Jakarta (iddaily.net) – Istilah megathrust Indonesia kembali menjadi perhatian masyarakat karena Indonesia berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif.
Zona subduksi tersebut membentang dari wilayah barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara hingga Indonesia bagian timur dan utara.
Namun, istilah megathrust tidak berarti seluruh wilayah Indonesia berada di atas satu patahan raksasa.
Zona tersebut terbagi menjadi sejumlah segmen dengan karakteristik, sejarah gempa, dan potensi masing-masing.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut Indonesia berada di pertemuan empat lempeng tektonik utama dan memiliki 13 segmen subduksi serta lebih dari 295 sesar aktif dalam pemaparan BMKG pada 2025.
Sementara itu, pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) memetakan 402 sumber gempa dan memperbarui segmentasi megathrust menjadi 11 segmen di Indonesia dan tiga segmen di Filipina.
Perbedaan angka tersebut perlu dipahami karena berasal dari klasifikasi dan peta rujukan yang berbeda.
Apa Itu Megathrust?
Megathrust merupakan istilah untuk sumber gempa besar pada zona subduksi, yakni wilayah ketika satu lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lainnya.
Pertemuan lempeng tersebut dapat menyebabkan akumulasi tegangan. Jika tegangan dilepaskan melalui pergeseran mendadak, dapat terjadi gempa bumi.
BMKG menjelaskan bahwa megathrust merupakan zona subduksi yang sangat luas dan panjang.
Zona tersebut terbagi dalam beberapa segmen yang dapat bergerak secara berbeda.
Karena itu, istilah gempa megathrust bukan berarti satu gempa yang pasti terjadi secara bersamaan di seluruh Indonesia.
Di Mana Saja Zona Megathrust Indonesia?
Dalam rujukan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Nasional 2017 yang masih banyak digunakan untuk menjelaskan segmentasi megathrust, terdapat sejumlah segmen dari Sumatera hingga kawasan timur Indonesia.
Daftar yang sering dirujuk meliputi:
– Aceh-Andaman
– Nias-Simeulue
– Kepulauan Batu
– Mentawai-Siberut
– Mentawai-Pagai
– Enggano
– Selat Sunda-Banten
– Jawa Barat
– Jawa Tengah-Jawa Timur
– Bali
– Nusa Tenggara Barat
– Nusa Tenggara Timur
– Laut Banda Selatan
– Laut Banda Utara
– Utara Sulawesi
– Subduksi Lempeng Laut Filipina.
Daftar 16 segmen tersebut merupakan klasifikasi yang banyak digunakan dalam publikasi dan pemberitaan berbasis Peta Sumber dan Bahaya Gempa 2017.
Namun, Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 merupakan pembaruan resmi yang harus menjadi rujukan ketika membahas pemodelan sumber gempa terbaru.
PuSGeN menyebut pembaruan tersebut mencakup jalur dan geometri sesar, segmentasi, skenario rupture, magnitudo maksimum, slip rate, serta parameter pemodelan bahaya gempa.
Sumatera: Jalur Megathrust dari Aceh hingga Bengkulu
Wilayah barat Sumatera merupakan salah satu bagian penting dari sistem subduksi Indonesia.
Segmen yang sering dibahas meliputi Aceh-Andaman, Nias-Simeulue, Kepulauan Batu, Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai dan Enggano.
Wilayah yang berhadapan atau dapat merasakan dampak gempa dari sistem tersebut antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Bengkulu, dengan dampak kegempaan yang dapat menjangkau wilayah lebih luas bergantung pada lokasi, kedalaman, magnitudo, mekanisme sumber dan kondisi geologi.
Sejarah gempa besar juga menunjukkan bahwa wilayah Sumatera dan sekitarnya memiliki aktivitas tektonik yang tinggi.
Gempa Aceh-Andaman 2004 merupakan salah satu contoh gempa megathrust terbesar dalam sejarah modern yang menghasilkan tsunami dahsyat.
Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat pesisir Sumatera tidak hanya berkaitan dengan guncangan, tetapi juga potensi tsunami setelah gempa besar di laut.
Mentawai-Siberut Jadi Salah Satu Segmen yang Banyak Dibahas
Segmen Mentawai-Siberut menjadi salah satu zona yang mendapat perhatian dalam pembahasan risiko gempa besar.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono pernah menjelaskan bahwa Mentawai-Siberut termasuk wilayah yang memiliki seismic gap, yakni kawasan yang dalam catatan sejarah mengalami periode panjang tanpa gempa besar tertentu.
Dalam penjelasan yang dikutip dalam diskusi mengenai megathrust, wilayah Mentawai-Siberut dan Selat Sunda menjadi dua kawasan yang mendapat perhatian karena sejarah kegempaannya.
Namun, istilah seismic gap bukan berarti gempa pasti akan terjadi dalam waktu dekat.
