22 January 2012

Orang China yang kukenal

the guardian
Di Imlek 2012 ini, saya ingin kembali menuliskan kesan saya pada kawan-kawan China yang saat ini hidup di Negeri Panda. Bukan sebuah tulisan serius, hanya sebuah kenangan baik dalam pejalanan hidup saya. Tulisan ini untuk kalian,..


WW dan istrinya

Kenangan pertama adalah seorang kawan berinisial WW. Dia kukenal saat perjalanan ke AS bertahun lalu. WW, saya dan satu kawan lagi dari Brunei Darrussalam cukup akrab. Kami menghabiskan waktu traveling di empat state di AS. Selain mempelajari banyak hal tentang AS, kami juga memperlajari kebiasaan masing-masing.

WW adalah seorang pekerja media di China. Karirnya menanjak, lantaran analisa politik yang dibuatnya banyak dinikmati oleh pembaca majalah tempatnya bekerja. Personaliti WW pun cukup menarik. Sosoknya lucu, dan selalu penasaran dengan berbagai hal. Utamanya, hal-hal yang oleh ‘barat’ dinilai bagus, namun oleh China dinilai buruk. Jadilah, WW, termasuk kawan yang sering banyak bertanya, ketika berhadapan dengan tokoh AS.

Saat kami pengunjungi Paman Sam, WW mengaku tidak bisa melupakan negaranya. Utamanya pada istrinya yang sedang mengandung anak keduanya. “Ada peraturan, di Negara saya, tidak boleh memiliki anak lebih dari satu, saat ini, istri saya sedang berjuang untuk menyelamatkan diri,” katanya. Meski demikian, WW mengaku sangat mencintai negaranya.

Kata-kata WW yang masih kukenang adalah “There is no love, but life,..”

Semangat Muda

Kawan lain yang juga cukup kukenang adalah UN. Dia adalah pekerja media televisi di China. UN tergolong sangat muda, namun memiliki semangat tinggi. Saat berkesempatan menghabiskan waktu beberapa hari di AS, UN memperkenalkan banyak hal tentang pernak-pernik berbau China. Utamanya makanan China dan Singha Beer- bir Thailand.

Bagi orang China berdarah campuran (China-barat), UN memiliki pandangan yang progresif. Mungkin karena hidupnya banyak dihabiskan di Hong Kong. Belakangan, Hong Kong ‘kembali’ ke pelukan China. Baginya, dunia televisi yang sedang digeluti adalah kehidupan yang sebenarnya. Tak heran bila UN bercita-cita tinggi untuk menghidupkan dunia televisi China. “Kalau memang tidak bisa, ya mungkin saya akan pindah saja ke CNN,” katanya.

UN memperkenalkan saya pada museum di AS. Meski sampai pulang ke Indonesia, ajakannya ke museum, belum pernah saya iyakan. Saya lebih suka menghabiskan waktu di Central Park, New York. Sambil makan hot dog dan melihat muda-mudi berpacaran. Sementara UN pergi ke museum, dan kembali bertemu di taman itu. Menikmati indahnya Central Park yang terbalut dingin.

Fotografi

KJ, kawan lain di China adalah seorang ‘fotografer’. Meski dirinya lebih suka dikenal sebagai pekerja media jenis tulis. Namun bagi saya, dia pantas disebut fotografer. Karya fotonya dahsyat! Syarat makna.

Kami bertemu pertama kali di sebuah bandara di Berlin. KJ lebih banyak diam dalam perjalanannya di dua kota di Jerman yang sempat kami kunjungi. Menurut saya, dia merekamnya dalam memory. Hal itu terbukti dengan catatan kecil yang dibuatnya, bersanding dengan foto-foto jenis salon yang indah. “Ah, ini hanya kebetulan saja,” katanya.

KJ sempat kagum dengan cara berbicara saya dalam bahasa Inggris. Dia tidak tahu, semua yang saya katakan dalam bahasa Inggris itu sangat buruk dalam grammar. Tapi, karena saya sering melihat film Hollywood tanpa teks, jadinya, cukup membuatnya ‘terpesona’,.. hahahaha. “Do you always use English in Indonesia?” she asked. Aku cuma tersenyum.

WW, UN dan KJ, gong xi fat cai,…

Iman D. Nugroho

No comments:

Post a Comment

Program

Program