Jakarta (iddaily.net) – Pergerakan harga pada Juli 2026 menunjukkan dinamika yang berbeda antara tingkat nasional dan daerah. Saat Indonesia masih mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 2,88 persen, Provinsi Jawa Timur justru mengalami deflasi 0,26 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).
Perbedaan ini dipengaruhi oleh faktor yang berbeda dalam pembentukan harga di tingkat nasional maupun daerah.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi nasional pada Juli 2026 didorong oleh kenaikan biaya pendidikan seiring dimulainya tahun ajaran baru.
Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga masih memberikan andil terhadap kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK), terutama karena peningkatan harga sejumlah komoditas pangan.
Di tingkat nasional, beberapa komoditas seperti beras, emas perhiasan, rokok kretek filter, minyak goreng, dan daging ayam ras menjadi penyumbang inflasi. Kenaikan harga tersebut membuat inflasi tahunan Indonesia tetap berada pada level 2,88 persen.
Berbeda dengan kondisi nasional, Jawa Timur justru menikmati penurunan harga sejumlah komoditas hortikultura. Kepala BPS Jawa Timur, Sutrisno, menjelaskan melimpahnya pasokan hasil panen membuat harga bawang merah, tomat, serta beberapa komoditas hortikultura lainnya mengalami penurunan sehingga mendorong deflasi sebesar 0,26 persen pada Juli 2026.
Menurut BPS, melimpahnya produksi di sentra pertanian Jawa Timur berpengaruh langsung terhadap harga di tingkat konsumen.
Ketika pasokan meningkat sementara permintaan relatif stabil, harga cenderung turun dan memberikan andil terhadap deflasi.
Meski demikian, Jawa Timur tidak sepenuhnya terbebas dari tekanan inflasi. Kelompok pendidikan tetap mengalami kenaikan biaya seiring dimulainya tahun ajaran baru.
Beberapa komoditas dan jasa lainnya juga masih mengalami kenaikan harga, namun dampaknya tertutupi oleh penurunan harga komoditas hortikultura yang lebih besar.
Perbedaan kondisi nasional dan Jawa Timur menunjukkan bahwa inflasi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor makroekonomi, tetapi juga sangat bergantung pada karakteristik masing-masing daerah.
Wilayah yang menjadi sentra produksi pangan umumnya lebih cepat merasakan dampak peningkatan pasokan melalui penurunan harga, sedangkan daerah yang bergantung pada pasokan dari luar lebih rentan mengalami kenaikan harga.
BPS menilai kondisi tersebut mencerminkan pentingnya menjaga keseimbangan antara produksi, distribusi, dan konsumsi pangan.
Pasokan yang memadai mampu menekan harga dan menjaga daya beli masyarakat, sementara gangguan produksi atau distribusi berpotensi memicu inflasi.
Ke depan, pemerintah bersama Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat pengendalian harga, terutama pada komoditas pangan strategis dan kelompok pengeluaran yang berpotensi mendorong inflasi, sehingga stabilitas harga tetap terjaga di tingkat nasional maupun daerah.