Waktu, lokasi dan magnitudo gempa bumi hingga kini belum dapat diprediksi secara tepat.
Selat Sunda-Banten dan Selatan Jawa
Zona megathrust berikutnya membentang di bagian selatan Pulau Jawa dan segmen yang dikenal dalam peta 2017 meliputi:
– Selat Sunda-Banten
– Jawa Barat
– Jawa Tengah-Jawa Timur
– Bali
– NTB
– NTT
Artinya, wilayah pesisir selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara merupakan kawasan yang perlu memperhatikan risiko gempa bumi dan tsunami.
BMKG sebelumnya menyoroti Selat Sunda-Banten sebagai salah satu segmen yang perlu mendapatkan perhatian bersama Mentawai-Siberut. Dalam penjelasan BMKG, kedua zona tersebut terus dipantau aktivitas gempanya.
Berapa Potensi Magnitudo Megathrust?
Dalam rujukan Peta Sumber dan Bahaya Gempa 2017, sejumlah segmen memiliki nilai magnitudo maksimum yang berbeda.
Peneliti BRIN Nuraini Rahma Hanifa pada 2 September 2024 memaparkan potensi maksimum 15 segmen megathrust yang saat itu dibahas, antara lain:
Segmen Potensi magnitudo maksimum yang dipaparkan:
– Aceh-Andaman M 9,2
– Nias-Simeulue M 8,9
– Kepulauan Batu M 8,2
– Mentawai-Siberut M 8,7
– Mentawai-Pagai M 8,9
– Enggano M 8,8
– Selat Sunda-Banten M 8,8
– Jawa Barat M 8,8
– Jawa Tengah-Jawa Timur M 8,9
– Bali M 9,0
– NTB M 8,9
– NTT M 8,7
– Sulawesi Utara M 8,5
– Filipina-Maluku M 8,2
– Laut Banda Utara M 7,9
– Laut Banda Selatan M 7,4
Angka tersebut adalah magnitudo maksimum dalam pemodelan sumber gempa, bukan prediksi bahwa gempa dengan angka tersebut akan terjadi dalam waktu tertentu.
BRIN juga menegaskan bahwa potensi risiko tidak hanya ditentukan oleh magnitudo maksimum, tetapi juga oleh jumlah penduduk dan kondisi wilayah yang berada di sekitar sumber gempa.
Bagaimana dengan Bali dan Nusa Tenggara?
Sistem subduksi di selatan Bali dan Nusa Tenggara juga menjadi bagian dari jalur tektonik aktif Indonesia.
Wilayah Bali, NTB dan NTT memiliki kawasan pesisir yang berhadapan dengan sumber gempa di laut.
Karena itu, mitigasi tidak hanya diperlukan untuk menghadapi guncangan bangunan, tetapi juga untuk menghadapi kemungkinan tsunami.
Masyarakat pesisir perlu mengetahui lokasi tempat evakuasi, jalur menuju tempat tinggi atau zona aman, serta memahami tanda-tanda tsunami.
Bagaimana dengan Sulawesi?
Indonesia bagian timur memiliki sistem tektonik yang lebih kompleks.
Selain subduksi, Sulawesi juga memiliki berbagai sesar aktif.
Peta dan kajian kegempaan Indonesia menunjukkan keberadaan sumber gempa di sekitar Sulawesi Utara dan wilayah laut di sekitarnya.
BMKG juga menekankan bahwa ancaman gempa Indonesia tidak hanya berasal dari megathrust. Sesar aktif di darat juga dapat menghasilkan gempa yang merusak.
Karena itu, menyebut suatu daerah “aman dari megathrust” bukan berarti daerah tersebut bebas dari gempa.
Bagaimana dengan Maluku dan Laut Banda?
Laut Banda merupakan kawasan tektonik aktif yang memiliki sistem subduksi dan sumber gempa tersendiri.
Dalam klasifikasi 2017, kawasan ini dikenal dengan segmen Laut Banda Selatan dan Laut Banda Utara.
Wilayah Maluku dan sekitarnya karena itu tetap membutuhkan kesiapsiagaan terhadap gempa dan tsunami.
Karakter sumber gempa di kawasan timur Indonesia juga tidak selalu sama dengan sistem Sunda Megathrust di barat Indonesia.
Papua Juga Memiliki Ancaman Gempa
Wilayah Papua dan Indonesia bagian timur memiliki sejumlah sumber gempa akibat kompleksitas interaksi lempeng.
Badan Geologi sebelumnya menjelaskan bahwa kerentanan gempa Indonesia tidak hanya terdapat di Jakarta atau Jawa, tetapi juga membentang dari Sumatera, Jawa, Bali, Sumbawa, NTT, Sulawesi, Maluku hingga Papua.
