yang saling menguatkan, bukan membuat salah satu merasa mengecil dan tak berani menjadi dirinya sendiri.
#Bunda Nunki/ Innermind Academy, Consultant & Community
#Foto: https://res.cloudinary.com/dk0z4ums3/image/upload/v1685525403/attached_image/child-grooming-modus-pelecehan-anak-yang-jarang-disadari-0-alodokter.jpg














Tidak ada komentar