Surabaya (iddaily.net) – Di sebuah ruang siaran Radio Kosmonita Surabaya, diskusi berlangsung serius namun hangat. Idah Ernawati, manajer radio tersebut, tengah mengevaluasi performa salah satu penyiar barunya, Elly. Dalam forum evaluasi rutin itu, Idah menyoroti kebiasaan Elly yang terlalu sering meminta maaf saat siaran, yang dinilai dapat mengurangi kesan profesional dan kecerdasan penyiar di hadapan pendengar.
Bagi Idah, penyiar radio bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga figur yang mencerminkan intelektualitas. Ia menekankan pentingnya membangun komunikasi yang percaya diri tanpa harus bergantung pada ungkapan apologetik. Diskusi semacam ini menjadi bagian dari budaya kerja Radio Kosmonita, sebuah stasiun radio di Surabaya yang sejak awal mengusung isu-isu perempuan sebagai benang merah programnya.
Radio yang pertama kali mengudara pada 22 Desember 2000 itu secara konsisten menjadikan pemberdayaan perempuan sebagai tujuan utama. Melalui berbagai program, mereka berupaya mengangkat persoalan perempuan, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), ketimpangan peran sosial, hingga berbagai bentuk diskriminasi yang masih kerap terjadi.
Namun, upaya tersebut tidak berjalan tanpa hambatan. Menjelang peringatan Hari Ibu, isu perempuan kembali mengemuka, menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi perempuan belum sepenuhnya terselesaikan. Bahkan secara global, posisi perempuan masih sering berada dalam kondisi yang kurang menguntungkan.
Data dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya menunjukkan bahwa media yang secara khusus mengangkat isu perempuan masih terbatas. Hanya sekitar 20 persen media cetak di Surabaya yang memiliki fokus tersebut. Sementara itu, Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Jawa Timur mencatat hanya empat dari 25 radio di Surabaya yang menjadikan perempuan sebagai segmen utama.
Sunudyantoro dari AJI Surabaya mempertanyakan efektivitas media perempuan dalam memberikan solusi nyata. Hal serupa juga menjadi refleksi internal bagi Radio Kosmonita. Idah mengakui bahwa dampak media perempuan hingga kini belum optimal, salah satunya karena kuatnya budaya yang masih menempatkan perempuan sebagai pihak sekunder dalam masyarakat.
Menurutnya, persoalan ini diperparah oleh belum efektifnya program pemerintah dalam menangani isu-isu perempuan. Kondisi tersebut turut membentuk pola pikir perempuan yang cenderung kurang peka terhadap masalah yang mereka hadapi sendiri. Akibatnya, media yang berupaya mendorong perubahan sering kali menghadapi resistensi yang tidak mudah ditembus.
Pandangan serupa disampaikan Abdurohman, Pemimpin Redaksi Majalah Venus. Ia menilai bahwa mengubah pola pikir perempuan membutuhkan strategi yang matang dan tidak bisa dilakukan secara frontal. Majalah Venus sendiri sempat mengalami beberapa kali perubahan konsep sebelum menemukan formula yang tepat.
Dalam perjalanannya, majalah tersebut bertransformasi dari konsep majalah keluarga, kemudian menyasar perempuan kelas atas, hingga akhirnya menetapkan target perempuan kelas menengah. Dengan pendekatan konten gaya hidup seperti fashion dan kecantikan, disertai sisipan edukasi kesehatan, Majalah Venus berhasil menjangkau pasar yang lebih luas dan stabil.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Ketua Komite Perempuan Pro Demokrasi (KPPD), Erma Susanti, menilai peran media tetap penting dalam membuka ruang diskusi publik terkait isu perempuan. Ia mencontohkan bagaimana isu KDRT yang dahulu dianggap tabu kini mulai bisa dibicarakan secara terbuka berkat peran media.
Namun, Erma juga mengingatkan bahwa media perlu lebih konsisten mengangkat isu krusial lainnya seperti perdagangan manusia (trafficking) dan kesetaraan gender. Ia menilai kedua isu tersebut masih belum mendapatkan perhatian yang cukup, padahal memiliki dampak besar terhadap kehidupan perempuan.
Selain itu, ia menyoroti potensi media terjebak dalam eksploitasi perempuan, terutama ketika terlalu fokus pada konten konsumtif seperti kecantikan dan gaya hidup tanpa keseimbangan edukasi. Jika tidak dikelola dengan bijak, hal ini justru dapat memperkuat budaya konsumerisme yang berpotensi melemahkan posisi perempuan.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, media perempuan di Surabaya terus berupaya mencari keseimbangan antara idealisme, kebutuhan pasar, dan perubahan sosial. Perjalanan ini menunjukkan bahwa perjuangan mengangkat derajat perempuan tidak hanya membutuhkan konten yang tepat, tetapi juga strategi komunikasi yang mampu menembus batas budaya yang telah mengakar lama.
