15 December 2009

Memutarbalikkan Legenda Untuk Haha-hihi

Iman D. Nugroho

Bagaimana bila cerita legenda di bolak-balik? Film Bukan Malin Kundang adalah jawabannya. Di film ini, cerita anak durhaka yang menjadi batu dimodifikasi. Justru sang ibu yang menjadi batu.

Ryan (Ringgo Agus Rahman) terperanjat. Setelah dicari-cari, sang ibu ternyata sudah berubah menjadi batu. Dua sahabat Ryan, Ado (Desta) dan Luna (Sissy Priscillia) tak kuasa melihat kesedihan sahabatnya, dan berusaha mencari solusi untuk masalah Ryan. “Seperti legenda Malin Kundang,” kata Luna meyakinkan Ryan. Ketiganya pun berusaha mencari cara untuk mengubah sang ibu kembali menjadi manusia. Petualangan pun dimulai.

Penggalan kisah di atas adalah titik awal cerita dalam film Bukan Malin Kundang. Film yang menceritakan kisah Ryan, Ado dan Luna itu memang menarik perhatian. Terutama judul dan temanya yang dekat dengan cerita legenda termasyur di Indonesia, Malin Kundang. Malin Kundang adalah legenda dari daerah Minangkabau, Padang, Sumatera Barat, yang menceritakan sosok Malin, anak durhaka.

Malin yang sejak kecil diasuh sang ibu, tiba-tiba saja menjadi sombong saat sudah kaya raya. Apalagi, Malin memiliki istri anak seorang raja. Suatu ketika, Malin bertemu dengan ibunya, setelah bertahun-tahun merantau. Sayang, Malin tidak mau mengakui sosok perempuan tua dan miskin itu adalah ibu kandungnya. Sang ibu yang murka, mengutuk Malin dan seluruh kekayaannya menjadi batu.

Sebagian orang meyakini cerita ini sebagai sebuah kebenaran, lantaran sampai saat ini batu Malin Kundang itu bisa ditemui di pantai Air Manis, Padang, Sumatera. Sebagian lain menilai kisah itu hanya rekaan semata. Apapun itu, cerita tentang Malin Kundang tetap ada sampai sekarang.

Nah, berbeda dengan cerita Malin Kundang asli, film Bukan Malin Kundang garapan sutradara Igbal Rais ini justru berbeda. Ryan, Ado dan Luna menjadi tokoh utama dalam film yang naskahnya ditulis oleh Semali dan Hilman Rais ini. Ketiga sahabat ini adalah mahasiswa yang jarang ke kampus dan memiliki kebiasaan jahil.

Ryan hidup berdua bersama ibunya. Pemuda manja ini selalu memperlakukan sang ibu yang single parent itu dengan semena-mena. Sementara, Ado memiliki keluarga dengan jumlah anggota keluarga yang sangat banyak. Karena itulah, Ado merasa tidak pernah mendapat perhatian. Luna lain lagi. Perempuan satu-satunya dalam tiga sahabat itu justru merasakan over protective dari kedua orang tuanya.

Hobi mereka yang suka menjahili orang kini kena batunya. Ryan dengan semena-mena mengikat Rapiah, seorang nenek renta (Aming) di atas tiang listrik. Hanya gara-gara menghalangi jalan. Nenek yang marah itu mengutuk Ryan. Saat pulang, Ryan mendapati sang ibu tidak ada di rumah.

Hingga akhirnya, keesokan ketiga sahabat itu menemukan sebuah patung yang dinilai sebagai patung sang ibu. Ketiganya berusaha keras mencari cara menyembuhkan kutukan itu. Mulai membawanya ke Dukun (Joe P Project) hingga menculik Nenek Rapiah untuk dipaksa memaafkan Ryan dan menarik kutukannya.

Untuk sebuah film komedi, cerita Bukan Malin Kundang terasa lebih fresh, dibanding cerita film komedi yang belakangan hanya dibuat bertemakan persoalan cinta semata. Apalagi film ini juga mengusung nilai-nilai lama yang, mungkin, sudah jarang sekali dibicarakan. “Karena itulah, saya merasa tertantang mengerjakan film ini,” kata Iqbal Rais, sang sutradara. Apalagi, tantangan lain yang dihadapi adalah tidak mengabaikan cerita asli, Malin Kundang yang syarat nilai.

Bagi Semali dan Hilman Mutasi, pembuatan naskah film yang didasari oleh cerita sebuah daerah tertentu, dan kemudian dipelesetkan, menjadi tantangan tersendiri. Tak heran, bila dalam proses membuat naskah ini, Semali dan Hilman perlu berbulan-bulan diskusi. “Sharing sangat penting, untuk tidak meninggalkan esensi cerita asli, tapi dengan sentuhan baru versi kekinian,” kata Semali. Bila meleset sedikit saja, bisa jadi akan mendapatkan cap pelecehan.

Namun, saat film itu sudah selesai dibuat, justru Igbal Rais, Semali maupun Hilman malah bangga. Penggarapan dan peran artis yang bermain dalam film ini berhasil menambah bobot film yang akan ditayangkan pada 23 Desember 2009 ini. Tidak jauh dari Hari Ibu Nasional pada 22 Desember. Ringgo Agus Rahman, Desta dan Sissy Priscillia menjadi sosok yang tidak bisa dilepaskan dari film yang mulai digarap pada awal Oktober 2009 ini.

Ringgo Agus Rahman yang dalam film itu diceritakan sebagai anak manja dan bengal, menilai film ini pantas ditonton anak muda agar lebih mengerti arti orang tua di masa sekarang. “Kalau Aku sih, melihat film ini sebagai dedikasi untuk orang tua, terutama ibuku,” katanya. Ringgo mengaku, hubungannya sangat dekat dengan sang ibu. “Sampai kelas 1 SMP, aku masih tidur sama ibuku lho,” kenangnya.

Meski diwarnai dengan kedalaman makna, film Bukan Malin Kundang tetap saja memiliki kekurangan. Penggambaran ketiga tokoh utama sebagai sosok yang manja dan bengal, terlalu berlebihan dengan seringnya ketiganya memaki di sela-sela parody sarkasme. Film ini juga mengabaikan nilai-nilai lain berupa penghapusan stereotypes karakter etnis tertentu.

Well, apapun, tak ada salahnya melihat Malin Kundang dalam bentuk lain.

*photo by Rapi Film

1 comment:

Program

Program