Surabaya (iddaily.net) – Koran legendaris Surabaya Post kembali menjadi sorotan setelah terjadi pergantian pemimpin redaksi di tengah dinamika internal perusahaan. Pergantian ini terjadi setelah Sirikit Syah resmi mengakhiri masa jabatannya yang baru berjalan sekitar enam bulan.
Keputusan tersebut diambil pada Oktober, lebih cepat dari kontrak awal yang direncanakan selama satu tahun. Sirikit Syah mengakui bahwa penghentian kontraknya merupakan hasil kesepakatan bersama, setelah dirinya dinilai belum mampu memenuhi visi dan misi perusahaan secara optimal.
Surabaya Post merupakan salah satu media bersejarah di Jawa Timur yang didirikan pada 1 April 1953 oleh A. Azis dan Misoetin Agoesdina. Pada masa kejayaannya, koran sore ini pernah menjadi rujukan utama di Indonesia Timur dengan tiras mencapai ratusan ribu eksemplar. Namun, perjalanan panjangnya sempat terhenti pada 2002 sebelum akhirnya bangkit kembali setahun kemudian melalui inisiatif Forum Karyawan Surabaya Post dengan dukungan investor.
Meski kembali terbit, performa Surabaya Post tidak lagi sekuat sebelumnya. Perubahan perilaku pembaca menjadi salah satu faktor utama. Budaya membaca koran sore mulai tergeser oleh preferensi terhadap koran pagi, ditambah dengan meningkatnya persaingan di industri media, baik dalam perebutan pembaca maupun iklan.
Sumber internal redaksi menyebutkan bahwa tantangan lain datang dari struktur organisasi yang dinilai cukup besar untuk ukuran media regional. Dengan puluhan wartawan dan jaringan koresponden di berbagai daerah, efisiensi operasional menjadi isu yang tidak bisa diabaikan.
Di sisi lain, perbedaan pandangan strategis antara jajaran redaksi dan manajemen disebut turut memengaruhi dinamika internal. Salah satu isu yang mencuat adalah wacana keterlibatan wartawan dalam aktivitas komersial seperti pencarian iklan. Sirikit Syah diketahui tidak sejalan dengan pendekatan tersebut karena dinilai berpotensi mengaburkan independensi jurnalistik.
Namun, Direktur Utama Surabaya Post, Abdurahman J. Bawazier, membantah adanya kebijakan resmi yang mewajibkan wartawan mencari iklan. Ia menegaskan bahwa pembagian tugas antara redaksi dan manajemen telah disepakati sejak awal, di mana redaksi fokus pada konten, sementara pengembangan bisnis ditangani oleh direksi.
Terkait alasan utama pemberhentian Sirikit, Abdurahman menyebut adanya persoalan internal yang bersifat sensitif dan tidak dapat diungkap ke publik. Ia menegaskan bahwa perbedaan yang terjadi masih dalam batas wajar dan tidak berdampak pada hubungan profesional kedua pihak.
Pasca pergantian tersebut, posisi pemimpin redaksi kini dirangkap langsung oleh Abdurahman J. Bawazier. Manajemen memastikan bahwa perubahan ini tidak mengganggu operasional redaksi yang telah berjalan dengan sistem kerja baku.
Redaktur Pelaksana Surabaya Post, Sugeng Purwanto, juga menegaskan bahwa aktivitas jurnalistik tetap berjalan normal. Ia menyebut pergantian pemimpin redaksi sebagai bagian dari proses evaluasi internal yang lazim terjadi dalam industri media.
Di tengah kondisi tersebut, Surabaya Post juga sempat dilirik oleh salah satu grup media besar di Jawa Timur untuk diakuisisi. Namun, rencana tersebut tidak berlanjut karena manajemen memilih untuk tetap mandiri dan melanjutkan pengelolaan secara independen.
Pergantian pucuk pimpinan ini menjadi refleksi atas tantangan yang dihadapi media cetak di era modern. Selain tekanan bisnis dan perubahan perilaku konsumen, dinamika internal perusahaan juga menjadi faktor penting dalam menentukan arah dan keberlanjutan sebuah media.
Meski menghadapi berbagai hambatan, Surabaya Post masih berupaya mempertahankan eksistensinya di tengah persaingan industri yang semakin ketat. Ke depan, langkah adaptasi dan inovasi dinilai akan menjadi kunci bagi media ini untuk kembali menemukan momentum kebangkitannya.
