09 November 2009

[ Cerita Pendek ] Jatuh

Iman D. Nugroho

Sore itu, Anisa tak banyak bicara. Ia memilih terus memandangi angkasa, sambil sesekali bergoyang mengikuti irama angin yang meniupnya. Tanganku yang terus digenggamnya, seperti enggan untuk dilepaskan. "Setelah sekian lama, baru kali ini kita bisa berdekatan begitu lama," kataku dalam hati. Jelas, Anisa tidak bisa mendengarnya.


Aku sendiri lebih suka melihat ke bawah. Meski tampak kecil, kehidupan yang tampak di mataku lebih menarik ketimbang angkasa yang luas membentang. Tak jarang aku menjadi saksi hiruk pikuk manusia yang entah mengapa, begitu percaya diri pada kehidupannya. "Anisa, coba kau lihat itu,..kehidupan mereka begitu berwarna," kataku dalam hati. Lagi-lagi, Anisa jelas tidak mendengarnya.

Aku dan Anisa adalah teman lama. Pertemuan pertamaku dengan dia terjadi di Hutan Aceh. Tak jauh dari Daerah Ladong, Aceh Besar. Aku yang sudah menunggu lama di bawah pohon akasia itu, dikejutkan oleh kedatangan Anisa. Dia tampak bening di mataku. Sangat jarang bicara, tapi tidak pernah berhenti bergerak. Saat hujan datang dan menjadi banjir, Anisa memilih ikut kemana arus membawa. Aku selalu ada di belakangnya. "Tak bisakah kau mendengar jeritan hatiku, Nisa,.."

Pernah suatu kali, nasib membawa kamu ke Kota Banda Aceh. Sungai besar yang melintas di provinsi paling barat di Indonesia itu, mengantar kami ke sebuah rumah reyot. Aku dan Anisa menjadi saksi, ketika pemilih rumah itu menangis karena seluruh perabotannya terendam air. "Rusak semua! Rusak semua!," kata perempuan itu sambil mengangkat radio dan televisi butut miliknya. Aku dan Anisa hanya terdiam.

Wusssssss,...angin kencang menghentikan lamunanku. Anisa tampak memejamkan mata. Aku pun begitu. Genggaman tangan Anisa begitu keras. Seperti tak mau melepaskanku. Diam-diam, aku melirik ke arahnya. Dalam takut, aku melihat wajahnya bekilau. Goyangan angin membuatnya memicing. Tak kusangka, Anisa membuka matanya. Melihat ke arahku,..dia tersenyum. Aku tersentak. Angin kembali bertiup kencang.

"Akuuuu selaluuu bisaaa mendengarrr kataaaa hatimuuuu,....!!"

Anisa berteriak. Suaranya terdengar di sela-sela hembusan angin. Aku tertegun. Hatiku tertampar.

"Apaaaaa??"

Aku mencoba memastikan, kali ini aku tidak bermimpi. Anisa tersenyum. Dia tahu pasti, aku bisa mendengar kata-katanya. Dia tidak berkata-kata. Hanya tersenyum. Aku membalas senyumnya. Tangan kami berpegangan semakin erat.

"Jangan pernah pergi dariku, Nisa," kataku dalam hati.

Sial. Anisa pasti bisa mendengarnya. Meski angin bertiup semakin kencang. Benar saja. Anisa kembali tersenyum. Memandangku. Aku melihat matanya berkaca-kaca. Lalu, airmata itu pun tumpah. Tapi segera hilang tersapu angin yang sangat kencang,...wussss,.

"Kalau Dia mengijinkan, kita akan bertemu lagi. Biar nasib yang menjawabnyaaaa..!!!"

Kalimat itu bersamaan dengan gelegar petir yang menggetarkan sekeliling kami. Kilatnya menerangi langit, memperjelas mata Anisa yang memerah. Angin semakin kencang. Aku berusaha mencengkeram tangan Anisa. Angin semakin kuat,...Anisa pun terjatuh,..

"Tidaaaakkkkkk,...."

Anisa meluncur ke bawah. Menembus langit, menembus angin. Menembus petir dan kilat yang menyambar. Anisa terjatuh! Aku memilih untuk mengejarnya. Meluncur ke bawah dengan kencang. Kemana Anisa? Angin membawanya entah kemana. Aku terus meluncur.

"Anisaaaaa,..."

"Anisaaaaa,..."

Aku terus berteriak.

Aku meluncur. Menyibak langit. Menerjang apapun yang di depanku. Sekilas kulihat langit-langit hotel semakin dekat. Aku berharap tidak terjatuh di atasnya. Angin memihakku. Menghempaskanku ke arah kanan. Aku tidak peduli. Di benaknya hanya ada Anisa. Sampai semuah benda datar menghempas tubuhku.

Aku mendarat di atas jalanan. Di sana Anisa sudah menunggu sambil tersenyum,..

"Meski hanya setetes air hujan, aku sangat mencintaimu, Anisa,.."

No comments:

Post a Comment

Program

Program