15 January 2007

Dan Putra Terakhir Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) pun Berpulang,..

Mendung tebal menyelimuti kota Jombang, Senin (15/01) dini hari, ketika rombongan santri dari Solo, Jawa Tengah memasuki halaman depan Pondok Pesantren (ponpes) Tebuireng Jombang. Seorang pemuda bersarung dan mengenakan jas berwarna gelap yang memimpin rombongan itu mendatangi pos jaga ponpes yang didirikan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH.Hasyim Ashari di tahun 1899 lalu.

"Assalamualaikum,..kami rombongan dari Solo, ingin berta'ziah (berdoa kematian), apakah jenazah Kyai Yusuf Hasyim sudah datang," tanya pemuda itu pada Miftahul Huda, pengasuh Ponpes Tebu Ireng yang dini hari ini kebagian tugas jaga. "Langsung ke Dalem Kidul (rumah utara) saja, sekitar 500 meter dari sini,..jenazah masih di sana," jawab Mistahul Huda. Pemuda itu mengangguk, dan bergegas ke tempat yang dituju.

Keluarga besar NU berduka ketika KH. Yusuf Hasyim meninggal dunia Minggu (14/01) sore di RS. Dr. Soetomo, Surabaya. Kematian putra terakhir KH. Hasyim Ashari itu bagai menambah duka Indonesia, negeri yang belakangan tercabik dengan berbagai peristiwa kemanusiaan. "Sudah tidak ada lagi putra KH. Hasyim Ashari, semua sudah meninggal,.." kata Muhammad Nuh, salah satu ustadz Ponpes Tebuireng pada The Post, Senin ini.

KH. Yusuf Hasyim adalah putra ke tujuh pendiri NU, KH. Hasyim Ashari. Sekaligus adik bungsu KH. Wahid Hasyim, ayah KH. Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Peran tokoh yang akrab dipanggil Pak Ud ini mulai terlihat ketika dirinya menjadi salah satu perwira pasukan Hisbullah, salah satu cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada jaman kemerdekaan. Jabatan sebagai ketua pertama dari Ansor, organisasi kepemudaan di NU, semakin melambungkan namanya.

Apalagi, di tahun ia menjabat sebagai Ketua Ansor itu, organisasi ini paling getol mengobarkan semangat perlawanan terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memberontak pada akhir tahun 1965. Karena itulah, Pak Ud adalah tokoh yang menolak upaya apapun yang memberi ruang kepada komunisme. "Pak Ud tahu betul apa yang diinginkan orang-orang Komunis, karena itu dia menolak tegas ideologi komunisme," kata Muhammad Nuh.

Sikap itu jauh berbeda dengan sikap KH. Abdurahman Wahid atau Gus Dur, keponakannya. Gus Dur adalah salah satu mantan Presiden RI yang secara terbuka mengusulkan dicabutnya TAP MPR-RI 25 tahun 66 yang melarang ajaran Marksisme dan Leninisme di Indonesia. "PKI tidak bisa diberi ruang karena bertentangan dengan Pancasila," statement KH. YUsuf Hasyim tentang usulan Gus Dur itu.

Dalam dunia pendidikan kepesantrenan, KH. Yusuf Hasyim membuat terobosan dengan merubah sistem kepengurusan Ponpes Tebuirang menjadi lebih modern. Yakni membentuk kepemimpinan pesantren secara kolektif dengan adanya Dewan Kyai, komisi pendidikan atau Lajnah Tarbiyah wat Ta'lim serta membudayakan organisasi santri ponpes.

Perubahan itu menyempurnakan sistem pendidikan Ponpes Tebuireng yang sejak tahun 1916 sudah mulai menerapkan sistem pendidikan sekolahtik atau madrasah. Kakak KH. Yusuf Hasyim KH. Wahid Hasyim, menyempurnakan hal itu dengan mendirikan madrasah Nidzamiyah pada tahun 1934. Dalam sistem itu diajarkan berbagai pelajaran modern mulai berhitung, ilmu pengetahuan lam hingga bahasa asing.

Tahun 1947, ketika KH. Hasyim Asy'ari meninggal dunia, tampuk pimpinan Ponpes dipegang oleh KH. Wahid Hasyim. Tak lama setelah itu, ayah Gus Dur ini terpilih menjadi Menteri agama RI. Kesibukan sebagai menteri agama membuat Tebu Ireng diserahkan kepada adiknya, KH. A. Karim Hasyim dan KH. Ahmad Badlowi, kakak ipar. Kemudian berpindah tangan kepada KH. A. Kholiq Hasyim dan KH.Yusuf Hasyim. Sistem baru pun diterapkan.

Di tangan Pak Ud, Ponpes Tebuireng berkembang pesat. Tidak hanya Madrasah Ibtidaiyah, didirikan pula Tsanwiyah dan Aliyah. Agar lebih modern, dibangun lembaga pendidikan SMP dan SMA Wahid Hasyim dan Universitas Hasyim Asy'ari.

Dalam dunia politik, posisi strategis pernah diraih KH. Yusuf Hasyim sebagai anggota DPR-RI Gotong Royong mewakili kelompok NU.Tokoh yang mendirikan PPP Reformasi dan Partai Kedaulatan Umat (PKU) ini pernah terpilih sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan Pengurus ICMI Pusat.

Kini, ketika KH. Yusuf Hasyim sudah tiada, NU benar-benar terpukul. "NU benar-benar kehilangan tokoh besar, tokoh yang bersedia mengabdi pada masyarakat, tanpa diminta," kata ketua PBNU Hasyim Muzadi dalam sambutanya di sela-sela upacara pemakaman. Karenanya, Hasyim menilai harus ada upaya dari NU untuk meneruskan semangat "asli" KH. Yusuf Hasyim dan pendiri NU lainnya.

"Sekarang ini, banyak orang NU yang tidak melakukan semangat NU yang benar, seperti terseret dalam gerakan Islam Ekstrem dan Islam liberal, ini sudah beranjak dari ajaran NU," katanya. NU yang benar itu adalam sosok yang moderat. Sosok yang bisa menyelaraskan keyakinan dan toleransi.

Penolakan KH. Yusuf Hasyim pada ajaran komunisme, menurut Hasyim adalah benar. Karena komunisme mengarahkan orang kepada atheisme atau tidak percaya Tuhan. "Saya meminta ajaran menolak Komunisme harus diteruskan kepada para santri di ponpes manapun," kata Hasyim Muzadi. Agaknya, hal ini adalah pekerjaan rumah bagi KH.Solahuddin Wahid, yang saat ini menjadi pengasuh Ponpes Tebuireng. Selamat jalan Pak Ud,..

:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::

3 comments:

  1. jadi blogger juga toh

    ReplyDelete
  2. referensimu mantap, mbung...

    ReplyDelete
  3. Tombung emang mantabzz...

    ReplyDelete

Program

Program