Jakarta (iddaily.net) – Pemain PSBS Biak menangis saat bernyanyi anthem Persebaya di tengah Stadion Gelora Bung Tomo. Diwarnai cerita sedih pemain asingnya pulang berbekal tas kresek.
”Saat ini kita, dipertemukan kembali
Kutinggalkan semua, demi mengawalmu lagi
Semangat kami tak kan, pernah lelah dan terhenti
Berjuanglah engkau, demi kebanggaan kami…”
Mata Damianus Putra, Nelson Alom, Ilham Udin Armayn, Heri Susanto, Ians Rumbewas, Patrias Rumere, Urbanos Lasol dan Tobias Solossa berkaca-kaca.
Mereka terharu saat diajak melingkar di tengah Stadion Gelora Bung Tomo, usai dicukur Persebaya empat gol tanpa balas dalam lanjutan BRI Superleague, Sabtu, 2 Mei 2025.
Babak pertama berakhir imbang tanpa gol, tapi brace dari Milos Raickovic dan Cachis Rivera memastikan PSBS turun kasta ke Liga 2 alias Pegadaian Championship musim depan.
Bagi Bonek, ini merupakan penghormatan istimewa. Tak biasanya lagu kebesaran Persebaya ’Song for Pride’ yang wajib diputar di akhir laga mengikutsertakan tim lawan.
Tapi, bagaimanapun, perjuangan PSBS sampai akhir patut dihormati.
Pelatih Bajol Ijo, Bernardo Tavares memberi pesan khusus pada PSBS Biak, yang tetap tampil maksimal pada masa-masa sulit mereka.
”Saya mengucapkan selamat kepada mereka (PSBS Biak), karena kalian menunjukkan sikap yang sangat baik di sini,” kata coach asal Portugal itu.
”Jadi, saya berharap Biak dapat menunjukkan sikap ini di pertandingan selanjutnya. Karena dengan cara ini, mereka mewakili klub dengan baik,” tegasnya.
Tim dari Provinsi Papua ini berjuluk ’Napi Bongkar’.
Kata Napi merupakan sapaan khas bagi kaum laki-laki Biak yang sangat kental dalam kekerabatan erat famili dekat.
Sedangkan diksi ‘Bongkar’ menjadi spirit kekuatan untuk mendobrak lawan dalam permainan dengan karakter anak Biak yang berciri khas gagah dan perkasa.
PSBS Biak patut diacungi jempol. Berjuang sampai akhir. Meski krisis keuangan, gaji telat atau bahkan berbulan-bulan belum terbayar, membuat beberapa pilarnya angkat kaki.
Sebuah thread di platform X memutar video bagaimana salah seorang pemain PSBS Eduardo Barbosa pamit meninggalkan tim yang juga akrab dengan sebutan’Badai Pasifik’ itu tanpa pegang uang.
“Pemain ini datang ke Indonesia bukan untuk berlibur. Ia meninggalkan keluarga di negara asal demi mencari nafkah dan melanjutkan karier profesionalnya sebagai pesepakbola. Meski bukan pemain dengan nama besar seperti bintang dunia, Eduardo tetap menunjukkan kerja keras dan komitmen di lapangan. Namun, situasi yang dialaminya menimbulkan kritik terhadap manajemen klub yang dinilai kurang menghargai pengorbanan pemain. Kasus ini diharapkan menjadi perhatian bagi klub-klub di Indonesia agar lebih profesional, terutama dalam memenuhi hak dan kesejahteraan para pemain,” tulis akun @pendapatpribumi itu.
Edu Barbosa, pesepak bola profesional yang merantau jauh dari Pacos de Ferreira, Portugal demi mencari nafkah di Indonesia, berpamitan dengan menggenggam kantong kresek merah saja.
Marian Mihail, pelatih PSBS asal Rumania, menilai wajar jika para pemain, termasuk penggawa asing, menyuarakan keresahan mereka di media sosial karena gaji yang belum dibayar selama hampir tiga bulan.
”Mereka memperjuangkan hak-hak mereka karena datang ke sini untuk menghidupi keluarga. Semangat tim saat ini sangat rendah. Bahkan saya dan staf pelatih juga berada dalam situasi sulit yang sama,” ungkap mantan pelatih PSS Sleman itu.
PSBS menggambarkan potret sepak bola Indonesia yang jauh dari profesional. Perkasa sebagai juara Liga 2 dua musim lalu, di final mengalahkan Semen Padang 6-0 dalam dua pertandingan.
Saat itu, PSBS berkandang di rumahnya, Stadion Cenderawasih, Biak.
Saat masuk Superleague, stadion Biak dianggap tak memenuhi syarat.
PSBS pun berpindah-pindah markas. Dari Bantul, Gianyar, Jayapura hingga ngendon di Maguwoharjo, Sleman.
Petaka memang terjadi saat bos ’Nusa Tuna’ pasangan Owen Rahadian dan Eveline Injaya cabut dari PSBS, dan belakangan menjadi sosok di balik kesuksesan Persipura musim ini.
”Begitulah kalau bola jadi alat politik. Olahraga dijadikan sebagai sarana politik, pada saat kepentingan politik sudah mencapai mimpi dan tujuan politiknya, maka mereka membiarkan olahraga itu menjadi terpuruk,” kata sahabat saya, tokoh masyarakat Biak-Supiori, Yotam Wakum.
Selamat jalan, PSBS, semoga jadi cerita terakhir sepak bola Indonesia meninggalkan cerita buruk saat digadang-gadang menjadi industri olahraga profesional terbaik di Asia Tenggara.
Saya teringat saat tujuh tahun silam berkesempatan berkunjung ke Biak.
Saat pulang, pandangan tertuju pada grafiti di Bandara Frans Kaisepo.
Tertulis BIAK: Bila Ingat Akan Kembali.
Semoga PSBS segera ingat, kapan saatnya akan kembali ke kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia.
Salam Napi Bongkar!
