Jakarta (iddaily.net) – Ainus Salsabila, wisudawan magister (S-2) Pendidikan Sains, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berhasil mengembangkan chatbot interaktif untuk meningkatkan literasi sains siswa SMA.
Ini mengantarkannya meraih IPK 4,00 pada Wisuda Periode ke-119, pada Rabu 29 April 2026. Ide inovasi chatbot pintar berbasis ESD muncul karena melihat rendahnya literasi digital siswa SMA di Pamekasan, Madura.
Dilansir dari web Unesa, ide ini juga melihat keterbatasan perangkat yang sering jadi hambatan belajar. Padahal solusinya simpel tapi impactful, yaitu chatbot ringan yang bisa diakses lewat link tanpa perlu install aplikasi berat.
Inovasi bertajuk “Chatbot Berbasis Sistem ESD” ini tidak hanya menyajikan teori, tapi juga menghadirkan panduan praktikum ramah lingkungan seperti pembuatan biogas dan pupuk organik.
Proses pembuatannya penuh effort. Sebab, Salsa belajar coding secara mandiri hingga akhirnya mendapat dukungan hibah penelitian. Tujuan besarnya jelas, yakni menciptakan teknologi pendidikan yang inklusif, relevan, dan bisa dipakai siapa saja.
Menurut Salsa tantangan pendidikan di daerah seringkali terkendala oleh spesifikasi perangkat teknologi. Oleh karena itu, ia mendesain inovasi ini agar dapat diakses cukup melalui sebuah tautan (link). Di dalamnya, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga dipandu melakukan praktikum ramah lingkungan.
“Siswa diajak melakukan langkah nyata seperti membuat biogas dari kotoran sapi hingga pupuk cair organik dari limbah tahu. Saya ingin teknologi ini benar-benar bisa digunakan oleh siswa yang memiliki keterbatasan perangkat ekonomi,” ungkap wisudawan berusia 24 tahun tersebut.
Keberhasilan riset ini juga menyimpan cerita tentang resiliensi. Sebagai mahasiswa pendidikan sains, Salsa harus keluar dari zona nyamannya dengan mempelajari bahasa pemrograman (coding) dari nol secara otodidak selama dua bulan. Kegigihan tersebut membuahkan hasil berupa pendanaan hibah penelitian dari Bima.
“Setiap malam saya belajar coding melalui YouTube dan diskusi rekan sejawat. Tantangan terbesarnya adalah saat data error, namun itu justru memacu saya untuk menyelesaikan masalah teknis sebelum mulai menulis tesis,” tambahnya.
Ketekunan ini menjadikannya mahasiswa tercepat di angkatannya yang menyelesaikan seluruh tahapan akademik.
Dengan IPK sempurna dan inovasi yang telah teruji, Salsa berharap chatbot tersebut dapat dikembangkan lebih luas dengan cakupan materi yang lebih kaya. Baginya, wisuda ini merupakan langkah awal untuk terus menghadirkan inovasi pendidikan yang berdampak langsung bagi lingkungan terdekat.
