*catatan untuk almarhumah Emakku
Malang (iddaily.net) – Emakku yang meninggal dunia pada 26 Juni 2026 di Malang Jawa Timur, adalah sosok yang tangguh, karena ditempa berbagai kejadian.
Salah satunya, menjadi saksi mata dan korban selamat dalam tragedi Pelaksanaan Ibadah Haji di Mina Arab Saudi pada 1990, yang menewaskan 1400 orang lebih.
TRAGEDI MINA
Siaran TVRI tentang pelaksanaan ibadah haji di tahun 1990, bagi keluarga kami, menjadi siaran yang mendebarkan.
Ketika itu, tepatnya pada 2 Juli 1990, terjadi tragedi terowongan Mina Arab Saudi, lokasi tempat lempar jumrah.
Dan Emakku, ada di antara rombongan haji yang akan melempar jumrah itu.
Emak pergi haji bersama Eyang Kakung (kakekku dari bapak).
Awalnya tidak ada yang aneh. Prosesi Haji berlangsung aman.
Semua berbeda ketika prosesi lempar jumrah berlangsung.
Di tengah panasnya suhu di Mina yang mencapai 40 derajat Celcius lebih, jutaan orang yang berhaji bergerak ke Jamarat, untuk melakukan lempar Jumrah, dengan melewati terowongan.
Terowongan sepanjang 600 meter itu menjadi saksi bagaimana jemaah haji terlibat saling dorong.
Kepanikan tidak bisa dihindarkan.
Jemaah yang terjatuh, justru terinjak-injak jemaah lain yang juga panik.
Jumlah korban meninggal mencapai 1426 orang lebih.
TVRI secara khusus mengabarkan hal itu.
Selain pemberitaan, melalui Dunia Dalam Berita, TV satu-satunya di Indonesia itu merilis list nama-nama jemaah haji yang meninggal dunia.
Dengan perasaan carut marut, kami membaca deretan nama-nama yang ditayangkan di televisi.
Bila ketemu nama Emak, artinya, Emak menjadi korban meninggal.
Di zaman itu, belum ada smartphone, apalagi Whatsapp yang bisa share-loc atau mengabarkan kondisi.
Sebuah telepon dari salah satu tim medis dari Arab Saudi mengabarkan, Emak dan Eyang selamat dari Tragedi Mina, meskipun waktu kejadian, Emak sempat terjebak.
Ketika sampai di Indonesia, Emak sempat menceritakan, dirinya memang berada di Terowongan Mina, ketika peristiwa itu terjadi.
Beruntung, posisinya ada di sekitar mulut terowongan.
Di tengah teriakan dan kegaduhan saat peristiwa itu terjadi, Emak pun sempat terhimpit, ketika berusaha keluar dari terowongan.
Tiba-tiba, dua orang jamaah haji laki-laki berperawakan besar membantunya, memegang tangan dan menariknya hingga keluar dari terowongan, untuk mencari tempat aman.
Agaknya, Allah SWT memberi kesempatan Emak untuk selamat dari Tragedi Mina.
WARTAWAN
Di mata seorang ibu, anak-anak tetaplah anak-anak, berapapun usianya.
Begitu juga yang saya rasakan.
Emak menyetujui, ketika saya meminta dibelikan sebuah sepeda balap mini.
Dengan sepeda itu juga, saya menjadi loper koran “Suara Indonesia” di Surabaya.
Ketika sudah bisa mengendarai motor, Emak juga setuju saya dibelikan motor Suzuki Family FR 83.
Masa SMA, ganti motor Yamaha RX Twin, dobel knalpot, hingga mobil Willys Mambo, stir kiri.
Saat kuliah dan awal-awal menjadi wartawan, saya merasa Emak lebih protektif.
Panggilan tes dan wawancara Tabloid Nova di Jakarta yang saya terima, meresahkan Emak.
Dari Surabaya, saya disetujui pergi ke kantor HRD Kelompok Kompas Gramedia (KKG), Jakarta, asalkan Emak ikut menemani.
