Jakarta (iddaily.net) – Fenomena El Nino makin kuat membuat hujan semakin jarang terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia.
Namun, kondisi tersebut bukan berarti seluruh wilayah Indonesia akan sepenuhnya terbebas dari hujan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih memprakirakan sejumlah wilayah berpeluang mengalami hujan pada periode 11–17 Agustus 2026.
Dalam prakiraan cuaca sepekan yang diperbarui pada 10 Agustus 2026, BMKG menyebut cuaca Indonesia secara umum didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan.
Namun, terdapat sejumlah daerah yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang.
Ini Wilayah Berpeluang Hujan
Pada periode 11–14 Agustus 2026, peningkatan hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di:
– Aceh
– Sumatera Utara
– Sumatera Barat
– Jawa Barat
– Sulawesi Selatan
– Papua Pegunungan
– Papua
Sementara potensi angin kencang diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Aceh, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat Daya dan Papua Selatan.
Memasuki periode 15–17 Agustus 2026, peluang hujan dengan intensitas sedang masih terdapat di Aceh, Sumatera Barat, Riau, Papua Pegunungan dan Papua.
Adapun potensi angin kencang diprakirakan terjadi di Jawa Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur dan Papua Selatan.
Ada Dinamika Atmosfer yang Picu Hujan
BMKG menjelaskan, peluang hujan lokal tersebut tetap terbuka karena adanya sejumlah dinamika atmosfer yang dapat mendukung pertumbuhan awan hujan.
Aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial diprakirakan masih aktif di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Selatan, Jawa bagian barat, Sumatera Selatan, Lampung hingga Papua Selatan.
Selain itu, Gelombang Kelvin juga diprediksi melintasi sejumlah wilayah Sumatera bagian tengah hingga utara serta kawasan Papua.
Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) juga masih teridentifikasi di beberapa wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut dapat mendukung pertumbuhan awan hujan secara lokal meskipun secara umum Indonesia tengah menghadapi musim kemarau.
El Nino Tetap Dominan
Di sisi lain, kondisi atmosfer secara umum masih menunjukkan dominasi faktor yang mendukung cuaca kering.
BMKG mencatat sebanyak 73,8 persen wilayah Indonesia atau 516 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau.
Pada Dasarian III Juli 2026, sekitar 76,3 persen wilayah Indonesia mengalami sifat hujan di bawah normal.
BMKG juga memprakirakan puncak musim kemarau 2026 terjadi pada periode Juli–September.
Pada Agustus, puncak kemarau diprediksi mencakup wilayah yang luas, termasuk sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku serta sebagian besar Papua.
Karena itu, hujan yang masih muncul di sejumlah daerah bersifat lokal dan tidak mengubah gambaran umum bahwa Indonesia tengah berada dalam periode kemarau yang semakin kuat.
Waspadai Hujan dan Angin Kencang
BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap memperhatikan potensi cuaca ekstrem meskipun musim kemarau sedang berlangsung.
Hujan lokal yang turun secara tiba-tiba dapat disertai kilat, petir dan angin kencang.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan hingga sambaran petir.
Masyarakat juga diminta tetap menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar dan hutan.
Masyarakat dapat terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG.
