05 January 2022

Tetap waras di antara kabar tentang "si om genit" Omicron

"Jangan menakut-nakuti publik dengan sharing berita Covid19 di media sosial," kata kawan. Saya nyengir saja. Saat tulisan ini saya buat, Singapura, Malaysia dan Filipina sedang bersiap menghadapi Omicron.

***


Ketika dinyatakan Covid19 untuk kedua kalinya tahun lalu, yang ada di pikiran saya cuma satu: Semoga keluarga tidak tertular. Tapi harapan itu tidak terwujud. Tiga orang penghuni rumah seluruhnya terkena Covid19.

Lalu, seperti mayoritas penduduk Indonesia lainnya, saya mengikuti perkembangan virus ini melalui berita. Setelah mencapai titik kematian tertinggi 140 ribu lebih, semakin lama, jumlah pasien virus ini semakin sedikit, sampai akhirnya kondisi bisa disebut melandai.

Saya dan keluarga yang dua tahun tidak pulang kampung, memberanikan diri "mudik" untuk menjemput orang tua, dan membawanya ke Ibukota. Alhamdulillah, semua lancar.

Sampai kemudian, muncul Omicron menjelang pergantian tahun. Bisa ditebak, Januari 2022, menjadi awal peningkatan jumlah pasien baru Covid19. Apakah semua karena Omicron? Entahlah. Kabarnya, swab PCR tidak mampu secara otomatis mendeteksi jenis virusnya.

***

Memaknai kehadiran "si Om" ini memang ngeri-ngeri sedap. Secara karakter, Si Om ini katanya lebih gampang menular. Namun ternyata, masih ada varian lain yang muncul, dan katanya lebih mengerikan. Mulai Alpha, Beta, Gamma, Delta, Lambda, Kappa, Eta, Lotta, Mu, dan Omicron. Yang terbaru ada varian IHU.

Di sisi lain, ketika bayangan gelap kekhawatiran muncul, justru masyarakat kita mulai "lupa" dengan pandemi. Tengoklah ke jalan-jalan. Makin banyak orang tidak memakai masker, berkerumun, dan melakukan hal-hal lain yang ketika di awal-awal Covid19, dihindari. "Seperti pandemi tidak ada lagi!" kata seorang kawan.

Terus terang, bagi saya (yang S2 Covid19), kondisi ini mengerikan. Saya khawatir, kelengahan ini membuat kita kehilangan kewaspadaan. Sebagai orang media, media tempat saya bekerja tak henti-hentinya mengingatkan pentingnya menjaga awareness (baca: kesadaran).

Kementerian Kesehatan menyatakan, ada 92 kasus terkonfirmasi positif "si Om", pada 4 Januari 2021. Hal itu berarti, total ada 254 kasus. Sejumlah 239 kasus diantaranya dari pelaku perjalanan internasional. Sementara 15 kasus, adalah transmisi lokal.

"Si Om", memang ada dan mulai menyebar di antara kita.

***

"Tapi Omicron ini kan cuma mengerikan di media massa. Kenyataanya, hanya batuk, pilek, pusing, seperti flu saja," kata seorang kawan.

Memang seperti itu. Namun jangan lupa, ketika Covid19 awal menyerang, kita cenderung meremehkan. Ingat kata mantan Menteri Kesehatan Terawan," Ini akan sembuh sendiri." Tapi faktanya, 140 ribu lebih meninggal dunia karena Covid19.  Apakah tidak mungkin Omicron akan seperti itu? Semoga tidak.

Namun sekali lagi, kita perlu menjaga kewarasan. Lebih baik tidak meremehkan. Ingat, banyak orang tersayang di sekitar kita. Ingat anak-anak kita yang mulai bersekolah full. Bagaimana kita menjaga mereka tetap aman? (*)

*naskah-foto: ID Nugroho

No comments:

Post a Comment