Surabaya (iddaily.net) – Upaya menjaga keabadian sejarah tidak selalu harus dilakukan melalui museum atau perpustakaan. Di tangan Kuncarsono Prasetyo, arsip-arsip lama justru dihidupkan kembali melalui medium yang lebih dekat dengan masyarakat: kaos oblong.
Pria berusia 29 tahun asal Jawa Timur ini memilih jalur kreatif dengan mencetak berbagai teks dan visual bersejarah ke dalam desain kaos. Langkah tersebut dilandasi kegelisahan pribadinya saat menemukan banyak arsip penting yang hanya tersimpan rapi di perpustakaan tanpa dikenal publik luas.
Ketertarikan Kuncarsono terhadap sejarah bermula ketika ia masih aktif sebagai jurnalis. Dalam salah satu liputannya tentang teks-teks kuno di Jawa Timur, ia menemukan beragam artefak menarik, mulai dari iklan lawas, perangko, uang kuno, hingga foto tokoh-tokoh bersejarah yang jarang diketahui wajahnya oleh masyarakat.
Menurutnya, banyak karya visual masa lampau memiliki nilai artistik tinggi, termasuk desain iklan yang sudah berkembang sejak abad ke-19. Selain itu, arsip tersebut juga merekam perjalanan bahasa dan budaya Indonesia yang unik pada masanya.
Ia menyoroti minimnya pengenalan terhadap tokoh-tokoh lokal, terutama dari Jawa Timur. Nama-nama seperti Cak Durasim, Sarip Tambak Yoso, Besoet, hingga Sakerah dinilai memiliki kontribusi besar, namun belum dikenal luas, terutama dari sisi visual.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan popularitas tokoh luar negeri seperti Che Guevara atau Malcolm X yang justru lebih akrab di kalangan masyarakat Indonesia, bahkan kerap dijadikan ikon dalam produk fashion.
Salah satu contoh yang diangkat Kuncarsono adalah sosok Cak Durasim, seniman ludruk yang dikenal melalui parikan kritisnya terhadap penjajahan Jepang. Karya tersebut menjadi simbol perlawanan rakyat Surabaya pada masanya, meski konsekuensinya ia harus menghadapi penindasan dari penjajah.
Dengan modal sekitar Rp10 juta, Kuncarsono bersama rekannya, Junaedi, mulai memproduksi kaos bertema sejarah dengan merek Sawoong. Produk awalnya mengangkat iklan-iklan lawas dari berbagai media cetak kuno, yang dipilih karena memiliki keunikan bahasa dan visual.
Salah satu referensi penting berasal dari arsip iklan tahun 1869 yang dimuat di surat kabar lama, yang juga tercatat dalam publikasi Persatuan Praktisi Periklanan Indonesia. Iklan tersebut menunjukkan gaya bahasa Melayu lama yang kini sudah jarang digunakan, sekaligus menjadi dokumentasi perkembangan komunikasi komersial di Indonesia.
Selain itu, Kuncarsono juga mengangkat materi dari berbagai publikasi kuno seperti koran Keng Po (1932), Alijoem (1936), hingga materi promosi toko es krim legendaris Zangrandi Ice Cream yang sudah eksis sejak era kolonial.
Menariknya, tren fashion retro yang kembali populer turut menjadi momentum bagi karya-karya tersebut. Gaya visual lawas yang diusung Kuncarsono justru memiliki daya tarik tersendiri di tengah pasar modern yang mulai jenuh dengan desain kontemporer.
Ke depan, ia berencana mengembangkan lini produk lain seperti kaos bertema perangko dan potret tokoh sejarah. Namun, produksi akan disesuaikan dengan kemampuan modal yang sebagian besar masih bergantung pada penjualan tahap awal.
Sikap terbuka Kuncarsono terhadap karyanya juga menjadi sorotan. Ia bahkan tidak keberatan jika desainnya ditiru, selama pesan sejarah yang ingin disampaikan tetap tersebar luas. Baginya, nilai utama dari proyek ini bukan sekadar bisnis, melainkan upaya kolektif untuk mengenalkan kembali sejarah kepada masyarakat.
Langkah ini menunjukkan bahwa pendekatan kreatif dapat menjadi jembatan efektif antara generasi muda dan warisan sejarah. Di tengah derasnya arus globalisasi, inovasi seperti ini membuka peluang baru untuk menjaga identitas budaya tetap hidup dan relevan.
