01 December 2010

Mengapa WikiLeaks Diburu?

Iman D. Nugroho


Bayangkan bila ada sebuah lembaga yang "sakti". Memiliki akses untuk menembus rahasia lembaga lain, dan kemudian ngember ke mana-mana. Nah, lembaga yang merasa keberatan dengan aksi si sakti bernama WikiLeaks itu berusaha mati-matian untuk membungkamnya. Menurutku, bukan cuma itu sebabnya.


Tulisan ini jelas tidak akan mengulas kembali tentang apa itu Wikileaks, karena semua bisa anda baca di Wikileaks.org. Namun, lebih ingin melihat mengapa situs yang suka ember dengan membocorkan rahasia-rahasia negara yang mencederai kemanusiaan itu harus "diserang" dengan berbagai tuduhan. Khususnya, tuduhan kasus perkosaan yang diarahkan pada Julian Assange, pendiri Wikileaks.

Jelas, negara-negara yang merasa rahasianya diudal-udal (baca: dibongkar) oleh WikiLeaks merasa sangat berkepentingan untuk membungkam situs ini. Terutama pemerintah AS, yang paling banyak diungkap keburukannya. Karena AS terkoneksi dengan negara-negara sekutunya, maka, negara lain yang tersentil dengan WikiLeaks pun setuju dengan itu.

Dan menjadi global enemy, jelas tidak mudah. Tapi tidak harus membuat WikiLeaks tidak eksis. Lihat saja, saat Julian sedang sibuk menyembunyikan diri dari polisi internasional Interpol, justru organisasi yang didirikannya siap-siap merilis telegram Pemerintah AS pada Kedutaan Besar negara itu di seluruh dunia.

Di sinilah kerumitan itu terjadi. Karena, telegram yang kemungkinan akan disebar itu berisi permintaan, dukungan, seruan dan semacamnya, pada Kedutaan Besar AS. Mungkin, diteruskan ke pemerintah negara setempat. Di negara Arab misalnya, bukan tidak mungkin, telegram itu berhubungan dengan permintaan dukungan AS pada invansi AS ke beberapa negara Arab. Sebut saja Iraq dan Afghanistan.

Di Asia pun tidak kalah seru. Negara-negara yang sangat dekat dengan AS seperti Filipina dan Korea Selatan pasti akan tersentil. Bagaimana dengan Indonesia? Nah, jelaslah. Mungkin juga, bocoran itu akan menyentil peristiwa kerusuhan Mei, turunnya Gus Dur, Aceh, Papua, hingga persoalan SBY. Wah-wah,..

Lalu, apa keuntungan WikiLeks (selain menjadi populer, tentunya)? Presiden Iran Ahmadinejad punya analisa menarik. Menurutnya, data-data milik AS itu tidak bocor, melainkan dibocorkan. Tujuannya, ingin membuat dunia tercarut marut karenanya. Di Arab sendiri, kata Ahmadinajad, bocornya telegram AS itu akan memunculkan kebencian di antara Arab (dan penduduk Arab). Dengan logika ini, Asia pun bisa jadi akan mereaksi sama.

Bayangkan bila tiba-tiba ada telegram yang mengatakan: "Hendaknya, permusuhan antara Malaysia dan Indonesia terus dijaga. Dan dukung terus Malaysia untuk berkomentar keras soal Indonesia." Nah, bukan tidak mungkin, masyarakat Indonesia akan terbakar karenanya!

Selalu ada "harga" yang harus dibayar. Termasuk "harga" atas kebebasan informasi.

No comments:

Post a Comment