22 November 2009

[ Atmosphere ] Keruh

Syarief Wadja Bae

bagai sua hujan dalam selokan
mereka tak takut karma sejarah
tentang bohong mereka pada kahanan
tinggal riwayat yang disiram comberan
berselimut daki dalam rupa dasi
dengan kemasan basi

Tuhan redupkan lampu
dalam kalbu dan hidup mereka
hanya naif dan latah
dalam alinea munafik yang panjang
padahal Tuhan tak pernah pergi
dari nadi
seolah tak ada cermin
sementara
disana ada penyair
yang menjadi Dewa
penyair yang tak pernah
ke pasar dan terminal

saban hari di kampus-kampus
semakin banyak Mahasiswa
yang belajar menjadi buaya
tanpa peduli pada air mata ibu
yang mereka injak berkali-kali

seperti binatang jalang
yang riang menjahit orasi
dalam ramai
dengan keserakahan

apa ini kado untuk generasi ?
kado kalatida dan kalabendu
yang dikencingi pupa

November 2009

*Puisi lain, klik di sini.

No comments:

Post a Comment