Bandung (iddaily.net) –Di pagi yang diseru takbir, saat langit memutih seperti kain ihram yang baru dibentangkan, istriku menyarankanku membawa kursi—sebuah takhta kecil bagi tubuh yang mulai melupa cara berdiri.
Namun kutolak. Bukan karena angkuh, melainkan karena tak ingin mengundang tanya dari tatapan tetangga yang mungkin belum mengerti bahwa sakit tak selalu kasat mata.
Maka kugelar plastik tipis di atas lantai lapangan perumahan kami, lalu sajadah, dan di sanalah aku mencoba menegakkan tubuh yang sebenarnya telah lama merundingkan gencatan senjata dengan gravitasi.
Pinggang ini bukan lagi tiang yang setia menopang doa-doa, melainkan ruas sejarah yang merapuh, menyimpan seluruh memori tendangan melingkar tiga puluh lima tahun silam: sebuah U-turn tubuh yang begitu gagah membabat angin lapangan sepakbola, namun menyisakan retak yang diam-diam menua bersama sumsum.
Ternyata tubuh adalah arsip paling setia, lebih setia daripada ingatan. Ia menyimpan setiap luka yang tak sempat diakui, setiap sakit yang ditelan bersama gengsi remaja dan takut pada amarah bapak.
Luka itu tak benar-benar sembuh, hanya belajar bersembunyi di sela vertebra, menunggu musim kelima puluh untuk muncul kembali sebagai berita ronsen: skoliosis ringan, fraktur kompresi di Th 11, 12, L1, dan tulang yang mulai keropos dimakan waktu.
Bahasa awamnya: bengkok dan patah ringan. Bahasa tubuhnya: setiap langkah adalah negosiasi ulang antara gravitasi dan kehendak, dan hari ini, bahkan sujud pun adalah diplomasi tingkat tinggi antara nyeri dan kepasrahan.
Setelah kuceritakan hasil ronsen itu pada istriku, ia nyeletuk, “Wah, koleksi kopi Bapak satu kontainer penuh bakalan nggak ada yang minum.”
Aku tersenyum getir, membayangkan satu kontainer kopi yang kukumpulkan dari berbagai perjalanan, dari Aceh sampai Papua, dari roasting gelap yang pahit sampai yang beraroma fruity—semua kini mungkin harus menjadi persembahan bagi teman-teman di Jakarta dan Jogja.
Barangkali memang benar, kafein adalah salah satu pencuri kalsium yang selama ini berpesta di tulang-tulangku tanpa permisi.
Kini pagiku bukan lagi tentang mencium bubuk hitam yang diseduh, melainkan tentang berjemur seperti cicak tua di beranda, menunggu vitamin D menyusup lewat pori-pori kulit yang mulai kendur.
Ada semacam ironi yang tenang di sini: tubuh yang dulu kukuh melibas hari dengan kafein dan tendangan, kini harus meminta belas kasihan dari matahari pagi.
Lalu, ketika hasil ronsen itu kubagikan kepada seorang teman dekat yang kebetulan beristri dokter, aku langsung mendapat saran-saran yang terasa seperti resep kehidupan: sudah betul hentikan kopi, jemur tubuh, konsumsi vitamin D dan kalsium, hindari beban berat, kurangi berat badan.
Nasihat itu seakan mengamini celetukan istriku: bahwa kopi, yang selama ini menjadi teman setia perenungan, harus kulepaskan.
Tapi yang tak ia katakan—dan justru paling menggema—adalah: kurangi juga beban masa lalu yang terus kau bawa dalam sikap tubuhmu. Sebab skoliosis bukan hanya lengkungan tulang, melainkan lengkungan kisah yang tak pernah diluruskan. Fraktur kompresi bukan hanya patah, melainkan himpitan peristiwa yang terlalu rapat mengisi ruang antarruas.
Dalam filosofi tubuh, seperti yang sering kubicarakan di ruang-ruang diskusi, tubuh adalah politik paling intim: di sana ada kuasa, ada dominasi, ada penundukan, dan ada pemberontakan diam-diam.
Nyeriku adalah cara tubuh memberontak pada pengabaian puluhan tahun. Ia berteriak dalam bahasa yang tak bisa diterjemahkan obat pereda nyeri biasa: bahwa ada sesuatu yang harus dirapikan, bukan sekadar disenyapkan.
Fisioterapi, MCO, akupunktur, bekam, pijat, totok syaraf—semua adalah negosiasi yang gagal bila tubuhmu sendiri belum kau jadikan sekutu.
Kemarin, di Rumah Sakit, dokter ortopedi mencatat sambil tersenyum, senyum yang barangkali sudah biasa menyaksikan tubuh-tubuh yang tiba dengan kisah yang sama: tua sebelum waktunya, rapuh oleh luka yang diabaikan.
“Mungkin fisioterapi rutin saja,” katanya.
Tapi aku tahu, terapi sesungguhnya adalah menerima bahwa di usia kepala lima, ada bagian-bagian dari diriku yang harus diiklaskan untuk tak lagi sempurna.
Patah ringan itu tak akan kembali utuh, tapi bisa kurelakan sebagai bagian dari peta tubuh yang tetap layak disyukuri. Bukankah setiap patah adalah celah bagi cahaya untuk masuk?
Pagi ini, ketika gema takbir memantul dari bukit ke bukit, aku mengerti satu hal tentang kurban: ia bukan hanya tentang menyembelih hewan, melainkan tentang menyembelih keangkuhan bahwa tubuh ini kekal.
Aku mengurbankan postur tegakku, aku mengurbankan punggung yang tak lagi sanggup memanggul beban, aku mengurbankan kopi-kopi yang akan kuberikan pada teman-teman di Jakarta dan Jogja.
Dan dalam pengurbanan kecil-kecil itu, aku justru menemukan siapa diriku yang paling telanjang: seonggok tulang yang rapuh, tetapi dengan doa yang tak pernah patah.
Sujud terakhir tadi, dengan dahi mencium bumi lapangan langsung—tanpa kursi, tanpa ketinggian palsu—dan nyeri yang merayap seperti api lambat, aku berbisik sekali lagi: terimalah kurban kami, ya Allah. Kurban yang bukan hanya daging dan darah, melainkan seluruh kisah tentang punggung yang bengkok, tulang yang keropos, dan hati yang akhirnya rela menyembuhkan diri dengan keikhlasan.
Sebab barangkali, kesembuhan sejati bukanlah ketika nyeri itu pergi, melainkan ketika kita berdamai dengannya, dan tetap melangkah meski hanya beralas plastik di atas tanah, meski dengan sejarah yang terus menekan dari dalam tulang-tulang kita yang paling sunyi.
Aku akan tetap berjalan. Tidak lagi dengan tendangan melingkar yang gagah, tetapi dengan langkah-langkah kecil yang penuh perhitungan dan penerimaan.
Setiap nyeri adalah pengingat bahwa aku pernah hidup dengan intens, pernah mencintai sepak bola dan segala risikonya, pernah menyimpan rasa takut pada amarah bapak, dan kini, di pagi Idul Adha yang bening, aku menyimpan semua itu dalam doa yang panjang—sebagai kurban yang paling jujur, paling rentan, dan paling manusiawi.
Selamat Idul Adha.
