28 December 2009

Bertemu Ani Yudhoyono

Iman D. Nugroho | Sebuah Cerpen

Pasar Tanah Abang, Jakarta suatu hari. Entah bagaimana, tiba-tiba motor yang lagi asyik kukendarai, terseok-seok. "Bocor,.." Yup. Seperti sebuah ritual, motor tua yang aku miliki [dengan kebanggaan karena uangnya bukan hasil korupsi], bocor lagi roda belakangnya. Sebuah angkot yang berada tepat di belakangku, membanting stirnya ke arah kanan, sambil menyalakan klaksonnya keras-keras. "Anjing lu!" teriak sopirnya.

Aku pura-pura nggak mendengar. Kalau aku sopirnya, pasti juga akan melakukan hal yang sama. Maklumlah, panas dan macet, sering membuat orang gampang emosi. Tak ada pilihan selain menuntun [serius, aku tidak menemukan kata "menuntun", dalam bahasa Indonesia]. Itu tuh,.berjalan di samping motor, sambil berpegang ada dua stir motornya. Seperti yang dilakukan orang-orang untuk mencari tambal ban. You know what I mean?

"Mas Iman ya?" Tiba-tiba seorang peremuan menyapaku. Aku terkejut. Bagaimana bisa, seorang ibu-ibu tua, yang berdiri di trotoar jalan sendirian, menyapaku. Kutepis kagetku, sambil kupandangai wajahnya. "Ibu siapa? tanyaku. Ia hanya tersenyum. Dari senyumnya, aku sempat menebak dia adalah Luna Maya, tapi kok agak gendut. Atau Miyabi? Nggak ah. Miyabi kan orang Jepang, nggak mungkin bisa bahasa Indonesia.

"Jangan kaget, saya Ibu Ani," katanya. Glodak!!! "Nggak usah pake glodak, saya memang memang Ani Yudhoyono, istrinya pak SBY," jelasnya. Aku hanya terpana. Mana mungkin, Bu Ani sendirian di tepi jalan yang panas di Tanah Abang. Sendirian lagi. "Ah, ibu bercanda," kataku pendek. Ia tersenyum. "Kok nggak ada pengawalan?" aku penasaran. "Siapa bilang saya sendirian, kamu lihat dua orang di sana itu, atau yang di sana?" katanya sambil menunjuk dua orang berjaket dan kacamata hitam di seberang jalan. "Mereka adalah Paspampres yang menjaga saya," katanya.

Aku masih tidak percaya. Kuamati wajahnya. "Iya,..memang mirip Ani Yudhoyono," kataku dalam hati. "Memang aku Bu Ani," katanya seperti mampu menebak hatiku.

###

"Ini sotonya, dan ini es teh tawarnya," kata pemilik warung sambil menyodorkan soto daging dan es teh tawar. Pertemuan dengan Bu Ani Yudhoyono di depan Pasar Tanah Abang itu mengantarkan kami ke warung Soto Daging di belakang Plaza Indonesia. "Sudah, kita makan dulu, biar Paspampres yang menunggui tukang tambal ban, menambal roda belakang sepeda motormu," katanya.

Memang, tak lama setelah Bu Ani memperkenalkan diri, seorang pria berbadan kekar mendatangi kami, dan nawarkan diri membantuku menambal ban. Bu Ani, mengajakku naik taksi ke warung soto ini. "Kalau memang anda Ani Yudhoyono, tolong ceritakan sedikit soal sosok Anii Yudhoyono?" tanyaku menguji. Dia tersenyum. Kalau dia berbohong, aku pasti tahu. Belum lama ini, aku googling sosok Ani Yudhoyono di internet, dan menemukan banyak data tentangnya.

"Oke. Saya lahir di Jogjakarta pada 6 Juli 1952. Artinya, umur saya 57. Suami saya, Susilo Bambang Yudhoyono, presidenmu itu [Aku tersenyum], dan punya anak dua. si Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono, yang sering kamu olok-olok di internet [aku tersenyum lagi, kali ini senyum sinis]. Saya pernah kuliah di UKI [Universitas Kristen Indonesia], tai tidak selesai, dan melanjutkan di Universitas Universitas Merdeka samai tamat,..trusss,.." katanya.

"Sudah-sudah,.." aku menyela.

*bersambung bagian kedua, klik di sini.

No comments:

Post a Comment

Program

Program