SUARA PERLAWANAN YANG TAK TERPADAMKAN
26 Januari lalu, Michael Parenti meninggal di usia 92 tahun.
Dunia kehilangan salah satu kritikus kapitalisme terpenting di abad ke-20 dan 21 sekaligus.
Ia akan dikenang sebagai seorang intelektual bebas cum sosialis sejati yang menolak untuk bungkam.
Hidup dan karyanya adalah perlawanan berkelanjutan terhadap arus utama dominasi kekuasaan yang melahirkan ketidakadilan.
Parenti lahir dari dari keluarga kelas pekerja keturunan Italia-Amerika di New York.
Parenti menjalani pendidikan di City College of New York (BA), Universitas Brown (MA) dan meraih gelar PhD dalam ilmu politik dari Universitas Yale pada 1962.
Ia sempat mengajar di berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Howard, Brooklyn College, dan California State University, namun sering kesulitan mendapatkan posisi tetap (tenure) karena pandangan politik sayap kirinya.
Karier akademisnya terhambat karena pandangan politiknya.
Seperti yang pernah ditulisnya, ia diusir dari profesi pengajar melalui “red-baiting” (tuduhan bahwa ia adalah komunis disertai bullying dan pendiskreditan) dan terpaksa bertahan hidup dari menulis dan berbicara di depan publik.
Ia aktif sebagai kritikus sosial selama lebih dari lima dekade.
Suara dan aksi kritisnya menjadi referensi beberapa generasi aktivis. Sekali waktu, ia pernah ditangkap dan dipukuli hingga berdarah dalam sebuah unjuk rasa anti-perang Vietnam.
Terpinggirkan dari dunia akademik dan “terlempar” ke dunia gerakan justru membuka jalannya untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan bebas.
Karya Monumental: Mengurai Ilusi Demokrasi
Pemikiran Parenti berfokus pada kritik terhadap kapitalisme, kesenjangan kelas, dan kebijakan luar negeri Amerika.
Selain menulis dan meneliti berbagai tema, ia vokal menentang pengeboman NATO di Yugoslavia pada 1990-an.
Parenti menulis lebih dari 20 buku dan esai, tapi mahakarya yang dikenang banyak pembaca adalah “Democracy For The Few” yang terbit pertamakali tahun 1974).
Buku teks itu hingga kini telah mengalami cetak ulang hingga sembilan edisi.
“Democracy For The Few” menawarkan kritik komprehensif terhadap kapitalisme Amerika sebagai sistem sosial yang utuh, dengan elegan mengurai kontradiksi antara nilai-nilai elit dan demokratis.
Parenti tidak hanya mengutuk; ia dengan sabar membongkar argumen yang mendasari legitimasi kapitalisme dan menunjukkan rapuhnya dasar rasional mereka.
Poni-poin penting dalam "Democracy For The Few" antara lain;
• Kritik Terhadap Kapitalisme: Buku ini menjelaskan bahwa demokrasi sering kali dilanggar oleh tatanan sosial kapitalis yang tidak setara.
• Dominasi Elit: Menjelaskan bagaimana kekayaan dan kekuasaan terkonsentrasi di tangan segelintir orang (elite) yang mempengaruhi pemerintah dan kebijakan.
• Peran Pemerintah dan Propaganda: Mengupas praktik pemerintah, konspirasi, dan penggunaan media massa untuk membentuk opini publik, yang disebut sebagai monopoli ideologis.
• Perjuangan Rakyat: Meskipun menyoroti dominasi elit, buku ini juga membahas bagaimana kekuatan rakyat berjuang melawan sistem dan terkadang berhasil membuat kemajuan.
• Relevansi: Buku ini merupakan analisis sejarah dan fungsional yang kuat terhadap lembaga-lembaga politik AS, meskipun isinya terkadang dianggap mendahului zamannya.
Secara umum, buku tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman kritis bahwa demokrasi sejati masih sering terhalang oleh kepentingan ekonomi korporasi.
Kritik Tajam terhadap Media dan Narasi Dominan
Parenti juga pionir dalam mengkritik media massa. Dua tahun sebelum buku terkenal “Manufacturing Consent” yang ditulis Naom Chomsky terbit, Parenti telah menerbitkan “Inventing Reality:
The Politics of News Media” pada tahun 1986. Parenti mengecam cara media membingkai realitas, seperti menyebut pemerintahan sosialis Salvador Allende yang terpilih secara demokratis di Chile sebagai “rezim”, sementara kediktatoran berdarah Pinochet hasil kudeta disebut “pemerintah Chile”.
Bagi Parenti, ini adalah “pembalikan realitas yang setara dengan pemikiran ganda Orwellian”.
