JAKARTA (iddaily.net) – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juli 2026 sebesar 2,88 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 109,35.
Sementara inflasi bulanan (month-to-month/mtm) tercatat 0,24 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 1,89 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Aten Hartono menjelaskan, kenaikan harga pada Juli 2026 dipengaruhi sejumlah kelompok pengeluaran, terutama kelompok pendidikan serta makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap pembentukan inflasi nasional.
Kelompok pendidikan mengalami inflasi seiring dimulainya tahun ajaran baru, yang mendorong kenaikan biaya pendidikan di berbagai jenjang.
Sedangkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih dipengaruhi oleh pergerakan harga sejumlah komoditas pangan yang mengalami peningkatan selama periode pelaporan.
Selain dua kelompok tersebut, beberapa kelompok pengeluaran lain juga mencatatkan inflasi, di antaranya perawatan pribadi dan jasa lainnya, penyediaan makanan dan minuman atau restoran, kesehatan, serta pakaian dan alas kaki.
Kenaikan harga pada berbagai kelompok tersebut ikut menopang laju inflasi nasional pada Juli 2026.
Dari sisi komoditas, BPS mencatat sejumlah barang yang memberikan andil terhadap inflasi, antara lain beras, biaya pendidikan, emas perhiasan, rokok kretek filter, minyak goreng, dan daging ayam ras. Di sisi lain, penurunan harga beberapa komoditas hortikultura, seperti bawang merah dan tomat, turut menahan laju inflasi sehingga kenaikannya tidak berlangsung lebih tinggi.
BPS menyebut perkembangan harga pada Juli menunjukkan kondisi inflasi nasional masih berada dalam kisaran yang relatif terkendali.
Meski ada kenaikan pada sejumlah komponen, penurunan harga beberapa komoditas pangan membantu menjaga stabilitas harga secara umum.
Data BPS juga menunjukkan dinamika harga antarwilayah masih cukup beragam. Sejumlah daerah mengalami inflasi yang dipicu kenaikan biaya pendidikan dan harga pangan, sementara daerah lain justru mencatat deflasi akibat meningkatnya pasokan komoditas hortikultura yang menekan harga di tingkat konsumen.
Pemerintah bersama Bank Indonesia terus memantau perkembangan inflasi, khususnya menjelang semester kedua 2026, dengan fokus menjaga stabilitas harga pangan serta memastikan ketersediaan pasokan barang kebutuhan pokok agar inflasi tetap berada dalam sasaran yang telah ditetapkan.
