Surabaya (iddaily.net) – Provinsi Jawa Timur mengalami deflasi sebesar 0,26 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menyebut penurunan harga sejumlah komoditas hortikultura, terutama bawang merah dan tomat, menjadi faktor utama yang menahan laju inflasi di provinsi tersebut.
Kepala BPS Jawa Timur, Sutrisno, menjelaskan deflasi terjadi seiring melimpahnya pasokan hasil panen di sejumlah daerah sentra produksi.
Kondisi tersebut membuat harga beberapa komoditas pangan strategis mengalami penurunan di tingkat konsumen.
“Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi pada Juli 2026 antara lain bawang merah, tomat, dan beberapa komoditas hortikultura lainnya,” ujar Sutrisno dalam keterangan resminya.
Selain bawang merah dan tomat, penurunan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas pangan lain yang ikut memberikan andil terhadap deflasi.
Meningkatnya pasokan dari daerah penghasil dinilai menjadi faktor utama yang mendorong harga komoditas tersebut bergerak turun selama Juli.
Meski demikian, BPS mencatat masih terdapat sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga.
Di antaranya adalah kelompok pendidikan yang mulai mengalami peningkatan seiring dimulainya tahun ajaran baru, serta beberapa komoditas makanan dan jasa yang turut memberikan andil inflasi sehingga menahan laju deflasi agar tidak lebih dalam.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), Jawa Timur masih mencatat inflasi, menunjukkan bahwa kenaikan harga dalam jangka panjang tetap terjadi meskipun secara bulanan mengalami penurunan.
Kondisi ini berbeda dengan perkembangan pada Juli yang lebih dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan komoditas hortikultura.
Fenomena tersebut juga menunjukkan perbedaan dengan kondisi nasional. BPS sebelumnya melaporkan Indonesia masih mengalami inflasi secara bulanan dan tahunan pada Juli 2026, sedangkan Jawa Timur justru mencatat deflasi berkat turunnya harga sejumlah komoditas pangan.
BPS menilai kondisi pasokan pangan, terutama hasil hortikultura, menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi pergerakan inflasi daerah.
Karena itu, stabilitas produksi dan distribusi komoditas pangan dinilai tetap perlu dijaga agar fluktuasi harga tidak terlalu tajam pada bulan-bulan berikutnya.
Pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) juga terus memantau perkembangan harga kebutuhan pokok di berbagai wilayah guna menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan pasokan pangan tetap aman, terutama menjelang perubahan musim dan periode permintaan yang lebih tinggi.
