16 July 2009

Dan inilah cinta,..

Iman D. Nugroho

Tulisan ini mungkin akan menjadi tulisan pertama saya tentang cinta. Definisi tentang kata yang bahasa inggrisnya disebut "love" itu memang sulit untuk saya diskripsikan. Tapi juga tidak sering saya rasakan. Pernah sih, tapi tidak selalu beakhir menyenangkan. Maklum, dari sisi wajah dan kepribadian, saya tergolong "bukan pilihan" yang baik. Atau lebih pas disebut tidak layak dipilih. But, whatever, berbicara soal cinta bagi saya masih asyik dibicarakan.


Cinta itu, sejauh yang saya tahu berawal dari rasa suka. Dan terkompilasi dengan keinginan memiliki, takut kehilangan dan semangat untuk memberi. Di sisi lain, rasa-rasa itu juga menuntut timbal balik dari sesuatu yang kita cintai.Bukankah kita juga ingin disukai, ingin dimiliki, ingin dikhawatirkan hilang dan ingin selalu menerima sesuatu dari orang yang kita cintai. Nah di sinilah semua hal "menarik" itu terjadi.

Dalam banyak kasus, sejak awal ada "suka", sudah menciptakan sengketa. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali saya suka dengan sesuatu atau seseorang, tapi tidak semua memunculkan timbal balik. Misalnya, saya suka makan buah durian, dan tidak pernah sedikitpun saya mengharapkan buah durian itu akan menyukai saya. Begitu juga dengan kaset/CD kelompok musik Nirvana, dengan Alm. Kurt Cobain, Chris Novoselic dan Dave Grohl di dalamnya. Jelas, saya tidak pernah bermimpi, ketiganya akan juga menyukai saya.

Tapi pernah juga, saya menyukai teman SD, SMP SMA dan saat kuliah. Tidak usah lagi bertanya, sebesar apa keinginan saya untuk saling memiliki itu, atau seberapa besar rasa takut saya kehilangan mereka-mereka itu. Dan, tentu saja,..saya sudah memberi apapun yang mereka mau. Sayang berujung tidak mengenakkan. Shit,..mereka yang saya harapkan menyukai saya, sama sekali tidak merespon. Sudah sekian jurus dan trik-trik yang saya pelajari dari kawan-kawan yang terkenal playboy, tapi tetap juga nggak berhasil.

Saya bukan satu-satunya yang tidak beruntung. Ada juga, kenalan yang sangat mencintai seseorang dan bersedia melakukan apapun untuk itu. Bahkan, bersedia menciptakan gossip untuk dirinya sendiri, untuk membangun suasana cinta. Sudah berapa kali meminta sanak, saudara dan handai tolan untuk meyakinkan, tapi tetap juga gagal.Rapalan, doa dan ibadah dengan berbagai jurus dan prasyarat pun tak ketinggalan. Saya yakin, devinisi cinta seperti alinea kedua pun ada dalam benaknya. But,..pupus. Sampai kini saya dengar, dia tetap berusaha.

Yang lain lebih unik lagi. Setiap napasnya beraroma cinta. Bukan karena dia sangaja menebarkan, tapi Tuhan seakan-akan menganugerahi hal itu. Siapa pun yang berhadapan dengannya, pasti jatuh cinta. Siapa pun! Tak terhitung, berapa kali dikirimi surat, email, boneka, santet, teluh dll, hanya untuk mendapatkan cintanya. Sudah ribuan mak combang meyampaikan titip salam, mengagitasi sedemikian rupa, mempromosikan kliennya. Pokoknya berbusa-busa. Cinta menjadi memuakkan, karena sering didendangkan di depannya. Kabar terakhir, sampai kini tetap menolak cinta yang dihembuskan ke arahnya.

Cinta memang berawal dari suka, terkompilasi dengan keinginan memiliki, rasa takut kehilangan dan semangat memberi. Tapi, jangan lupa, ada dua pihak yang harus menyatakan "iya". Sepertinya, poin terakhir ini yang lebih penting,..

:)

No comments:

Post a Comment

Program

Program