Artinya, mitigasi gempa merupakan kebutuhan nasional, bukan hanya bagi wilayah yang berada tepat di atas atau dekat segmen megathrust.
Apakah Gempa Megathrust Bisa Diprediksi?
Belum.
Ini bagian yang sangat penting untuk dipahami masyarakat.
Tidak ada lembaga yang dapat memberikan tanggal, jam, lokasi dan magnitudo gempa megathrust secara tepat jauh sebelum kejadian.
Badan Geologi Kementerian ESDM juga pernah menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada metode yang mampu memprediksi gempa bumi secara tepat berdasarkan tempat, waktu dan besarannya.
Karena itu, informasi seperti “megathrust akan terjadi pada tanggal tertentu” perlu diwaspadai dan diverifikasi melalui kanal resmi pemerintah.
Apakah Seismic Gap Berarti Gempa Segera Terjadi?
Tidak.
Seismic gap merupakan istilah untuk menggambarkan bagian tertentu dari zona tektonik yang memiliki periode aktivitas gempa besar yang relatif lama dibandingkan wilayah sekitarnya atau berdasarkan catatan sejarah tertentu.
Seismic gap digunakan ilmuwan untuk penelitian risiko dan akumulasi deformasi, tetapi bukan kalender gempa.
BMKG dan lembaga kebencanaan tidak menggunakan seismic gap untuk menetapkan tanggal terjadinya gempa.
Pernyataan BMKG: Jangan Menunggu Gempa
BMKG menekankan bahwa kesiapsiagaan harus menjadi budaya masyarakat.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam kegiatan Satu Dekade Sekolah Lapang Gempa (SLG) pada November 2025 menyatakan Indonesia memiliki 13 segmen subduksi dan lebih dari 295 sesar aktif.
Menurut BMKG, kondisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu kawasan seismik aktif sehingga kesiapsiagaan dan mitigasi harus terus dilakukan.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama juga menekankan pentingnya masyarakat dan institusi terkait mampu merespons informasi gempa bumi dan tsunami dengan baik.
Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat Saat Gempa Terjadi?
1. Tetap tenang.
Jangan langsung berlari keluar ketika bangunan masih berguncang kuat.
2. Berlindung.
Lakukan prinsip Drop, Cover, Hold On: merunduk, berlindung di bawah meja atau tempat yang kokoh, kemudian berpegangan.
3. Jauhi kaca dan benda yang mudah jatuh.
4. Setelah guncangan berhenti, keluar dengan tertib.
5. Jika berada di wilayah pesisir dan gempa terasa kuat atau berlangsung lama, segera menuju tempat yang lebih tinggi apabila ada indikasi tsunami.
6. Jangan menunggu informasi dari media sosial yang belum terverifikasi.
7. Ikuti informasi BMKG, BNPB/BPBD dan pemerintah daerah.
Jangan Hanya Bersiap Menghadapi Gempa
Mitigasi sebenarnya dimulai sebelum gempa dan masyarakat dapat:
– Mengetahui apakah rumah berada di kawasan rawan gempa atau tsunami
– Mengenali jalur evakuasi
– Mengetahui lokasi tempat evakuasi sementara
– Menyiapkan tas siaga bencana
– Mengikat atau mengamankan lemari dan benda berat
– Mengetahui titik berkumpul keluarga
– Menyimpan nomor layanan darurat
– Mengikuti simulasi evakuasi
– Memahami informasi peringatan dini tsunami
Untuk bangunan, aspek struktur tahan gempa juga sangat penting.
Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 digunakan sebagai salah satu dasar pemutakhiran informasi bahaya gempa dan mencakup pembaruan sumber gempa serta parameter pemodelannya.
Kanal Resmi BMKG untuk Informasi Gempa
Masyarakat sebaiknya menggunakan kanal resmi BMKG untuk memperoleh informasi terbaru.
BMKG secara resmi mencantumkan kanal:
– Instagram: @infoBMKG
– X: @infoBMKG
– Facebook: InfoBMKG
– YouTube: infoBMKG
– TikTok: infoBMKG
– WhatsApp Channel: InfoBMKG
– Aplikasi: Info BMKG
– Contact Center: 196
BMKG menyebut kanal-kanal tersebut sebagai saluran resmi penyebaran informasi.
– Website resmi BMKG
– Instagram @infoBMKG
– X @infoBMKG
– YouTube infoBMKG
Kanal Resmi Badan Geologi dan PVMBG
Untuk informasi mengenai kondisi geologi dan aktivitas gunung api, masyarakat juga dapat mengikuti kanal resmi Badan Geologi Kementerian ESDM dan PVMBG.
Badan Geologi menyediakan kanal Instagram, YouTube, TikTok, Facebook dan X melalui kanal resminya.
– Badan Geologi Kementerian ESDM
– PVMBG Kementerian ESDM