Istilah ”pemikiran-ganda” dimunculkan George Orwell dalam novel 1984 untuk menunjukkan situasi di mana penguasa berhasil menanamkan ide hingga ke alam bawah sadar masyarakat bahwa versi tentang segala sesuatu yang berasal dari penguasa adalah benar dan selalu benar.
Sehingga, tatkala orang dihadapkan pada suatu realitas, maka realitas tersebut akan dipahaminya dalam perspektif penguasa.
Proses penanaman ide semacam bisa dilakukan secara represif maupun persuasif termasuk jor-joran narasi media massa.
“Inventing Reality” mengeritik tajam dengan menyebut media massa AS secara sistematis mendistorsi berita untuk melayani kepentingan elit kapitalis, kaya, dan berkuasa, dus bukan untuk menginformasikan publik secara objektif.
Buku ini membongkar bagaimana media memanipulasi persepsi publik melalui sensor, bias, dan pembentukan opini yang mendukung kepentingan korporasi dan kapitalisme.
Poin-poin penting dalam “Inventing Reality” antara lain;
• Media sebagai Alat Kapitalis: Parenti menolak anggapan bahwa media massa dikendalikan oleh kaum liberal. Sebaliknya, ia menggambarkan media sebagai lembaga yang melayani sistem kapitalis.
• Distorsi Berita: Media melakukan distorsi atau penindasan informasi tertentu, terutama terkait perjuangan kelas, kebijakan luar negeri, dan isu-isu anti-komunis, demi membentuk kesadaran dan sikap publik agar selaras dengan agenda penguasa.
• Contoh Kasus: Buku ini menganalisis liputan berita tentang peristiwa dunia, seperti perang kontra di Nikaragua, invasi AS ke Panama, dan keruntuhan Uni Soviet.
• Sensor Diri dan Bias: Parenti menyoroti bagaimana jurnalis sering melakukan sensor diri (self-censorship) dan menunjukkan bias pro-bisnis serta anti-serikat pekerja.
• Pendekatan Kritis: Dibandingkan dengan “Manufacturing Consent” karya Noam Chomsky, buku Parenti dinilai lebih mudah dibaca dan mencakup topik yang lebih luas dalam mengkritik media arus utama.
Secara keseluruhan, “Inventing Reality” mendidik pembaca untuk bersikap skeptis terhadap berita yang disajikan sehari-hari dan memahami bahwa apa yang dianggap “realitas” sering kali hanyalah hasil konstruksi media.
Membedah Mitos Kapitalisme dan Eksploitasi Kelas
Dengan kecerdasan dan humor yang menyengat, Parenti melucuti mitos-mitos kapitalisme. Sebagian dari idiom-idiom tersebut antara lain;
• Kritik pada “Tangan Tak Terlihat”: Ia menyindir gagasan bahwa keserakahan pribadi akan menghasilkan kebaikan publik sebagai “dongeng yang terlalu fantastis”.
• Siapa Produsen Sejati?: Parenti menekankan bahwa kapital membajak terminologi. Korporasi disebut “produsen” atau “petani”, padahal mereka tidak memproduksi atau menanam apa pun. Produsen sejati adalah para pekerja. Korporasi seharusnya disebut “perangkat organisasi untuk pengambilalihan tenaga kerja dan akumulasi modal”.
• Akar Kemiskinan Massal: Kemiskinan bukanlah kondisi alamiah, tetapi hasil dari akumulasi surplus besar-besaran oleh segelintir orang, sebuah proses yang menciptakan kekurangan bagi banyak orang yang justru menghasilkan surplus tersebut.
Warisan dan Relevansi Abadi
Meski sering dicap sebagai “ekstremis”, Parenti menjelaskan bahwa yang ia perjuangkan sebenarnya moderat: lingkungan bersih, pajak yang adil, perumahan terjangkau, pekerjaan dengan upah layak, dan keadilan yang setara.
Gagasan-gagasan ini tampak “ekstrem” hanya karena sangat bertentangan dengan kepentingan status quo.
Sebagai seorang pengamat dan penulis, ia telah menerima banyak penghargaan seperti Career Achievement Award dari Caucus for a New Political Science (2003) dan American Book Award for Lifetime Achievement (2014).
Itu menjadi bukti bahwa sekeras apapun kritiknya dan setajam apapun gagasannya, karya-karyanya diakui oleh kalangan terpelajar AS.
Parenti meninggal dalam sunyi musim dingin Amerika, tetapi warisannya tetap menyala dan memanaskan pikiran kritis para pemikir dan pejuang yang melawan ketidakadilan di berbagai penjuru dunia.
Tulisan, pidato, dan wawancaranya terus dicari oleh generasi baru yang ingin memahami dunia dengan lebih kritis, membuktikan bahwa suara kebenaran dan keberanian tak akan pernah benar-benar padam.
Selamat jalan guru.
#AK Supriyanto (disadur dari berbagai sumber)

















Tidak ada komentar