Negosiasi alot, saya pun setuju tes dan wawancara diantar Emak. Hahaha.
Tentu Emak tidak ikut masuk ke lokasi tes, kami berpisah di sekitar Stasiun Senen.
Ketika saya sudah bekerja menjadi wartawan, Indonesia mengalami berbagai macam konflik, antar etnis.
Emak mewanti-wanti, agar saya tidak liputan di lokasi berbahaya.
“Pokoknya, kalau kamu pergi ke lokasi-lokasi itu, saya akan datang ke kantormu, dan minta kamu dipecat.” Emak mengancam.
Waduh.
Tapi saya memilih menurutinya.
DICULIK
Kekhawatiran Emak pada aktivitas saya di dunia jurnalistik, memang bukan tanpa alasan.
Penculikan saya oleh aparat Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional di tingkat Daerah (Bakorstanasda) menjadi penyebabnya.
Cerita singkatnya, penculikan itu terjadi tahun 1996, ketika saya masih semester 2 jurusan Jurnalistik, setelah meletusnya Kudeta 27 Juli di Markas PDI di Jakarta.
Saya yang sudah beraktivitas di Koran Karya Dharma Surabaya, dituduh sebagai koordinator Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) kampus Stikosa AWS.
Emak merasa terpukul dengan peristiwa itu.
Ketika saya mendekam di markas Bakortanasda untuk menjalani pemeriksaan oleh tentara, Emak mencari keberadaan saya, dengan caranya sendiri.
Emak menghubungi kawan-kawan saya kampus untuk mencari informasi.
Ia juga ke kantor polisi untuk mengetahui, apakah polisi menangkap saya atau tidak.
Kerabat yang kebetulan anggota tentara juga dihubungi.
Namun semua buntu. Keberadaan saya tetap tidak diketahui.
Dalam pencarian itu, Emak yang frustrasi mengendarai mobilnya, dan berhenti di sekitar kantor Korem Bhaskara Jaya, di Surabaya.
Ia menangis di dalam mobil, hingga seorang tentara menghampiri.
Emak menceritakan tentang saya yang hilang.
Singkat cerita, akan ada kunjungan ke rumah, untuk mendalami laporan itu.
Insting seorang ibu mendorong Emak untuk masuk ke kamar saya, dan membersihkan dari barang-barang “berbahaya”.
Majalah-majalah, buku-buku atau hal-hal yang dianggap “berseberangan” dengan penguasa “Orde Baru”, disimpan di kamar yang lain.
Ketika pak tentara datang, ia menemukan kamar yang “bersih”.
Singkat cerita, Emak mendapatkan informasi tentang keberadaan saya, dan tahu di mana saya ditahan.
SINOM
Emak pun mengunjungi markas Den Intel Kodam V Brawijaya, tempat saya ditahan.
Tentu kami tidak bisa bertemu. Emak hanya menitipkan minuman sinom dan beras kencur kepada petugas, untuk diberikan kepada saya.
Di dalam sel, ketika petugas memberikan dua minuman itu, saya menyadari, minuman ini dari Emak.
Emak tahu, sinom dan beras kencur itu kesukaan saya.
Di hari yang berbeda, Emak juga datang ke markas Den intel untuk bertemu saya.
Kami sempat ngobrol di pos, tentu ditemani penjaga.
Ketika saya dibebaskan, 11 hari kemudian, Emak juga yang menjemput saya.
EPILOG
Tentu, cerita saya tentang Emak, hanya sekelumit dari interaksi saya dengan perempuan bernama Soelastri ini.
Masih banyak cerita lain, yang pastinya sangat personal, dan mustahil saya tuliskan.
Semoga tulisan ini menggambarkan, betapa istimewa sosok Emakku, yang kini berbaring di makam wilayah Karang Ploso, Kabupaten Malang.
Terima kasih ya Emak sayang.
“Sesungguhnya kita semua milik Allah, dan kepada Allah kita akan kembali,”
(end)
