23 February 2011

Pameran Tunggal Roshomon

Zulfaturroliya, mahasiswa semester 9 Jurusan Bahasa Jepang Universitas Negeri Surabaya, yang juga mantan ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Aktifitas Fotografi (UKM AFO) Unesa memberanikan diri untuk menggelar pameran tunggal pertamanya dengan tajuk ROSHOMON di perpustakaan Dbuku Bibliopolis, Royal Plaza, Surabaya hari ini (22/2).



Roshomon diangkat karya cerpenis Jepang, Akutagawa Ryounosuke (1915) dan difilmkan oleh Akira Kurosawa (1950). Berkisah tentang dilemma sosial seorang ronin (mantan samurai) dan seorang nenek tua miskin yang terpaksa melakukan tindakan kriminal demi bertahan hidup.

Bencana demi Bencana melanda kota Kyoto. Mayat korban bergelimpangan. Seorang nenek bertahan hidup dengan mencabuti rambut mayat dan menjualnya sebagai cemara. Seorang Genin, samurai kelas rendah, yang menjunjung tinggi moralitas, memergoki si nenek. Ia muak kepada si nenek. Namun, di pihak lain, dia juga tak mau mati kelaparan.

Akutagawa menggambarkan betapa tipis dan licinnya batas antara buruk dan bagus, jahat dan baik, hina dan mulia, bohong dan jujur, salah dan benar. Secara tidak sadar, efek Rashomon sering kita alami dalam keseharian. Setiap orang memiliki subyektifitas yang berbeda dalam melihat suatu hal.

Zulfa, demikian ia akrab disapa, kali ini tidak menggunakan kamera sebagaimana umumnya karya fotografi, melainkan memainkan tehnik photogram, yaitu penyinaran benda-benda diatas kertas emulsi peka cahaya dan memlalui proses kimiawi pada pencetakannya. Kekuatan photogram adalah kekuatan warna hitam putih yang estetis, mencitrakan imaji dan cerita dengan gradasi yang seolah membawa kita dalam ruang gelap kedap cahaya.

Kesulitan Photogram

Wayan Setyadarma, Dosen Senirupa Unesa yang menjadi kurator foto pada pameran ini mengatakan bahwa tehnik photogram memiliki tingkat kesulitan yang amat tinggi terutama untuk memperoleh gradasi warna yang sesuai dengan emosi obyek yang ingin ditampilkan.

“Percobaan tak cukup sekali, prosesnya cukup panjang. Dibutuhkan kesabaran dan ketekunan untuk mendapatkan tingkat warna yang dinginkan. Dan Zulfa mampu melampau tantangan itu,” tutur pria yang juga dikenal sebagai fotografer professional ini.

Diana AV Sasa, direktur Yayasan Dbuku menyebut pemeran tunggal Zulfa ini menunjukkan bahwa pilihannya dalam fotografi tidak berada dalam ‘arus besar’ fotografi, meski bukan hal yang baru. Pembeda ini bukan hanya membuatnya istimewa sebagai fotografer yang seniman, tapi juga menunjukkan kemampuannya mengolah isi kepala dengan rasa kalbunya.

“Roshomon, yang dipilih Zulfa sebagai tema pamerannya kali ini menunjukkan sebuah karya yang begitu personal, dekat dengan keseharian sang seniman. Zulfa yang mahasiswa penekun bahasa Jepang mampu meramu kecintaannya dalam fotografi yang menjadi pilihan karya seninya," katanya.

Seakan mendobrak apa yang dilakukan seorang laki-laki bersebut nama Dadang Ari Murtono, jelas Diana, yang melakukan plagiat cerpen Roshomon di harian nasional beberapa waktu lalu, Zulfa menunjukkan bagaimana berkarya dengan arif. |press release|

1 comment:

  1. koreksi:: bukan Roshomon, yang benar adalah Rashomon

    ReplyDelete

Program

Program