KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA VS NARCISSISTIC ABUSE
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Narcissistic Abuse (NA) sama-sama merupakan perilaku abusif.
Keduanya sering terjadi di ranah yang sama: relasi domestik dan keluarga.
Dampaknya pun serupa—sama-sama meninggalkan luka dan trauma mendalam. Karena itulah, penanganan korban sering kali disamakan.
Padahal, efeknya pada korban tidak sama.
Perbedaan paling mendasar antara KDRT dan NA terletak pada manipulasi dan gaslighting, yang menjadi ciri khas Narcissistic Abuse.
Dalam banyak kasus NA, kekerasan fisik atau verbal yang lazim ditemukan pada KDRT justru minim, bahkan nyaris tidak terlihat.
Pelaku NA sering tampil sebagai pasangan yang “ideal”.
Terlihat peduli, tutur katanya halus, sopan, dan tidak memiliki riwayat kekerasan yang kasat mata.
Gambaran ini kerap menyesatkan.
Tidak jarang konselor akhirnya berkesimpulan bahwa pihak yang bermasalah adalah pasangannya—dianggap kurang sabar, bermasalah dalam regulasi emosi, terlalu stres, atau bahkan depresi.
Akibatnya, korban yang seharusnya dibantu justru tersudutkan dalam sesi konseling.
Perlahan, ia mulai percaya bahwa dirinya memang sumber masalah dalam rumah tangga.
Di titik inilah banyak korban akhirnya menyerah datang ke konselor.
Harapan akan solusi berubah menjadi pengalaman traumatis baru.
Setiap sesi yang seharusnya aman, tanpa disadari justru menjadi ruang bagi abuser untuk kembali menekan, memanipulasi, dan menguatkan posisinya.
Dan yang perlu digarisbawahi:
Couple counseling atau konseling pasangan dengan individu narsistik tidak pernah direkomendasikan.
Jika suatu saat Anda sebagai konselor menemui situasi ini—tolong, hentikan.
Tanpa disadari, sesi konseling bersama bisa berubah menjadi “ladang pembantaian” psikologis bagi korban.
Namun, tenang dulu.
Sebagai konselor, Anda tidak sendirian—dan tidak sepenuhnya salah jika sempat terjebak.
Manipulasi memang keahlian utama seorang narsisis.
Ditambah lagi, literasi tentang konseling bagi korban NA di Indonesia masih sangat terbatas.
Bahkan di Amerika, yang menjadi pionir studi ini, pengembangannya pun baru berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Lalu, apakah ada alat untuk membantu mendeteksi relasi NA sejak awal?
Ada.
Beberapa skala berbasis Likert dapat digunakan sebagai alat bantu skrining untuk melihat potensi Narcissistic Abuse, sehingga konselor bisa lebih waspada dan menyiapkan self-boundaries dalam proses konseling.
Namun skala ini belum memiliki reliabilitas, bukan alat diagnosis, hanya penunjuk awal.
Mungkin saat ini Anda belum sepenuhnya tahu cara paling tepat mendampingi korban NA.
Tapi lewat artikel ini, satu hal menjadi jelas:
Tidak semua masalah rumah tangga perlu diselesaikan dengan membawa pasangan duduk bersama di ruang konseling—terlebih jika salah satunya terdeteksi narsistik.
Kesadaran ini saja sudah bisa menjadi langkah awal yang sangat berarti bagi keselamatan psikologis korban.
Juga bagi anda yang mungkin menyadari terjerat dalam relasi narsistik dan mempertimbangkan berkonsultasi.
#Bunda Nunki/ InnerMind Academy, Consultant & Community
#














Tidak ada komentar